Home Finance Diam-Diam AS-Iran Mulai Negosiasi Rahasia, Sepakat Hentikan Perang?
Finance

Diam-Diam AS-Iran Mulai Negosiasi Rahasia, Sepakat Hentikan Perang?

Share
Diam-Diam AS-Iran Mulai Negosiasi Rahasia, Sepakat Hentikan Perang?
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran di New York dilaporkan tengah menjajaki jalan keluar bertahap dari perang. Skenario negosiasi rahasia ini melibatkan langkah Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz yang dibalas dengan pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran.

Mengutip Reuters, Jumat (25/09/2026), selat tersebut telah menjadi alat tawar-menawar utama dalam upaya untuk mengakhiri konflik AS-Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan. Iran saat ini mati-matian mencari bantuan dari blokade AS yang mencekik ekonominya, sementara Washington menuntut jalur bebas untuk kapal-kapal di rute pasokan minyak global yang kini diblokir oleh Teheran.

Skenario Kesepakatan Bertahap

Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa cara paling masuk akal untuk mengakhiri kebuntuan adalah melalui pengaturan bertahap. Dalam skema ini, Iran akan mengizinkan navigasi melalui Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi AS dan potensi akses Teheran ke aset-asetnya yang dibekukan.

“Satu jalan ke depan adalah menyelesaikan krisis secara bertahap. Yang pertama adalah mengakhiri blokade dan membuka kembali Hormuz,” ungkapnya di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya meyakini bahwa kesepakatan bisa dicapai setelah pemilihan paruh waktu Kongres pada 3 November mendatang. Namun, mantan negosiator AS Dennis Ross menilai hanya ada peluang 30% untuk mencapai kesepakatan sebelum pemungutan suara. Kesepakatan sebelum pemilu dinilai dapat menguntungkan Trump untuk meredakan ketegangan di Teluk dan menurunkan harga bensin AS.

“Blokade inilah yang benar-benar menekan Iran. Ini mencekik mereka,” tutur Ross.

Tarik Ulur Pengaruh dan Kekuasaan

Hambatan terbesar dalam negosiasi ini adalah tidak ada pihak yang ingin menjadi yang pertama menyerahkan pengaruhnya. Washington saat ini memegang kendali atas tekanan ekonomi, sementara Teheran mengendalikan akses ke titik sempit energi global.

Di pihak AS, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa Trump memegang semua kartu truf karena blokade sanksi telah berhasil membuat Iran bangkrut. Bulan ini, AS kembali memperketat tekanan dengan menargetkan sisa maskapai penerbangan komersial Iran beserta jaringan dukungannya. Trump bahkan memperingatkan bahwa ekonomi Iran dapat membusuk jika tidak segera mencapai kesepakatan.

Di sisi lain, sumber regional menyebut bahwa Iran bersedia mencabut tuntutan pembayaran biaya transit untuk penggunaan Selat Hormuz dari perjanjian utama dan memindahkannya ke lampiran sampingan, karena mengakhiri blokade menjadi prioritas yang lebih mendesak. Meski begitu, negara-negara Teluk dilaporkan telah menolak usulan biaya transit tersebut.

Jari di Atas Pelatuk Perang

Meskipun tengah mencari jalan keluar diplomasi, Teheran tetap bersiap menghadapi kemungkinan perang baru dengan Washington. Pejabat senior Iran menuduh AS menggunakan blokade ekonomi dan ancaman kekerasan sebagai alat pemaksaan.

“Jari-jari kami berada di pelatuk,” tegas pejabat senior Iran tersebut.

“Orang-orang Amerika tahu apa yang perlu mereka lakukan, tetapi karena tuntutan mereka yang berlebihan, peluang diplomasi untuk menyelesaikannya sangat rendah.”

Analis regional Danny Citrinowicz dan mantan negosiator AS untuk Iran, Alan Eyre, menyoroti bahwa pembicaraan di New York belum mengubah posisi dasar kedua belah pihak. Blokade yang mencekik justru dinilai tidak akan melunakkan posisi Teheran.

“Blokade itu merugikan mereka, tetapi alih-alih melunakkan posisi mereka, blokade itu kemungkinan akan mendorong mereka untuk melakukan eskalasi karena mereka percaya bahwa jika mereka melunakkan posisi mereka, mereka akan mati,” papar Eyre.

Kepanikan Negara-Negara Teluk

Di tengah negosiasi alot di New York, para pemimpin negara Teluk mengadakan pertemuan terpisah dengan Trump guna menuntut kejelasan tentang tujuan akhir Washington pasca-pemilihan paruh waktu. Mereka secara kolektif menolak kendali Iran atas Hormuz, mendesak pemulihan kebebasan navigasi, serta menekan kedua belah pihak untuk segera melakukan deeskalasi agar wilayah Teluk terhindar dari konflik lanjutan.

“Masih belum jelas apa tujuan akhir Trump, atau apa alternatif dari kampanye tekanan tersebut,” ucap Presiden Emirates Policy Center Ebtessam al-Ketbi.

“Sebaliknya, pihak Iran tahu apa yang mereka inginkan. Mereka membentuk kembali lanskap regional melalui Hormuz dan Bab el-Mandeb dengan tujuan yang jelas sementara Washington belum menentukan peta jalannya.”

Merespons seluruh dinamika ini, seorang pejabat Barat yang mengetahui jalannya pembicaraan merangkum realita sesungguhnya di balik meja perundingan.

“Ini semua tentang membuka Selat Hormuz. Kita semua berada di bawah tekanan di dalam negeri dan pihak Iran mengetahui hal itu,” pungkasnya.

(tps/tps)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *