
Jakarta, CNBC Indonesia – Kebanyakan remaja seusianya sibuk memikirkan kuliah atau liburan. Namun Mike Satterlee justru memulai perjalanan yang mengubah hidupnya dari ruang bawah tanah rumah orang tuanya. Bermodal mesin cetak 3D sederhana yang dibeli seharga Rp 7,5 juta, pemuda berusia 19 tahun ini kini meraup pendapatan hingga Rp 12,3 miliar dalam setahun, dikutip Kamis (15/10/2026).
Saat duduk di bangku kelas satu SMA, Mike mengikuti pelajaran desain. Di sanalah ia pertama kali menyentuh mesin cetak 3D. Ia terpesona, sesuatu yang ia bayangkan di layar komputer bisa berwujud nyata di tangannya.
Uang tabungan hadiah ulang tahun yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun akhirnya dipakai untuk membeli mesin cetak 3D pertamanya. Pada September 2022, mesin itu tiba di rumahnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai mencetak benda-benda kecil di ruang bawah tanah: mainan, hiasan, barang yang dibutuhkan teman-temannya.
Awalnya ia mencoba menjual aksesori sepatu bernama Solefully. Produk itu berjalan, tetapi belum meledak. Ia terus bereksperimen, mencetak berbagai benda, membagikan ke teman, memposting di media sosial hingga satu desain mengubah segalanya.
Ia mulai memproduksi kantung kaleng minuman (koozies) yang bisa memuat dua kaleng sekaligus yang terbuka di bagian atas dan bawah.
Saat ia membagikan foto produk itu di Instagram, pesanan datang membanjir. Enam minggu penuh ia harus bekerja hampir tanpa henti untuk memenuhi permintaan. Itulah momen yang mengubah segalanya.
Pendapatan perlahan naik. Setiap keuntungan yang masuk tidak ia habiskan untuk gaya hidup. Karena masih tinggal bersama orang tua, Mike hanya mengambil uang saku secukupnya, sisanya diputar kembali untuk membeli mesin tambahan.
Bisnisnya kemudian terus berkembang:
- Awal 2024 – menyewa gudang seluas 280 meter persegi
- Akhir 2024 – pendapatan mencapai Rp 3,8 miliar
- Pertengahan 2025 – satu bulan meraup Rp 1,5 miliar
- Kini – mengoperasikan 160 mesin cetak 3D sekaligus, dibantu satu orang staf tetap
Ia memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Bukan karena meremehkan pendidikan, melainkan karena peluang yang ada di depan matanya bergerak terlalu cepat untuk ditunda.
Belajar dari Bisnis Satterlee
Bagi yang ingin mengikuti jejaknya, berikut uraian langkah yang diambil Mike dari nol hingga berhasil:
Langkah 1: Mulai dari apa yang sudah ada
- Belajar dasar pencetakan 3D dari pelajaran sekolah & tutorial YouTube
- Beli mesin termurah yang berfungsi baik – modal awal Rp 7,5 juta sudah cukup
- Pasang di rumah, tidak perlu sewa tempat dulu
Langkah 2: Cari produk yang benar-benar dibutuhkan
- Coba banyak ide, amati mana yang paling disukai orang
- Fokus pada barang yang solutif – memudahkan kehidupan sehari-hari
- Daftarkan hak cipta/paten agar desain tidak ditiru sembarangan
Langkah 3: Manfaatkan media sosial sebagai etalase
- Posting proses pembuatan, hasil jadi, dan tanggapan pembeli
- Mulai dari Instagram, lalu perluas ke TikTok Shop & Amazon
- Biarkan produk yang berbicara – pemasaran mulut ke mulut paling ampuh
Langkah 4: Putar kembali keuntungan, jangan boros
- Ambil kebutuhan pokok saja, sisa belikan alat produksi tambahan
- Tambah mesin secara bertahap seiring naiknya pesanan
- Baru sewa tempat setelah produksi tidak muat di rumah
Langkah 5: Bertumbuh perlahan tapi pasti
- Tambah karyawan saat pekerjaan sudah tidak sanggup dikerjakan sendiri
- Cari mitra pabrikasi untuk bagian yang bisa dikerjakan massal
- Kembangkan desain baru agar pelanggan selalu kembali
(dem/dem)
Leave a comment