Home Finance El Nino Mengamuk, Raja Ampat
Finance

El Nino Mengamuk, Raja Ampat

Share
El Nino Mengamuk, Raja Ampat
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – El Niño menjadi salah satu tantangan serius bagi Indonesia pada tahun ini, tidak hanya terhadap cuaca dan ketahanan pangan tetapi juga ekosistem laut.

Peningkatan suhu laut dapat memicu pemutihan hingga kematian terumbu karang, sementara aktivitas manusia dan kecelakaan di laut turut memperbesar kerusakan.

Terlebih, terumbu karang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih, ancaman El Niño perlu diantisipasi bersama dengan upaya perlindungan ekosistem laut dari kerusakan akibat aktivitas manusia,

Besarnya dampak El Nino ini bahkan sampai disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraaan, Jumat Pekan lalu (14/8/2026)

“Kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Niño,” kata Prabowo dalam pidatonya.

Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat. Bagi ekosistem laut, peningkatan suhu air laut menjadi salah satu tekanan terhadap terumbu karang. Paparan suhu tinggi dalam periode tertentu dapat memicu pemutihan (coralbleaching) dan meningkatkan risiko kematian karang.




Pesona keindahan bawah laut di Raja Ampat. (Dok. Kemenparekraf)Pesona keindahan bawah laut di Raja Ampat. (Dok. Kemenparekraf) Foto: Pesona keindahan bawah laut di Raja Ampat. (Dok. Kemenparekraf)

Namun, ancaman terhadap terumbu karang Indonesia tidak hanya datang dari perubahan kondisi iklim. Aktivitas manusia hingga kecelakaan di laut juga dapat menyebabkan kerusakan fisik pada ekosistem yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Salah satu kasus terbaru terjadi di perairan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Sebuah kapal live on board (LOB) terdampar di kawasan terumbu karang pada 19 Juni 2026 setelah diduga tidak mampu mengantisipasi derasnya arus saat air laut surut, dilansir dari Detik Kalimantan. Proses evakuasi kapal yang berlangsung cukup lama juga diduga memperluas kerusakan terumbu karang di lokasi tersebut.

Kerusakan tersebut meninggalkan proses pemulihan yang panjang. Menurut Kepala UPTD KKP3K KDPS Berau Didik Riyanto, regenerasi karang membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan lebih dari satu dekade hingga kembali terbentuk. KKP bersama tim ahli masih melakukan penghitungan untuk mengetahui luas area yang terdampak.

Di antara tiga ekosistem pesisir yang dipetakan SIDAK Ekosistem KKP, terumbu karang mencakup sekitar 838.615 hektare atau 17,2% dari total luas terumbu karang, mangrove, dan lamun yang dipetakan. Sementara itu, mangrove mendominasi sekitar 69,2% dan lamun 13,6%.

Terumbu karang tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai biota laut, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi masyarakat pesisir melalui perikanan dan pariwisata, sekaligus berperan dalam melindungi wilayah pantai. Degradasi ekosistem dapat mengurangi habitat dan sumber makanan berbagai spesies laut, yang pada akhirnya berisiko menekan keanekaragaman hayati serta jasa ekosistem yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.

Besarnya manfaat ekologis dan ekonomi tersebut membuat upaya menjaga terumbu karang menjadi penting, terlebih proses pemulihan ekosistem yang rusak membutuhkan waktu panjang, sementara tekanan datang dari perubahan iklim hingga aktivitas manusia.

Upaya konservasi ekosistem laut juga tercermin dalam target perluasan kawasan konservasi. Berdasarkan SIDAK Ekosistem KKP yang diakses pada Agustus 2026, target kawasan konservasi ditetapkan sebesar 10% dari luas perairan laut wilayah kedaulatan Indonesia, atau sekitar 32,5 juta hektare.

Skala kebutuhan konservasi tersebut turut membuka ruang bagi pembiayaan biodiversitas (biodiversity finance). BIOFIN Indonesia telah mendorong pengembangan mekanisme pembiayaan untuk biodiversitas laut, termasuk peluang pembiayaan yang berkaitan dengan pemulihan terumbu karang.

Sejumlah instrumen telah dipetakan sebagai solusi pembiayaan biodiversitas di Indonesia, mulai dari green sukuk, ecological fiscal transfer, pendanaan berbasis keagamaan, hingga debt-for-nature swap.

Kasus Maratua menunjukkan bahwa ancaman terhadap terumbu karang datang dari berbagai arah. Di tengah tekanan tersebut, pembiayaan menjadi bagian penting dalam menjaga dan memulihkan biodiversitas laut Indonesia.

(slm/slm)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *