Home Finance Catat! 5 Aplikasi Android Populer Ini Tak Direkomendasikan Ahli
Finance

Catat! 5 Aplikasi Android Populer Ini Tak Direkomendasikan Ahli

Share
Catat! 5 Aplikasi Android Populer Ini Tak Direkomendasikan Ahli
Share



Daftar Isi



Jakarta, CNBC Indonesia – Jumlah unduhan di Google Play Store sering menjadi patokan pengguna sebelum memasang aplikasi. Namun, angka tersebut ternyata tidak menjadi jamin sebuah aplikasi aman atau layak digunakan.

Seorang ahli Android menilai ada sejumlah aplikasi populer yang sebaiknya dihindari pengguna. Alasannya beragam, mulai dari masalah privasi dan keamanan hingga fungsi yang sebenarnya sudah tersedia secara bawaan di sistem operasi Android.

“Angka unduhan yang Anda lihat di daftar aplikasi Play Store adalah cara yang buruk untuk menilai apakah sebuah aplikasi layak dipasang,” tulis Pankil Shah Hardware Engineer di Cisco Systems, dikutip dari Android Authority, Sabtu (18/7/2026).

Ia menegaskan, bukan berarti semua aplikasi populer merupakan aplikasi yang buruk. Namun, sejumlah aplikasi tetap tidak direkomendasikan karena dapat menimbulkan risiko privasi dan keamanan atau menawarkan fitur yang sebenarnya sudah bisa ditangani Android.

Berikut lima aplikasi Android yang disarankan untuk dihindari meski telah diunduh jutaan hingga miliaran kali:

1. Turbo VPN

Turbo VPN menjadi salah satu aplikasi VPN paling populer di Google Play Store dengan lebih dari 500 juta unduhan. Aplikasi ini gratis dan menawarkan fungsi VPN seperti yang diharapkan pengguna.

Namun, layanan VPN gratis hampir selalu memiliki konsekuensi. Selain iklan yang mengganggu, Turbo VPN juga memiliki rekam jejak yang dinilai kurang baik.

Selama bertahun-tahun, muncul sejumlah laporan terkait praktik pengelolaan data yang dipertanyakan serta hubungan dengan entitas berbasis di China.

Menurut Pankil, Turbo VPN bukan satu-satunya contoh. Sebagian besar layanan VPN gratis dengan data tak terbatas juga patut dicermati karena pengoperasian layanan VPN membutuhkan biaya besar.

Meski VPN digunakan untuk meningkatkan privasi pengguna, tapi memilih layanan VPN gratis seperti Turbo VPN justru berpotensi mengorbankan privasi tersebut.

Jika pengguna tetap ingin menggunakan VPN gratis, ia menyarankan memilih layanan yang telah beroperasi selama beberapa tahun dan memiliki rekam jejak yang kuat, seperti Proton VPN.

2. LastPass

Aplikasi pengelola kata sandi sangat bergantung pada kepercayaan pengguna. LastPass sebelumnya menjadi salah satu nama besar yang banyak digunakan oleh pengguna maupun pakar keamanan.

Namun, sejumlah insiden keamanan dalam beberapa tahun terakhir membuat aplikasi tersebut semakin sulit direkomendasikan.

Masalah terbesar LastPass berkaitan dengan rekam jejak keamanannya. Pada 2022, peretas berhasil mencuri data pelanggan dan memperoleh akses ke arsitektur keamanan LastPass.

Memang, tidak ada aplikasi pengelola kata sandi yang sepenuhnya kebal dari serangan siber. Namun, insiden pada 2022 bukanlah kejadian yang berdiri sendiri.

Selain itu, saat ini tersedia banyak aplikasi pengelola kata sandi lain yang dinilai lebih baik. Salah satunya Bitwarden yang bersifat open-source dan menawarkan biaya berlangganan sekitar US$20 per tahun.

3. Truecaller

Truecaller menawarkan solusi untuk masalah yang hampir dialami semua pengguna ponsel, yakni panggilan dari nomor tidak dikenal.

