
Jakarta, CNBC Indonesia – Gurun Taklamakan telah dikenal sebagai salah satu bentang alam yang paling keras di Asia. Berada di wilayah Xinjiang, Tiongkok, gurun ini memiliki ciri-ciri berupa gundukan pasir yang luas, curah hujan yang rendah, dan kondisi yang menyisakan sedikit ruang bagi kehidupan tumbuhan.
Namun, tepi gurun yang luas ini telah berubah perlahan, hampir tanpa suara. Deretan hutan pelindung, semak-semak, dan vegetasi yang dipulihkan secara bertahap menyebar di area yang dulunya didominasi oleh pasir kosong. Hal ini menandakan bahwa upaya ambisius untuk memperlambat perluasan gurun telah berkembang menjadi sesuatu yang memiliki signifikansi lingkungan yang lebih luas.
Dilansir dari The Times of India, pengamatan satelit terbaru menunjukkan bahwa sebagian dari lanskap yang telah dipulihkan ini menyerap lebih banyak karbon dioksida dari atmosfer daripada yang dilepaskannya. Kondisi ini menawarkan contoh langka reboisasi kembali skala besar di tepi gurun yang menghasilkan manfaat iklim yang terukur dalam kondisi yang sangat spesifik.
Sebagaimana dilaporkan oleh Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial, China memulai Program Sabuk Pelindung Tiga Utara pada tahun 1978 untuk mengatasi penggurunan yang semakin meluas di seluruh wilayah utara negara tersebut. Sering disebut sebagai “Tembok Hijau Besar”, proyek ini membentang di beberapa provinsi dan bertujuan untuk mengurangi erosi angin, menstabilkan pasir yang bergeser, sekaligus melindungi lahan pertanian serta permukiman dari perluasan gurun.
Ketimbang mencoba memenuhi gurun itu sendiri dengan hutan, para perencana memusatkan perhatian pada bagian tepinya, di mana vegetasi yang dipilih dengan cermat dapat bertahan hidup dengan irigasi dan menyediakan penghalang pelindung terhadap pasir yang tertiup angin. Selama bertahun-tahun, strategi ini berkembang menjadi jaringan luas berupa penanaman pohon, semak, dan sabuk pelindung di sekitar sebagian wilayah gurun.
Asal tahu saja, studi yang diterbitkan di PNAS, berjudul “Penyerapan Karbon Biosfer yang Diinduksi manusia: Dampak dari Proyek Penghutanan Taklamakan” mengungkapkan bahwa bukti terbaru berasal dari pengamatan yang dilakukan menggunakan Fluoresensi yang Diinduksi Matahari, atau SIF.
Berdasarkan studi tersebut, selama proses fotosintesis, tumbuhan melepaskan sinyal lemah di bagian spektrum inframerah dekat. Sinyal ini tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tetapi satelit mampu mendeteksinya dari luar angkasa.
Dengan melacak fluoresensi ini dari waktu ke waktu, para ilmuwan dapat memperkirakan seberapa aktif vegetasi menyerap karbon dioksida. Alih-alih hanya mengandalkan pengukuran di lapangan, pendekatan ini memberikan gambaran luas di lanskap terpencil di mana pemantauan lapangan reguler akan sulit dilakukan.
Akhirnya, terdapat aktivitas fotosintesis di sekitar area yang dipugar di perbatasan Taklamakan. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa vegetasi berfungsi sebagai penyerap karbon, sehingga menyimpan lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya dalam kondisi saat ini.
Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian tersebut menekankan bahwa efeknya tidak boleh dibandingkan dengan hutan tropis yang lebat. Tutupan vegetasi di sekitar gurun tetap relatif jarang, namun lebih menyerupai semak kering daripada hutan yang berkelanjutan.
Meski demikian, mendeteksi penyerapan karbon yang konsisten di lingkungan yang sangat kering seperti itu dianggap sebagai temuan penting bagi para ilmuwan.
Sebenarnya, keberhasilan proyek ini jauh lebih bergantung pada lanskap di sekitar gurun daripada pada pohon-pohon itu sendiri. Gurun Taklamakan sendiri dikelilingi oleh beberapa pegunungan besar, termasuk pegunungan Kunlun, Pamir, dan Tian Shan. Salju dan gletser di ketinggian ini memberi makan sungai-sungai yang mengalir ke Cekungan Tarim.
Air lelehan salju bakal mendukung sistem irigasi yang memungkinkan vegetasi yang ditanam untuk bertahan hidup meskipun iklim gurun sangat kering. Tanpa pasokan dari air lelehan salju tersebut, upaya mempertahankan penanaman skala besar akan jauh lebih sulit. Di lingkungan kering, air biasanya menentukan apakah vegetasi akan berkembang atau menghilang, terlepas dari upaya penanaman. Hal ini juga menjelaskan mengapa temuan tersebut tidak mudah diterapkan di tempat lain.
Lebih jauh, proyek serupa di daerah gurun tanpa aliran air pegunungan yang andal akan memerlukan sumber air alternatif, baik melalui desalinasi atau pengambilan air tanah, yang mana keduanya membawa keterbatasan lingkungan dan ekonomi. Proyek penghijauan skala besar seringkali mendapat perhatian sebagai solusi iklim, namun hasilnya beragam di seluruh dunia.
Kampanye penanaman pohon sebelumnya berlangsung di China Utara, namun telah menuai kritik karena banyak pohon kesulitan bertahan hidup di daerah kering. Spesies dengan kebutuhan air yang tinggi terkadang menguras cadangan air bawah tanah, sehingga menambah tekanan pada sumber daya yang sudah langka. Jika vegetasi gagal tumbuh, tanah yang terbuka dapat kembali rentan terhadap erosi.
Proyek Taklamakan tampaknya telah menghindari beberapa masalah tersebut dengan menggabungkan irigasi, lokasi penanaman yang sesuai, dan perluasan bertahap, daripada mencoba menanam hutan di seluruh gurun itu sendiri.
Meskipun demikian, keberhasilan jangka panjang tetap terkait erat dengan pasokan air pada masa depan. Sungai-sungai yang menopang sabuk pelindung ini sebagian ditopang oleh gletser. Sayangnya, gletser tersebut menyusut seiring dengan terus meningkatnya suhu. Peningkatan air lelehan mungkin untuk sementara mendukung vegetasi, tetapi seiring waktu pasokan yang tersedia dapat menurun karena cadangan es berkurang.
Menanam vegetasi pada dasarnya akan membawa dampak lebih dari sekadar jumlah karbon yang diserap. Vegetasi juga mengubah interaksi yang terjadi antara permukaan bumi dan sinar matahari.
Pasir gurun yang tidak terpecah-pecah memiliki daya pantul yang tinggi. Namun, pepohonan dan semak-semak jauh lebih gelap, sehingga memantulkan lebih sedikit sinar matahari kembali ke angkasa. Ini disebut efek albedo rendah yang telah membuat beberapa ilmuwan yang mempelajari iklim mempertanyakan apakah penghijauan gurun skala besar dapat menyebabkan pemanasan global.
Di sisi lain, vegetasi memang berperan penting dalam proses penguapan-transpirasi. Melalui proses ini, air dilepaskan ke atmosfer yang menyebabkan efek pendinginan. Ada kemungkinan bahwa keberadaan vegetasi dapat menyebabkan lebih banyak curah hujan, karena tingkat kelembapan yang lebih tinggi.
Sebagai catatan, data terkini di Taklamakan menunjukkan bahwa efek pendinginan yang dihasilkan oleh tumbuhan saat ini lebih besar daripada efek pemanasan yang disebabkan oleh keberadaan tumbuhan di daerah tersebut.
Proyek Taklamakan sebenarnya tidak menyatakan bahwa gurun dapat begitu saja diubah menjadi hutan. Proyek ini juga tidak menyatakan bahwa penanaman pohon saja dapat mengimbangi emisi gas rumah kaca global.
Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa restorasi ekologis yang direncanakan dengan cermat dapat berhasil dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan. Geografi, ketersediaan air, dan pengelolaan jangka panjang tampaknya turut menjadi unsur penting di balik hasil tersebut.
Studi ini juga menyoroti pentingnya mengukur proyek restorasi ketimbang mengasumsikan keberhasilannya. Pengamatan satelit kini memungkinkan para ilmuwan untuk memantau penyerapan karbon di bentang alam yang luas, sehingga memberikan bukti yang sulit diperoleh beberapa tahun yang lalu.
Untuk saat ini, vegetasi di sekitar Taklamakan menawarkan contoh bagaimana lahan yang terdegradasi dapat memulihkan fungsi ekologisnya ketika sumber daya alam, rekayasa, dan pengelolaan berkelanjutan selaras. Persoalan apakah kemajuan tersebut akan bertahan selama beberapa dekade mendatang akan sangat bergantung pada masa depan sistem air yang memungkinkan hal tersebut terjadi sejak awal.
(haa/haa)
Leave a comment