Jakarta, CNBC Indonesia – Perubahan iklim mulai mengubah peta pertanian dunia. Kenaikan suhu, kekeringan, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan tidak hanya mengancam produksi pangan, tetapi juga mengubah wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra komoditas pertanian bernilai tinggi.
Industri wine menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampaknya. Musim panas ekstrem yang melanda Eropa tahun ini membawa gelombang panas, kekeringan, serta kebakaran hutan di sejumlah wilayah penghasil anggur.
Di kawasan Bordeaux, Prancis, salah satu pusat produksi wine dunia, kebakaran menjadi ancaman bagi perkebunan anggur.
Selain risiko kerusakan fisik, asap kebakaran juga dapat menyebabkan fenomena smoke taint, yaitu perubahan karakter rasa pada buah anggur menjadi lebih pahit, beraroma asap, atau terasa terbakar. Kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas wine dan memengaruhi permintaan terhadap produk dari wilayah terdampak.
Autumns colours are seen at a vineyard in Klosterneuburg, Austria, October 15, 2018. REUTERS/Heinz-Peter Bader Foto: Perkebunan Anggur (REUTERS/Heinz-Peter Bader)
|
Namun, tekanan terhadap industri wine bukan hanya terjadi di Eropa. Wilayah penghasil anggur utama dunia seperti Australia, California di Amerika Serikat, Chile, hingga Afrika Selatan juga menghadapi tantangan akibat perubahan kondisi iklim.
Suhu Meningkat, Wilayah Produksi Mulai Bergeser
Tanaman anggur sangat bergantung pada kondisi lingkungan tertentu, mulai dari suhu, curah hujan, hingga ketersediaan air. Perubahan kecil pada kondisi tersebut dapat memengaruhi waktu panen, tingkat kematangan buah, hingga karakter rasa yang menjadi ciri khas suatu wilayah.
The Conversation mencatat perubahan iklim telah mengubah kondisi pertumbuhan di sejumlah wilayah wine utama dunia. Studi terhadap lima kawasan wine Australia, yaitu Barossa Valley, Hunter Valley, Margaret River, Yarra Valley, dan Tamar Valley, menemukan bahwa wilayah tersebut kini menghadapi kondisi yang lebih panas dan kering dibandingkan dekade sebelumnya.
Perubahan kondisi iklim tersebut mendorong produsen wine untuk beradaptasi, termasuk dengan mencari lokasi baru yang memiliki kondisi lebih sesuai.
Beberapa wilayah produksi dapat bergeser ke daerah yang lebih dingin atau memiliki ketinggian lebih tinggi untuk mempertahankan kondisi pertumbuhan yang sebelumnya ideal.
Fenomena serupa mulai terlihat di Inggris. Perubahan suhu akibat pemanasan global membuat beberapa wilayah di Inggris kini memiliki kondisi yang lebih mendukung untuk budidaya anggur, termasuk jenis yang sebelumnya banyak tumbuh di kawasan Champagne, Prancis.
Perkembangan tersebut ikut mendorong ekspansi industri wine Inggris, meskipun di sisi lain perubahan iklim juga meningkatkan risiko bagi wilayah produksi tradisional yang semakin menghadapi suhu tinggi dan kekeringan.
Petani Anggur Mulai Beradaptasi dengan Kondisi Baru
Untuk mempertahankan produksi, petani anggur mulai melakukan berbagai strategi adaptasi.
Salah satunya adalah meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui sistem irigasi yang lebih presisi serta praktik budidaya yang membantu menjaga kelembapan tanah. Produsen juga mulai mengganti varietas anggur dengan jenis yang lebih tahan terhadap suhu tinggi.
A grape picker harvests grapes of Pinot Noir to produce Cremant, a sparkling wine of the Alsace region, at the Lang vineyard in Wolxheim near Strasbourg, France, August 28, 2018. REUTERS/Vincent Kessler Foto: Ilustrasi petani Anggur (REUTERS/Vincent Kessler)
|
Di Chile, misalnya, beberapa wilayah mulai mempertimbangkan varietas anggur yang lebih mampu beradaptasi dengan kondisi panas dibandingkan jenis yang sebelumnya banyak ditanam.
Namun, adaptasi juga memiliki batas. Jika suhu terus meningkat, beberapa wilayah yang selama ini menjadi pusat produksi dapat kehilangan kondisi iklim yang mendukung pertumbuhan tanaman tertentu.
Karena itu, peneliti menilai pengurangan emisi gas rumah kaca tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian dalam jangka panjang.
Bagaimana dengan Pertanian Buah Indonesia?
Meski Indonesia tidak memiliki industri wine sebesar negara-negara produsen anggur dunia, sektor pertanian tropis juga menghadapi tantangan serupa akibat perubahan iklim.
Indonesia memiliki berbagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi, seperti pisang, mangga, nanas, durian, hingga berbagai buah tropis lainnya. Dengan skala produksi yang besar, kemampuan sektor buah nasional untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim menjadi semakin penting.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi buah Indonesia didominasi oleh sejumlah komoditas utama. Pisang menjadi buah dengan produksi terbesar nasional, mencapai sekitar 9,8 juta ton, disusul nanas sebesar 3,2 juta ton dan mangga sekitar 3 juta ton.
Sementara itu, anggur masih menjadi komoditas dengan produksi yang relatif kecil dibandingkan buah tropis utama lainnya, dengan produksi sekitar 21 ribu ton. Meski demikian, perubahan iklim tetap menjadi perhatian bagi seluruh sektor hortikultura karena dapat memengaruhi produktivitas, kualitas hasil panen, serta kondisi budidaya.
BMKG juga menekankan pentingnya informasi iklim dalam mendukung pertanian adaptif, mulai dari penentuan waktu tanam hingga pengelolaan risiko kekeringan dan cuaca ekstrem.
Sustainable Fruit Farming Jadi Kunci Adaptasi
Perubahan iklim membuat sektor pertanian tidak hanya dituntut menjaga produksi, tetapi juga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Salah satu pendekatan yang berkembang adalah sustainable fruit farming atau pertanian buah berkelanjutan, yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga membantu menjaga produktivitas dan ketahanan usaha petani.
Riset yang didukung NordForsk menyoroti sejumlah solusi berbasis sains untuk produksi buah dan beri berkelanjutan, mulai dari peningkatan kesehatan tanah, pengelolaan air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan keanekaragaman hayati. Praktik seperti penggunaan tanaman penutup (cover crops), peningkatan bahan organik tanah, dan irigasi yang lebih presisi dapat membantu menjaga kelembapan tanah serta mengurangi tekanan terhadap tanaman saat menghadapi kekeringan atau suhu ekstrem.
Dari sisi bisnis, praktik berkelanjutan juga dapat membantu petani menekan biaya melalui efisiensi penggunaan air, pengurangan limbah, dan penggunaan input yang lebih tepat.
Di tengah meningkatnya perhatian pasar global terhadap rantai pasok yang ramah lingkungan, kemampuan beradaptasi melalui teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan menjadi semakin penting untuk menjaga daya saing industri buah dalam jangka panjang.
(slm/slm)


Leave a comment