Home Finance Dikira Ngobrol dengan AI, Ternyata Cuma Satu Orang Balas Chat Seadanya
Finance

Dikira Ngobrol dengan AI, Ternyata Cuma Satu Orang Balas Chat Seadanya

Share
Dikira Ngobrol dengan AI, Ternyata Cuma Satu Orang Balas Chat Seadanya
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah layanan chatbot baru mencuri perhatian di San Francisco, Amerika Serikat. Namun, chatbot ini bukan didukung oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), melainkan oleh seorang manusia bernama Tucker Bryant.

Sebuah billboard besar di San Francisco mempromosikan layanan bernama ChatTJB dengan klaim sebagai “leading chatbot interface powered by AI” atau antarmuka chatbot terkemuka yang ditenagai oleh AI. Namun, dalam keterangan kecil di bagian bawah billboard yang sebagian tertutup, AI ternyata bukan berarti artificial intelligence, melainkan “average individual” atau “manusia biasa”

Artinya, setiap percakapan di ChatTJB sebenarnya dilakukan langsung dengan Tucker Bryant, seorang seniman sekaligus mantan karyawan Google.

“Saya baru saja membangun model bahasa besar (LLM) terburuk sepanjang masa, dan ini akan merevolusi segalanya,” kata Bryant dalam sebuah video di media sosial, seperti dikutip Futurism, Rabu (12/8/2026).

Ia menjelaskan konsep layanan tersebut sebagai “ChatGPT, tetapi di sisi lain hanya ada saya yang memberikan saran buruk. Secara manual.”

Di halaman “About”, ChatTJB digambarkan sebagai “artisanal intelligence, handcrafted by a single human being” atau kecerdasan buatan tangan yang dibuat oleh satu manusia. Alih-alih menggunakan LLM, layanan ini menyebut dirinya sebagai “single-operator large language experience” (LLE).

Situs tersebut menjelaskan bahwa setiap pertanyaan dijawab melalui proses berpikir biologis seorang manusia.

“Alih-alih mengambil sampel dari model probabilistik, setiap pertanyaan diselesaikan melalui substrat penalaran biologis eksklusif, sehingga menghasilkan jawaban yang sepenuhnya dapat dipahami, tidak sintetis, dan memiliki akuntabilitas pada sumbernya,” tulis situs tersebut.

Dalam praktiknya, pengguna mengajukan pertanyaan, lalu Tucker membacanya, memikirkannya, dan membalas ketika sedang bangun dan memiliki motivasi.

Bryant mengatakan proyek ini muncul karena fenomena “cognitive surrender” atau “menyerahkan nalar” ke AI. Istilah tersebut berasal dari penelitian para peneliti di Wharton Business School, University of Pennsylvania, yang menggambarkan kecenderungan pengguna chatbot menyerahkan kemampuan berpikir kritis mereka kepada AI, bahkan ketika jawaban chatbot keliru atau menyesatkan.

“Sekarang kita sudah begitu terbiasa dengan jawaban AI yang terdengar percaya diri, cepat, dan pintar sehingga kita hampir berhenti mempertanyakannya,” ujar Bryant.

Ia menegaskan bahwa dirinya bukan anti-AI.

“Yang jelas, saya bukan anti-AI, tetapi sebagian dari kita sudah terlalu jauh sehingga begitu masuk ke antarmuka gelap yang menenangkan itu, melihat animasi kecil saat AI berpikir, dan teks muncul huruf demi huruf, kemampuan berpikir kritis langsung hilang,” katanya.

Bryant sengaja membuat ChatTJB menjadi jauh lebih lambat dan tidak nyaman digunakan agar pengguna kembali berpikir sendiri.

“Jawaban saya akan lambat. Kemungkinan besar tidak benar, atau mungkin bisa benar, tetapi akan sangat samar. Anda akan mendapatkan pengalaman yang buruk dengan ChatTJB,” ujarnya.

Selain jawaban teks, ChatTJB juga merespons permintaan pembuatan gambar dengan ilustrasi yang digambar tangan. Situs tersebut juga mencantumkan peringatan bahwa layanan ini merupakan “karya satir dan proyek seni publik”, bukan peluang investasi sungguhan.

Bagi pengguna yang ingin membantu Bryant membayar biaya billboard, layanan tersebut menawarkan langganan **Pro**. Bryant berharap pengalaman yang sengaja dibuat merepotkan itu dapat mengubah cara orang memandang chatbot AI.

“Saya ingin Anda mengalami pengalaman yang sangat tidak nyaman dengan sesuatu yang secara estetika terlihat seperti kecerdasan buatan sehingga ketika nanti sebuah LLM memberi jawaban yang terdengar masuk akal, Anda ingat saat ChatTJB menjawab pertanyaan pajak Anda dengan haiku tentang burung gagak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pengalaman itu diharapkan membuat orang lebih sering berhenti sejenak dan mengingat bahwa kemampuan chatbot menjawab dengan lancar bukan alasan untuk berhenti berpikir.

“Evolusi berikutnya dalam kecerdasan buatan adalah absurditas manusia,” kata Bryant.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *