Home Finance Donald Trump Ubah Nama AI Jadi SI, Alasannya Tak Terduga
Finance

Donald Trump Ubah Nama AI Jadi SI, Alasannya Tak Terduga

Share
Donald Trump Ubah Nama AI Jadi SI, Alasannya Tak Terduga
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat pengumuman tak terduga di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia memerintahkan seluruh instansi pemerintah negaranya untuk berhenti menggunakan istilah “artificial intelligence” atau “kecerdasan buatan” dan menggantinya dengan nama baru yaitu “super intelligence.”

Langkah ini dinilai Trump akan mengubah cara dunia memandang teknologi tersebut, sekaligus memicu perdebatan tentang makna sebenarnya dari AI, dikutip dari laporan Futurism, Rabu (23/9/2026).

“Kata ‘artificial intelligence’ itu tidak tepat dan terdengar tidak elegan,” ujar Trump di hadapan para pemimpin dunia. “Mulai saat ini, semua dokumen resmi Amerika Serikat akan menggunakan istilah yang jauh lebih akurat, ‘super intelligence.’ Semoga negara-negara lain ikut melakukan hal yang sama.”

Perubahan nama ini bermula dari pernyataan Trump di media sosial beberapa hari sebelumnya. Ia mengusulkan beberapa pilihan nama lain, antara lain “superior intelligence”, “super intelligence”, dan “supreme intelligence.”

Dari ketiga pilihan tersebut, yang dipilih resmi oleh Trump adalah “super intelligence.”. Trump beralasan kata “artificial” atau “buatan” memberikan kesan sesuatu yang tidak asli, tiruan, atau kurang bernilai. Padahal menurutnya, kemampuan sistem tersebut sudah melampaui kemampuan manusia dalam banyak hal, sehingga layak mendapat nama yang lebih tinggi kedudukannya.

Keputusan ini memicu tanggapan yang berbeda-beda. Pendukung menyebut perubahan ini tepat karena kemampuan sistem AI memang makin maju dan semakin sulit dibedakan dari kemampuan manusia. Nama baru ini mencerminkan kekuatan sebenarnya yang sedang dikembangkan.

Pengamat bahasa dan ilmuwan justru menilai perubahan ini tidak tepat. Kata “buatan” dalam istilah aslinya bukan berarti kurang baik, melainkan menunjukkan bahwa sistem tersebut dibuat oleh manusia, bukan lahir secara alami. Menggantinya dengan “super” dianggap melebih-lebihkan kemampuan yang belum tentu benar-benar ada.

Kritikus menilai langkah ini sekadar gaya bicara khas Trump yang gemar mengubah nama hal-hal tanpa mengubah isinya. Sebelumnya, ia juga kerap mengubah sebutan untuk kebijakan maupun kelompok tertentu untuk memicu kontroversi. Trump misalnya mengubah nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengubah nomenklatur Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang.

Keputusan Amerika Serikat ini dapat memengaruhi cara negara-negara lain menyebutkan dan memandang AI. Jika negara lain ikut mengubah istilahnya, pandangan masyarakat terhadap teknologi ini dapat berubah dari sesuatu yang “dibuat pihak lain” menjadi sesuatu yang “luar biasa hebat”.

Di Indonesia, banyak yang mulai menyebut AI sebagai “akal imitasi” sebagai padanan “kecerdasan buatan” agar pas dengan singkatannya. Untuk regulasi, pemerintah RI menjanjikan dalam waktu dekat menerbitkan peta jalan AI nasional yang terdiri dari panduan etika dan keamanan.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *