
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (14/10/2026). Mata uang Garuda ditutup di zona merah setelah bergerak fluktuatif sepanjang hari.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.895/US$ atau melemah 0,06% dibandingkan penutupan Selasa (13/10/2026) di Rp17.885/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menguat hingga Rp17.870/US$ sebelum kembali tertekan. Rupiah juga sempat menyentuh level Rp17.915/US$ setelah dibuka di posisi Rp17.900/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 15.00 WIB, terpantau melemah 0,02% ke posisi 102,164.
Pergerakan rupiah hari ini turut dibayangi perkembangan ekonomi China serta sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Setelah inflasi China pada pagi hari tercatat lebih rendah dari perkiraan, data perdagangan menunjukkan kinerja yang lebih kuat. Surplus neraca perdagangan China mencapai US$133,53 miliar pada September 2026, dengan ekspor melonjak 36,3% secara tahunan dan impor meningkat 31%, keduanya melampaui ekspektasi pasar.
Kepala Ekonom Greater China ING Lynn Song memperkirakan hubungan perdagangan utama China tetap stabil hingga akhir tahun, sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
“Hubungan perdagangan utama diperkirakan tetap stabil hingga akhir tahun, sehingga dapat menjaga salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi China tahun ini tetap berjalan,” ujar Lynn Song, dikutip dari Reuters.
Perkembangan tersebut turut menjadi perhatian Indonesia mengingat China merupakan salah satu mitra dagang utama, sehingga kinerja perdagangannya dapat memengaruhi prospek permintaan ekspor Tanah Air.
Sementara itu, pasar juga menantikan rilis inflasi konsumen AS September 2026 pada Rabu malam ini. Inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus, sementara inflasi bulanan diproyeksikan sebesar 0,6%.
Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi investor dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi menopang dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
(evw/evw)
Leave a comment