
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten hotel mewah PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) bersiap menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) II atau rights issue senilai Rp1,54 triliun. Dalam aksi korporasi ini, Hapsoro menyatakan siap menjadi pembeli siaga yang menampung saham yang tidak diambil pemegang saham lain.
BUVA menawarkan 6.154.263.660 saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham, atau sekitar 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue. Harga pelaksanaan dipatok Rp250 per saham, sehingga dana yang dihimpun mencapai Rp1.538.565.915.000.
Setiap pemegang 4 saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 15 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB berhak atas 1 HMETD. Setiap HMETD memberi hak membeli 1 saham baru. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya akan terdilusi maksimal 20%.
Berikut jadwal sementaranya:
- Cum HMETD di pasar reguler dan negosiasi: 13 Oktober 2026
- Ex HMETD di pasar reguler dan negosiasi: 14 Oktober 2026
- Cum HMETD di pasar tunai dan DPS yang berhak: 15 Oktober 2026
- Ex HMETD di pasar tunai dan distribusi HMETD: 16 Oktober 2026
- Perdagangan dan pelaksanaan HMETD: 19-30 Oktober 2026
- Akhir pembayaran pemesanan saham tambahan: 3 November 2026
- Penjatahan saham tambahan dan pembayaran dari pembeli siaga: 4 November 2026
- Distribusi saham hasil penjatahan dan pengembalian uang pemesanan: 5 November 2026
Hapsoro Siap Tampung
Jika saham baru tidak seluruhnya diambil pemegang HMETD, sisanya lebih dulu dialokasikan kepada pemegang HMETD yang memesan saham tambahan melebihi haknya, secara proporsional. Bila setelah itu masih ada sisa, empat pembeli siaga wajib membelinya pada harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Perjanjian Pembelian Siaga ini dibuat pada 27 Juli 2026, lalu diubah pada 21 Agustus dan 1 Oktober 2026. Para pembeli siaga dan komitmen maksimumnya:
- Hapsoro: 389.038.738 saham atau Rp97,26 miliar
- Ferry Sudjono: 1.311.216.321 saham atau Rp327,80 miliar
- PT Henan Putihrai Sekuritas: 400.000.000 saham atau Rp100 miliar
- PT Tata Tirta Datun (TTD): 1.606.350 saham atau Rp401,59 juta
Jika sisa saham lebih kecil dari total komitmen, pembagiannya dilakukan secara proporsional sesuai komitmen maksimum masing-masing. Dalam surat pernyataan yang diteken 1 Oktober 2026, para pembeli siaga menyatakan memiliki dana yang cukup dan akan melaksanakan kewajibannya.
Dalam skenario pemegang saham lain tidak mengambil haknya, kecuali Hapsoro, Ferry Sudjono, dan TTD yang menebus seluruh HMETD-nya, kepemilikan Hapsoro naik dari 43.845.049 saham (0,18%) menjadi 443.845.049 saham (1,44%). Ferry Sudjono naik dari 0,66% menjadi 4,92%, TTD dari 3,94% menjadi 4,87%, dan Henan Putihrai Sekuritas masuk dengan 1,30%.
Pengendali Tebus Sebagian
Pemegang saham utama sekaligus pengendali, PT Nusantara Utama Investama (NUI), memiliki 15.034.031.772 saham atau 61,07% dan akan menerima 3.758.507.943 HMETD. Berdasarkan surat pernyataan 21 Agustus 2026, NUI akan menebus sebagian, yakni 3.474.507.943 HMETD, dan mengalihkan 284.000.000 HMETD ke TTD. TTD berkomitmen menebus seluruh HMETD yang dialihkan tersebut. Dengan skema itu, seluruh HMETD milik NUI terserap.
Setelah rights issue, porsi NUI diperkirakan turun tipis menjadi 60,15%. Tidak ada pemegang saham publik yang memiliki 5% atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung.
Adapun dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai (BBP) paling lambat kuartal IV-2026 sebesar Rp426,34 miliar. Sebanyak Rp199,26 miliar akan dipakai BBP mengambil alih saham PT Royal Uluwatu Residence (RUR) paling lambat Desember 2026, dan Rp227,08 miliar untuk penyertaan modal di RUR guna pengembangan kawasan West Resort di Uluwatu, Bali, yang ditargetkan selesai paling lambat kuartal IV-2029.
Kemudian Rp417,8 miliar digunakan untuk pelunasan dipercepat seluruh pokok utang berdasarkan perjanjian pembiayaan dengan Bank Mandiri. Rp150 miliar untuk renovasi menyeluruh Alila Ubud, yang ditargetkan rampung paling lambat kuartal IV-2028.
Selanjutnya Rp150 miliar digunakan untuk penyertaan modal tambahan di PT Bukit Lagoi Villa (BLV) bagi pengembangan kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan, dengan target selesai paling lambat kuartal IV-2029.
Terakhir Rp390,34 miliar untuk penyertaan modal tambahan di PT Bukit Permai Properti guna pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate di Bali, dengan target selesai paling lambat kuartal IV-2028.
Kinerja Keuangan
Pada empat bulan pertama 2026 (hingga 30 April), BUVA membukukan pendapatan Rp96,32 miliar, turun 1,96% dibanding periode sama tahun lalu. Perseroan menyebut penurunan tamu hotel akibat faktor musiman dan konflik geopolitik di Timur Tengah. Tingkat hunian turun dari 51,18% menjadi 47,31%, tetapi rata-rata tarif kamar (average daily rate/ADR) naik 5,86% menjadi Rp5,44 juta dari Rp5,13 juta.
Perseroan mencatat rugi bersih Rp5,66 miliar, berbalik dari laba Rp73,17 miliar periode yang sama tahun lalu. Menurut manajemen, laba periode pembanding ditopang pengakuan laba entitas asosiasi Rp76,11 miliar yang terutama berasal dari penjualan aset PT Bukit Savanna Raya.
Sepanjang 2025, pendapatan BUVA naik 5,72% menjadi Rp375,58 miliar, dengan laba bersih Rp195,15 miliar dibanding Rp9,74 miliar pada 2024. Lonjakan laba terutama berasal dari keuntungan pembelian diskon Rp120,58 miliar atas akuisisi PT Bukit Permai Properti dan laba dari entitas asosiasi.
Per 30 April 2026, total aset BUVA mencapai Rp2,71 triliun, dengan liabilitas Rp569,31 miliar dan ekuitas Rp2,14 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas berada di 26,57%, jauh di bawah batas 150% dalam perjanjian kredit. Namun rasio cakupan utang (DSCR) perseroan tercatat 83,46%, di bawah persyaratan perjanjian kredit investasi yang mensyaratkan di atas 100%. Dokumen tidak memberikan penjelasan atas hal ini.
BUVA mengelola tiga hotel berbendera Alila, yakni Alila Villas Uluwatu, Alila Ubud, dan Alila Manggis.
(fsd/fsd)
Leave a comment