Jakarta, CNBC Indonesia – Militer Ukraina mengklaim berhasil menghantam puluhan kapal Rusia di Laut Azov, dalam serangkaian serangan drone yang ditujukan untuk mengganggu pasokan bahan bakar ke wilayah pendudukan Rusia di Ukraina, termasuk Krimea.
Serangan itu kabarnya menjadi bagian dari upaya Kyiv melumpuhkan jalur logistik Moskow melalui laut.
Dilansir Reuters, militer Ukraina pada Sabtu menyatakan telah menyerang 21 kapal tanker Rusia menggunakan drone dalam serangan semalam di Laut Azov.
Selain kapal tanker, Ukraina juga mengaku menghantam empat kapal tunda, dua kapal kargo, serta satu kapal keruk yang digunakan untuk mendukung logistik militer dan infrastruktur pelabuhan.
Sementara itu, berdasarkan laporan BBC, militer Ukraina dalam beberapa hari terakhir meningkatkan intensitas serangan di sekitar Krimea yang dianeksasi Rusia.
Setelah sebelumnya menargetkan jalur logistik darat menuju semenanjung tersebut, Ukraina kini memperluas serangan ke jalur pasokan melalui laut.
Komandan Pasukan Drone Ukraina Robert Brovdi, yang dikenal dengan nama Magyar, mengatakan sedikitnya 36 kapal telah dihantam dan terbakar di Laut Azov dalam empat hari terakhir.
Menurut militer Ukraina, sebagian besar kapal tersebut merupakan bagian dari “shadow fleet” atau armada bayangan Rusia, yakni armada kapal tanker komersial yang digunakan untuk mengangkut minyak.
Namun, jumlah pasti kapal yang terdampak belum dapat dipastikan secara independen. BBC menyebut beberapa kapal kemungkinan diserang lebih dari satu kali dan tidak semua klaim serangan telah terverifikasi.
Serangan itu dinilai menjadi pukulan bagi kemampuan logistik laut Rusia sekaligus mengganggu jaminan pasokan bahan bakar ke Krimea.
Operasi tersebut merupakan bagian dari strategi yang disebut Ukraina sebagai “logistics lockdown”, yakni upaya memutus jalur pasokan menuju dan keluar dari wilayah Krimea yang diduduki Rusia.
Pelabuhan Kerch di Krimea, yang memiliki fasilitas pemuatan minyak, sebelumnya juga menjadi sasaran serangan Ukraina pada bulan lalu. Analisis citra satelit BBC Verify menunjukkan jumlah kapal tanker di kawasan tersebut berkurang dalam beberapa hari setelah serangan.
Gubernur wilayah Rostov, Yuri Slyusar, mengatakan dua kapal tanker kosong diserang di Teluk Taganrog, di bagian timur laut Laut Azov, pada Rabu. Meski tidak bermuatan, kedua kapal tersebut dilaporkan masih terbakar hingga Kamis.
Menurut Brovdi, dua kapal tanker lain yang diserang pada awal pekan masing-masing membawa sekitar 7.000 ton bahan bakar dari wilayah Taganrog menuju Krimea.
Citra satelit yang diambil pada Rabu juga memperlihatkan kepulan asap besar dari sebuah kapal yang berada sekitar 4,2 kilometer dari pesisir Krimea. Data NASA menunjukkan kebakaran di lokasi tersebut telah berlangsung sejak 6 Juli dan diduga berkaitan dengan gelombang pertama serangan drone Ukraina.
Dalam citra yang sama, sekitar 20 kapal lainnya terlihat meninggalkan kawasan Laut Azov menuju Laut Hitam.
Brovdi menyebut sejumlah kapal tanker yang menjadi sasaran serangan antara lain Venera-3, Sanar-1, Sanar-17, Klimena, Thetis, Alexey Savrasov, dan Penelopa. Selain itu, feri penumpang SKS One serta sebuah kapal pengangkut curah juga dilaporkan diserang di Pelabuhan Kerch.
Serangan tidak hanya terjadi di Laut Azov. Militer Ukraina juga merilis rekaman serangan drone laut terhadap kapal tanker Blue yang dikenai sanksi. Ukraina menyebut serangan tersebut terjadi di dekat Yalta, kota resor di Laut Hitam yang berada di wilayah Krimea yang diduduki Rusia, meski lokasi pastinya belum dapat dipastikan.
Gelombang serangan terhadap kapal tanker itu juga terjadi bersamaan dengan serangan berkelanjutan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia yang disebut telah memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai wilayah, termasuk Moskow dan St. Petersburg.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan respons atas serangan Moskow terhadap Ukraina. Menurutnya, warga Rusia harus “merasa bahwa negara merekalah yang sedang melancarkan perang”.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut strategi penggunaan drone oleh Ukraina sebagai bentuk eskalasi ketika bertemu Zelensky dalam KTT NATO di Ankara pada Selasa. Namun, ia juga mengatakan strategi tersebut “tetapi ini juga merupakan eskalasi yang dapat membantu mengarah pada sebuah penyelesaian”.
Dalam beberapa hari terakhir, serangan drone terhadap logistik maritim Rusia dilaporkan semakin intensif. Brovdi bahkan mengklaim 12 kapal tanker diserang hanya dalam satu malam dari Rabu hingga Kamis.
Sejumlah kanal Telegram pro-perang Rusia juga mengkritik lemahnya perlindungan armada logistik Rusia. Kanal ‘Military Informant’ menyebut kapal-kapal tanker yang berlayar tanpa perlindungan efektif menjadi sasaran empuk operator drone Ukraina karena tidak mendapat pengawalan Armada Laut Hitam Rusia.
“Armada Laut Hitam Rusia kini menutup diri di Novorossiysk,” tulis Mikhail Zvinchuk dalam kanal Telegram Rybar, dikutip dari BBC, Sabtu (11/7/2026).
Adapun serangan-serangan itu disebut berpotensi memperburuk gangguan pasokan bahan bakar di Krimea. Pada akhir Juni, Presiden Rusia Vladimir Putin memperkirakan kebutuhan bahan bakar Crimea mencapai sekitar 70.000 ton per bulan dan berjanji memastikan pasokan melalui jalur darat maupun laut.
Sementara itu, kapal-kapal tanker yang menjadi sasaran serangan di Laut Azov diduga mengangkut bahan bakar dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Laporan BBC juga menyebut lebih dari 90% wilayah Rusia kini mengalami pembatasan atau kekurangan bahan bakar, sementara pemerintah telah melarang ekspor solar. Antrean kendaraan dilaporkan mulai terjadi di sejumlah SPBU di kota-kota besar, sedangkan otoritas yang ditunjuk Rusia di Krimea juga menghadapi gangguan pasokan listrik dan transportasi.
Setelah sebelumnya mengganggu jalur logistik darat Rusia menuju Krimea, kini militer Ukraina juga meningkatkan tekanan terhadap jalur pasokan melalui laut.
(arj/arj)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment