
Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam rangka mendorong perhatian masyarakat Indonesia terhadap keterkaitan yang penting antara isu ekonomi (termasuk pembangunan, pertumbuhan, dan industri keuangan) dan isu alam (termasuk perubahan iklim, tata guna lahan, dan transisi energi), Climate Policy Initiative (CPI) mengadakan EKONIKLIM Talkshow 2026 dengan tema “Orientasi Kebijakan Iklim Indonesia dari Perspektif Ekonomi dan Keuangan” di Wisma Habibie Ainun.
Ekonom CPI Indonesia, Albertus Prabu Siagian menuturkan bahwa meski perubahan iklim dapat menghambat pembangunan, namun dengan langkah-langkah yang tepat, proyek-proyek mitigasi perubahan iklim sebenarnya juga dapat menjadi kesempatan untuk mendorong pembangunan, lewat penciptaan lapangan pekerjaan, pengembangan inovasi teknologi, dan sumber investasi baru. Bahkan transisi energi juga sekaligus dapat meningkatkan ketahanan energi nasional.
“EKONIKLIM Talkshow 2026 hanyalah satu bagian dari inisiatif publik CPI bernama EKONIKLIM. Kami mengundang siapapun yang tertarik dengan isu-isu semacam ini untuk menonton podcast, film dokumenter, dan buku kami, yang tersedia lebih lengkap di kanal Youtube EKONIKLIM dan website CPI,” ungkap Prabu yang sekaligus menjadi produser EKONIKLIM.
Sebagaimana diketahui, perubahan iklim telah menjadi tantangan serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, dampak dari krisis iklim kini dirasakan langsung oleh masyarakat seiring meningkatnya gejala cuaca ekstrem hingga bencana hidrometeorologi di berbagai daerah di Indonesia.
Acara dibuka oleh Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, yang menjelaskan bahwa, fenomena alam tersebut merupakan konsekuensi dari tingginya emisi karbon. Hal ini yang kemudian memicu perubahan iklim dan degradasi lingkungan secara masif.
“Hari ini kita bicara mengenai permasalahan iklim. Permasalahan iklim yang hari ini tidak biasa-biasa saja. Kita kalau melihat dari tahun 1970 sampai dengan sekarang, Indonesia itu mengalami kenaikan iklim rata-rata di atas 6% per tahunnya. Dari tahun 1970 hingga sekarang, kita bisa merasakan bahwa kenaikan suhu sudah sangat drastis. Kalau ada hujan, hujannya tidak pernah biasa-biasa saja,” ungkap dia.
Eddy juga memberi contoh bahwa serangkaian bencana yang terjadi pada akhir 2025 lalu di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Jawa Barat dan Jawa Tengah merupakan dampak nyata dari perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Ia juga menyebut, perubahan iklim berdampak pada mencairnya salju di Pegunungan Jayawijaya, Papua. Saat ini, salju di sana hanya tersisa 5% dan diprediksi akan hilang sepenuhnya pada 2027 mendatang.
Lantas, di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin pelik, Indonesia mesti memperkuat komitmennya dalam menjalani agenda transisi energi. Apalagi, selain diberkahi oleh hutan tropis terbesar di dunia dan ekosistem mangrove yang melimpah, Indonesia juga kaya akan potensi energi baru terbarukan (EBT).
Dengan kekayaan sumber daya alam tersebut, Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemain utama dalam ekosistem pasar karbon. Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Ary Sudijanto menjelaskan, pengembangan pasar karbon tidak boleh mengganggu target penurunan emisi nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC). Pemerintah pun sedang menyusun peta jalan perdagangan karbon yang akan dibuat secara berdampingan dengan peta jalan pencapaian NDC.
“Jadi itu yang kemudian akan saling melengkapi untuk kita bisa memanfaatkan besar-besarnya potensi reduksi NDC karbon kita, sambil kemudian kita tetap menjaga komitmen Indonesia di dalam pencapaian NDC-nya,” terangnya.
Ary melanjutkan, terdapat tiga pilar utama dalam implementasi pasar karbon nasional. Pilar pertama adalah penguatan tata kelola karbon di setiap sektor. Dalam hal ini, masing-masing kementerian bertanggung jawab terhadap pencapaian target NDC sekaligus pengelolaan potensi perdagangan karbon.
Pilar kedua adalah penguatan infrastruktur pasar karbon. Di sini, pemerintah sudah mempunyai Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai sistem registrasi nasional serta bursa karbon sebagai wadah perdagangan karbon di pasar sekunder. SRUK akan menjadi fondasi utama pengembangan pasar karbon nasional. Melalui SRUK, pelaku usaha dapat melakukan aktivitas jual-beli unit karbon baik di pasar domestik maupun internasional.
Dengan adanya SRUK, untuk pertama kalinya Indonesia memiliki platform perdagangan karbon yang dapat diakses oleh pelaku usaha dari dalam maupun luar negeri. Nantinya, unit karbon yang diperdagangkan dapat dibeli oleh perusahaan domestik maupun pembeli dari luar negeri.
Tak ketinggalan, pilar ketiga yaitu penguatan implementasi perjanjian dalam pemanfaatan unit karbon. Upaya ini dapat dilakukan melalui skema perdagangan karbon sukarela maupun implementasi Pasal 6 Perjanjian Paris yang ditujukan supaya transaksi karbon Indonesia dapat terhubung dengan pasar internasional.
Sementara itu, Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Fajar Nuradi menyatakan bahwa Kemenko Bidang Pangan turut mengoordinasikan isu-isu perubahan iklim yang berkaitan dengan lingkungan hidup, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pertanian.
Dalam konteks pasar karbon di Indonesia, Fajar menjelaskan bahwa SRUK merupakan capaian dan menjadi satu-satunya platform untuk pencatatan dan pengolahan data unit karbon terkait dengan instrumen nilai ekonomi karbon di Indonesia.
“Kami memastikan bahwa semua instrumen nilai ekonomi karbon yang ada termasuk perdagangan karbon itu didorong untuk seluas-luasnya atau sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat,” jelas Fajar.
Selain itu, Fajar merinci banyak sektor yang memiliki potensi untuk menggelar perdagangan karbon dengan tingkat penurunan emisi lebih dari 500 juta ton CO2 ekuivalen per tahun. Tak hanya itu, potensi nilai yang didapat dari penurunan emisi tersebut mencapai US$ 5,8 miliar per tahun.
“Jadi nilai itu adalah benchmark atau dasar untuk pengukuran peta jalan. Selanjutnya, dengan potensi yang ada kita upayakan penyeimbangan untuk mengatasi gap, climate financing gap yang selama ini kita selalu gaungkan,” pungkas Fajar.
(rah/rah)
Leave a comment