
Jakarta, CNBC Indonesia – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah tajam pada 2026. Jumlah perusahaan yang melantai menyusut, sementara nilai penggalangan dananya turun lebih dalam.
Terbaru, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, hingga 9 October 2026 tercatat ada sembilan perusahaan yang berencana akan melantai di pasar modal dengan melakukan pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di BEI.
Adapun klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline antara lain, sebanyak dua Perusahaan beraset skala kecil atau di bawah Rp50 miliar, empat perusahaan aset skala menengah beraset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan tiga perusahaan aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.
Baca:
Berdasarkan rincian sektornya antara lain, satu perusahaan dari sektor material dasar, dua perusahaan dari sektor energi, satu perusahaan dari sektor keuangan, empat perusahaan dari sektor kesehatan, dan satu perusahaan dari sektor industri.
Berdasarkan laporan BEI per 9 Oktober 2026, baru tujuh perusahaan yang mencatatkan saham perdananya dengan total dana sekitar US$120,9 juta. Sebagai pembanding, laporan BEI per 26 September 2025 mencatat 23 IPO dengan penggalangan dana US$842,3 juta.
Dengan tanggal laporan tersebut, jumlah IPO Indonesia turun 69,6%, sedangkan dana yang dihimpun merosot 85,6%. Artinya, perlambatan terlihat pada jumlah transaksi sekaligus ukuran penawarannya. Rata-rata dana per IPO turun dari sekitar US$36,6 juta menjadi US$17,3 juta.
Pada 2025, penggalangan dana ditopang sejumlah emiten besar, termasuk Merdeka Gold Resources, Chandra Daya Investasi, Bangun Kosambi Sukses, dan Yupi Indo Jelly Gum. Tahun ini, transaksi dengan ukuran serupa belum muncul dalam daftar IPO Indonesia.
Namun, perkembangan pasar pembanding Asia menunjukkan arah berbeda. Malaysia membukukan kenaikan nilai penawaran, China daratan diperkirakan mencatatkan lonjakan dana IPO, sementara India menghimpun dana lebih besar meskipun jumlah transaksinya berkurang.
Perbedaan ukuran transaksi juga terlihat dari lima penawaran terbesar di bursa-bursa pembanding. Dalam cakupan review Januari-September 2026, kelimanya menghimpun sekitar US$27,58 miliar. Meski periode dan definisi transaksi antar pasar berbeda, angka tersebut menunjukkan besarnya peran penawaran jumbo terhadap capaian penggalangan dana.
Pada tiga laporan pembanding, jumlah IPO Indonesia menurun dari 36 perusahaan pada 2024 menjadi 23 perusahaan pada 2025, kemudian tujuh perusahaan pada 2026.
Perkembangan dananya sempat berlawanan dengan jumlah transaksi. Pada 2025, nilai penggalangan dana meningkat sekitar 177,7% dibandingkan laporan pembanding 2024, meskipun perusahaan yang melantai lebih sedikit.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah IPO saja belum cukup untuk menggambarkan kekuatan penggalangan dana. Beberapa transaksi besar dapat mengangkat total dana secara signifikan.
Pada 2026, rata-rata nilai penawaran turun 52,8% dibandingkan 2025. Penurunan dana menjadi lebih dalam karena jumlah perusahaan yang melantai juga berkurang hampir 70%.
Realisasi tujuh IPO baru mencapai 14% dari target BEI sebanyak 50 perusahaan sepanjang 2026. Sementara itu, sembilan calon emiten berada dalam antrean pencatatan saham per 9 Oktober, meningkat dari tujuh perusahaan pada laporan pekan sebelumnya.
Pipeline tersebut membuka peluang tambahan pencatatan. Namun, besarnya dana yang dapat dihimpun tetap bergantung pada ukuran penawaran dan realisasi transaksi masing-masing calon emiten.
Tujuh IPO Indonesia pada 2026
Pencatatan saham perdana tahun ini terkonsentrasi pada April dan Juli. Berdasarkan daftar Datawrapper yang bersumber dari e-IPO, enam dari tujuh perusahaan melantai pada Juli.
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) menjadi penawaran terbesar dengan nilai sekitar US$34,14 juta. Berikutnya adalah PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) sebesar US$24,02 juta.
Rincian mengikuti tabel Datawrapper bersumber dari e-IPO. Subtotal dihitung sebelum pembulatan setiap baris. Untuk perbandingan tahunan, artikel memakai agregat BEI sebesar US$120,9 juta.
Dengan penawaran terbesar masih di bawah US$35 juta, capaian 2026 berbeda dari tahun sebelumnya yang memiliki beberapa transaksi di atas US$100 juta.
Empat Emiten Besar Menopang Dana IPO 2025
Pada 2025, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatatkan nilai penawaran terbesar dalam daftar, sekitar US$260,81 juta.
Berikutnya adalah PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sebesar US$132,74 juta, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) US$128,82 juta, serta PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) US$114,30 juta.
Keempatnya menyumbang sekitar 75,6% dari subtotal nilai penawaran dalam daftar IPO 2025. Besarnya konsentrasi tersebut menjelaskan mengapa dana dapat meningkat tajam meskipun jumlah IPO lebih sedikit dibandingkan laporan pembanding 2024.
Subtotal mengikuti nominal pada tabel Datawrapper dan dihitung sebelum pembulatan setiap baris. Agregat BEI untuk perbandingan tahunan sebesar US$842,3 juta.
Pengalaman 2025 memperlihatkan besarnya pengaruh transaksi jumbo. Ketika jumlah IPO dan ukuran penawaran sama-sama mengecil pada 2026, total penggalangan dana ikut turun tajam.