Aplikasi ini dapat mengidentifikasi penelepon, memblokir spam, dan membantu pengguna menghindari panggilan telemarketing. Truecaller dapat melakukan hal tersebut karena membangun basis data besar dari informasi yang diberikan penggunanya.

Aplikasi ini bahkan telah mencatat lebih dari 1 miliar unduhan di Google Play Store dan juga tersedia di iOS.

Namun, terdapat persoalan privasi yang perlu diperhatikan. Ketika mendaftar ke Truecaller, pengguna tidak hanya membagikan informasi miliknya sendiri. Data orang-orang yang ada di dalam daftar kontak juga berpotensi masuk ke dalam basis data aplikasi.

Artinya, seseorang yang bahkan tidak pernah menggunakan atau mendengar tentang Truecaller tetap dapat memiliki nama dan nomor teleponnya tercantum di basis data tersebut.

Selain itu, Truecaller meminta banyak izin akses. Aplikasi ini dapat meminta akses ke kontak, riwayat panggilan, pesan, lokasi, file, foto, video, dan audio.

“Masalah terbesar saya dengan Truecaller adalah banyaknya izin aplikasi yang dimintanya,” kata Pankil.

Menurutnya, sebagian izin tersebut memang bersifat opsional. Namun, banyaknya akses yang diminta tetap menimbulkan kekhawatiran.

Di sisi lain, fungsi Truecaller juga dinilai semakin tidak terlalu dibutuhkan. Android kini sudah memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menangani panggilan dan pesan spam.

4. CCleaner

CCleaner merupakan aplikasi populer yang menawarkan fitur untuk membersihkan file sampah dan data yang tidak diperlukan. Aplikasi ini juga dapat mendeteksi aplikasi yang menggunakan terlalu banyak sumber daya.

Namun, ponsel Android modern sebenarnya sudah mampu melakukan sebagian besar fungsi tersebut tanpa aplikasi tambahan.

Pengguna dapat melihat aplikasi yang menguras baterai atau menggunakan terlalu banyak data seluler melalui menu pengaturan Android.

Google juga menyediakan aplikasi Files yang memiliki fitur pembersihan untuk menghapus file sampah, foto duplikat, tangkapan layar lama, hingga aplikasi yang tidak digunakan.

Berbeda dari CCleaner, fitur tersebut tersedia secara gratis.

“CCleaner bukan aplikasi yang buruk, tetapi aplikasi ini menyelesaikan masalah yang sebenarnya tidak perlu diselesaikan,” tulisnya.

Ia juga mengkritik cara CCleaner yang dinilai terlalu agresif dalam menawarkan layanan berlangganan untuk mengakses sejumlah fitur tambahan.

5. AVG AntiVirus & Security

Aplikasi antivirus seperti AVG AntiVirus & Security mudah ditemukan di Google Play Store. Selain menawarkan perlindungan dari malware, aplikasi semacam ini biasanya menyediakan fitur tambahan seperti perlindungan privasi, pengunci aplikasi, pemeriksaan keamanan Wi-Fi, hingga optimasi kinerja.

Namun, sebagian besar fitur tersebut dinilai tidak terlalu diperlukan di perangkat Android modern.

Android sudah memiliki sejumlah fitur keamanan bawaan. Bahkan, sebagian besar fitur penting tersebut telah aktif secara default.

Salah satunya adalah Google Play Protect yang terus memindai aplikasi di ponsel, termasuk aplikasi yang dipasang dari luar Play Store, untuk mendeteksi perilaku berbahaya.

Jika menemukan sesuatu yang mencurigakan, sistem dapat memberikan peringatan dan bahkan menghapus aplikasi secara otomatis.

Android juga memiliki fitur Safe Browsing yang memindai tautan berbahaya secara real time untuk melindungi pengguna dari virus dan penipuan phishing.

“AVG dan sebagian besar aplikasi antivirus Android lainnya hanya menggandakan fitur yang sudah ada, dan yang lebih buruk, mengenakan biaya untuk fitur tersebut,” tegasnya.

Selama pengguna mengunduh aplikasi dari Play Store dan tidak menonaktifkan fitur keamanan bawaan Android, risiko ponsel terinfeksi malware secara umum dapat diminimalkan.

 

(luc/luc)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *