
Jakarta, CNBC Indonesia – Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa menjabarkan tantangan utama hilirisasi mineral di tanah air, adalah teknologi. Selama ini mitra yang masuk pun tidak fokus pada transfer teknologi, melainkan hanya mau mengambil bahkan baku.
“Oleh karena itu, proses teknologi masih menjadi tantangan pertama, namun sebenarnya, teknologi ini gapnya tidak lagi untuk sebagian mineral, namun yang paling jauh gapnya adalah pada mineral yang berbasis untuk semikonduktor. Juga untuk beberapa mineral khusus, berarti mineral memang agak jauh, karena memang hanya negara tertinggi yang bisa menangani,” rinci Sigit dalam acara Mindialogue 2026, Rabu (12/8/2026).
Untuk mengatasi hal tersebut, Danantara mengambil langkah kemitraan strategis dengan perguruan tinggi, untuk membangun pusat riset dan pengembangan. Langkah ini juga didukung Presiden Prabowo, yang telah mengumpulkan 2.600 rektor dan dekan, yang ditawarkan 31 sampai 40 industrialisasi yang ada di Danantara. Menurutnya hal ini dilakukan agar perguruan tinggi mencari kekuatan masing-masing untuk bisa diajak berkolaborasi.
“Nah inilah yang menjadi dasar kita, agar kita bisa menutup gapnya dari perguruan tinggi. Tapi dalam kementerian strategis, kita bisa membangun resource dan juga kita membangun pengalaman dan experience agar kita bisa sukses,” pungkas Sigit.
(rah/rah)
Leave a comment