Malaysia dan China Menguat, Thailand serta Korea Melemah
Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, China, India, dan Korea Selatan termasuk emerging markets MSCI. Singapura dan Hong Kong merupakan developed markets, sementara Vietnam masih frontier market MSCI.
Ketiganya dimasukkan sebagai pembanding tambahan. Dengan rata-rata data hingga September 2026 dengan negara yang dibintang hanya mencapai semester pertama 2026.
Malaysia mencakup penawaran Main dan ACE, termasuk perpindahan papan dengan penawaran; LEAP dikecualikan dan seluruh greenshoe belum direkonsiliasi. China memakai estimasi Deloitte. Dana pembanding India dihitung dari pertumbuhan yang dilaporkan sumber.
Jumlah Hong Kong merupakan pencatatan baru versi HKEX, termasuk perpindahan papan dan de-SPAC pada pembanding 2025. Kolom dananya menggunakan statistik IPO resmi HKEX.
Malaysia membukukan kenaikan dana 39,3% menjadi sekitar US$1,49 miliar. Jumlah penawaran dalam cakupan Main dan ACE meningkat dari 37 menjadi 40 transaksi.
China daratan diperkirakan mencatatkan lonjakan dana 175% menjadi US$31,73 miliar, dengan jumlah IPO naik dari 78 menjadi 122.
Hong Kong menghimpun US$49,43 miliar, meningkat 106,1%. Pencatatan saham H perusahaan yang sebelumnya telah memiliki saham A menjadi salah satu pendorong utama dalam analisis Deloitte.
India menunjukkan bahwa penurunan jumlah IPO tidak selalu diikuti penurunan dana. Jumlah transaksi berkurang dari 268 menjadi 220, tetapi dana meningkat 11,3% menjadi US$12,5 miliar.
Sebaliknya, dana IPO Thailand turun 66,9%, sedangkan Korea Selatan turun 52,1%. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pasar pembanding Asia bergerak dengan arah berbeda.
Singapura Pulih, Vietnam Naik Kelas di FTSE
Dana IPO Singapura meningkat dari US$4,7 juta menjadi US$873,7 juta pada semester pertama. Persentase kenaikannya sangat besar karena nilai pembanding 2025 rendah.
Dalam laporan September, Singapura telah mencatatkan delapan pencatatan baru. Nilai penawaran delapan transaksi tersebut sekitar US$1,10 miliar pada benchmark kurs yang sama.
Vietnam mencatatkan empat transaksi senilai US$839 juta dalam cakupan laporan semester pertama Deloitte. Namun, penyelesaian penawaran dan perdagangan perdananya tidak seluruhnya berada pada semester yang sama. Angka ini belum menjadi total hingga September.
Vietnam juga telah memperoleh status secondary emerging market FTSE Russell, efektif mulai 21 September 2026. Pemasukan ke indeks dilakukan bertahap hingga September 2027.
Perubahan tersebut belum mengubah klasifikasi Vietnam sebagai frontier market MSCI.
Sementara itu, Filipina belum mencatatkan IPO dalam cakupan semester pertama 2026, dibandingkan satu transaksi tahun sebelumnya. Data tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa aktivitas hingga September juga nihil.
Lima Penawaran Terbesar Capai US$27,58 Miliar
Dalam cakupan review Januari-September Deloitte, lima penawaran terbesar di bursa-bursa pembanding berasal dari perusahaan China. Dua berlangsung di China daratan dan tiga di Hong Kong.
Peringkat mengikuti cakupan review Deloitte dan nominal pengumuman transaksi, termasuk greenshoe yang telah dilaksanakan. Penawaran perusahaan Asia di bursa Amerika Serikat dikecualikan. Total dihitung sebelum pembulatan setiap baris.
CXMT menjadi transaksi terbesar, disusul Zhongji InnoLight. China Resources New Energy menjadi satu-satunya perusahaan energi dalam daftar, sementara Luxshare dan Victory Giant melengkapi dominasi teknologi serta manufaktur elektronik.
Empat perusahaan teknologi dan elektronik menyumbang sekitar 86,7% dari nilai lima penawaran tersebut. Dana IPO CXMT sendiri sekitar 82 kali total dana tujuh IPO Indonesia.
Sepi IPO, Sejumlah Penawaran Tetap Diminati
Meski aktivitas IPO Indonesia melemah, beberapa penawaran masih mencatatkan permintaan tinggi.
PRDL mengalami oversubscription 709,93 kali, sedangkan JELI mencapai 273,37 kali pada porsi penjatahan terpusat. RANS juga dilaporkan menarik lebih dari satu juta SID dalam antrean pemesanan.
Namun, rasio pooling dipengaruhi jumlah saham yang tersedia. Tingginya permintaan pada beberapa penawaran belum cukup untuk menilai kemampuan seluruh pasar menyerap IPO besar.
Pelemahan Indonesia terlihat dari berkurangnya transaksi dan mengecilnya rata-rata nilai penawaran. Sejumlah pasar pembanding justru ditopang transaksi jumbo, sehingga penurunan tersebut tidak terjadi secara merata.
Perbandingan ini belum cukup untuk menetapkan penyebab perlambatan Indonesia. Namun, pengalaman 2025 menunjukkan bahwa munculnya beberapa penawaran besar dapat mengubah capaian penggalangan dana secara signifikan.
Nilai dana dalam artikel mengikuti penawaran bruto sesuai cakupan sumber. Sebagian transaksi mencakup penjualan saham pemegang saham lama, sehingga tidak seluruhnya menjadi dana baru bagi perusahaan.
–
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Leave a comment