Home Finance Dunia Makin ‘Membara’, Indonesia Masih Aman? Ini Jawab Menkeu
Finance

Dunia Makin ‘Membara’, Indonesia Masih Aman? Ini Jawab Menkeu

Share
Dunia Makin ‘Membara’, Indonesia Masih Aman? Ini Jawab Menkeu
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonomi Indonesia tengah menghadapi tekanan eksternal yang berasal dari panasnya geopolitik negara Timur Tengah, perang yang tidak berkesudahan, hingga tingginya harga minyak mentah.

Tekanan tersebut bahkan, menurut Bank Dunia dan IMF akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dan membuat inflasi menjadi semakin tinggi. Ujung-ujungnya adalah daya beli masyarakat yang akan terhimpit.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan optimismenya, bahwa Indonesia bisa menghadapi serangkaian tekanan tersebut karena memiliki modal kondisi ekonomi yang solid.

“Di tengah-tengah global yang sedang hangat-hangat dan mungkin agak sedikit menuju panas seperti tadi. Modal kita adalah kondisi ekonomi makro kita yang secara indikator baik sekali,” ungkapnya saat rapimnas KADIN di Hotel Borobudur, Jakarta pada Jumat (30/10/2026).

Modal pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester pertama mencapai 5,45% yoy yang didorong oleh permintaan domestik yang kuat, investasi, dan dukungan kebijakan pemerintah.

Kedua, adalah inflasi hingga September 3,28% yoy yang tetap terkendali di rentang target pemerintah 1,5% hingga 3,5%.

Di sisi lain, PMI Manufaktur RI pada September 2026 berada di posisi 52,4 yang didorong penguatan permintaan yang mendorong produksi dan penyerapan tenaga kerja. Nilai PMI Manufaktur ini juga menunjukkan bahwa sektor pengolahan berada dalam posisi ekspansif.

“Ini adalah kombinasi yang luar biasa, pertumbuhan 5,4%, inflasi 3,3% dengan PMI manufaktur yang menunjukkan seberapa gerak dunia usaha membeli barang input. Kalau PMI manufakturnya itu di atas 50 Berarti dunia usaha itu sedang ekspansi,” ujar Suahasil.

“PMI di atas 50 adalah indikasi yang mengatakan bahwa para dunia usaha kita memiliki optimisme. Bahwa akan ada tambahan permintaan Karena itu beli input lebih tinggi juga,” lanjutnya.

Indikator baik yang menjadi modal Indonesia adalah neraca perdagangan yang surplus US$7,25 miliar pada periode Januari hingga Agustus 2026. Sementara pertumbuhan kredit tumbuh 13,26% pada September 2026 yang didorong oleh pertumbuhan kredit investasi yang kuat.

Selain itu, dana investor asing masih deras mengalir ke dalam negeri. Hal tersebut tersebut dari catatan Suahasil yang menyebutkan terjadi inflow secara akumulatif senilai Rp127,7 triliun hingga 23 Oktober 2026.

Aliran modal masuk tersebut melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

(ras/mij)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *