Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal III-2026. Aktivitas penyewaan ruang kantor meningkat, bahkan permintaan sepanjang tahun ini diproyeksikan mencapai 198.555 meter persegi (m²). Meski demikian, tingkat kekosongan kantor masih tergolong tinggi sehingga muncul istilah ‘perkantoran hantu’.
Colliers Indonesia mencatat tingkat hunian gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta mencapai sekitar 76,3% pada kuartal III-2026. Artinya, masih terdapat sekitar 23,7% ruang kantor yang belum terisi.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, pola permintaan ruang kantor mulai mengalami perubahan setelah beberapa tahun terakhir didominasi oleh efisiensi ruang dan relokasi perusahaan.
“Setelah beberapa tahun didominasi oleh penyesuaian kebutuhan ruang, kini mulai terlihat sejumlah perusahaan yang melakukan ekspansi, di samping aktivitas relokasi dan perpindahan ke gedung dengan kualitas lebih baik,” ujar Ferry dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (6/11/2026).
Munculnya kebutuhan tambahan ruang kantor untuk mendukung ekspansi bisnis menjadi sinyal positif bagi pasar perkantoran Jakarta. Namun, kondisi tersebut belum bisa menjadi gambaran bahwa seluruh pasar sudah pulih karena sebagian besar transaksi masih berupa perpindahan penyewa dari satu gedung ke gedung lainnya.
Ilustrasi Gedung Perkantoran di Jakarta, Senin (12/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi Gedung Perkantoran di Jakarta, Senin (12/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
|
“Hal yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah kebutuhan ekspansi tersebut akan semakin meluas sehingga mampu mendorong penyerapan bersih ruang kantor secara berkelanjutan,” katanya.
Colliers memperkirakan tingkat kekosongan ruang kantor Jakarta akan berangsur turun dalam beberapa tahun mendatang. Dari posisi 25,7% pada akhir 2026, tingkat kekosongan diproyeksikan menyusut menjadi 21,1% pada 2029.
Penurunan tersebut menunjukkan prospek perbaikan pasar perkantoran, meskipun ruang kosong masih akan menjadi tantangan bagi pemilik gedung. Apalagi, peningkatan aktivitas penyewaan belum sepenuhnya mencerminkan penambahan permintaan baru karena sebagian transaksi hanya memindahkan penyewa yang sudah ada.
“Pemulihan pasar secara keseluruhan masih belum merata. Gedung dengan kualitas lebih tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik, sementara gedung lainnya masih menghadapi persaingan untuk mendapatkan penyewa,” jelas Ferry.
Colliers menilai pasar perkantoran Jakarta masih berpeluang membaik secara bertahap hingga 2027. Namun, keberlanjutan pemulihan akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk kembali menambah kebutuhan ruang, bukan sekadar melakukan relokasi atau mengoptimalkan luas kantor yang sudah digunakan.
(fys/wur)

Leave a comment