Home Finance El Nino Terkuat Seabad Mengintai, Sanggupkah Asia Penuhi Bahan Pangan?
Finance

El Nino Terkuat Seabad Mengintai, Sanggupkah Asia Penuhi Bahan Pangan?

Share
El Nino Terkuat Seabad Mengintai, Sanggupkah Asia Penuhi Bahan Pangan?
Share


Jakarta,CNBC Indonesia – El Niño kembali menjadi perhatian global karena berpotensi mengganggu produksi pertanian dan ketahanan pangan di berbagai kawasan, termasuk Asia dan Indonesia.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan cuaca. Ketika pola hujan berubah, dampaknya dapat menjalar dari lahan pertanian ke produksi pangan, harga komoditas, pendapatan petani, hingga kebutuhan bantuan kemanusiaan.

Apa itu El Niño?

El Niño merupakan fenomena iklim alami ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari kondisi normal. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi pola hujan dan temperatur di berbagai belahan dunia.



Food Agriculture Organization of the United Nation (UN FAO) mencatat El Niño rata-rata terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan biasanya berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.

Karena perkembangannya relatif lambat dan dapat diprediksi beberapa bulan sebelumnya, dampaknya sebenarnya dapat diantisipasi melalui sistem peringatan dini dan persiapan sektor pangan.

Asia Tenggara Terancam Lebih Kering

Dampak El Niño berbeda di setiap wilayah. Di sebagian Asia Tenggara, fenomena ini umumnya membawa curah hujan di bawah normal. Kondisi yang lebih kering dapat mengurangi ketersediaan air bagi pertanian sekaligus meningkatkan tekanan terhadap produksi pangan.

Sebaliknya, beberapa wilayah Asia Tengah justru dapat mengalami curah hujan di atas rata-rata. Risiko yang muncul pun berbeda, mulai dari banjir hingga longsor yang dapat merusak tanaman, menghanyutkan benih, serta menyebabkan kehilangan ternak.

Dari Pertanian ke Risiko Ekonomi

Gangguan terhadap pertanian dapat dengan cepat berkembang menjadi persoalan ekonomi dan kemanusiaan. Gagal panen menekan pendapatan petani dan pasokan pangan, sementara kehilangan ternak dapat menghilangkan aset utama rumah tangga di wilayah pedesaan.

FAO mencatat El Niño 2015-2016 berdampak terhadap lebih dari 60 juta orang dan memicu kebutuhan bantuan kemanusiaan sekitar US$5 miliar atau Rp88,59 triliun (US$1 = Rp17.717) di 23 negara.

Risiko tersebut tidak hanya ditentukan oleh besarnya penurunan curah hujan. Dampaknya dapat jauh lebih berat di negara yang sudah menghadapi konflik, kerawanan pangan kronis, serta ketergantungan tinggi pada pertanian tadah hujan. FAO memperkirakan lebih dari 80% dampak kekeringan terhadap sektor pertanian akan terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Tekanannya juga dapat berantai. Petani dapat lebih dulu kehilangan hasil panen, kemudian ternak, hingga akhirnya kehilangan sumber penghidupan utama. Karena itu, El Niño dapat berkembang dari gangguan cuaca menjadi tekanan ekonomi dan krisis kemanusiaan.

Asia Masuk Zona Risiko Pangan

Asia menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian besar karena El Niño dapat mengganggu pasar pangan yang penting bagi dunia.

Di India, fenomena ini dapat melemahkan monsun musim panas dan menekan tanaman yang mengandalkan hujan, termasuk padi dan jagung, pada periode pertumbuhan yang krusial.




Farmers work in a paddy field on the outskirts of Guwahati, India, Tuesday, June 6, 2023. Experts are warning that rice production across South and Southeast Asia is likely to suffer with the world heading into an El Nino. (AP Photo/Anupam Nath)Farmers work in a paddy field on the outskirts of Guwahati, India, Tuesday, June 6, 2023. Experts are warning that rice production across South and Southeast Asia is likely to suffer with the world heading into an El Nino. (AP Photo/Anupam Nath) Foto: AP/Anupam Nath

Pengalaman 2015 menunjukkan risikonya. Produksi jagung dan beras menurun di sejumlah negara produsen utama dan ikut mendorong kenaikan harga komoditas pangan.

Untuk episode El Niño saat ini, FAO memetakan risiko kekeringan pertanian membentang dari Pakistan dan India menuju Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Filipina, Indonesia, hingga Timor-Leste.

Dengan posisi Asia sebagai produsen sekaligus konsumen utama beras, jagung, minyak nabati dan berbagai komoditas pangan lainnya, gangguan produksi di kawasan ini dapat berdampak tidak hanya pada petani, tetapi juga inflasi pangan dan perdagangan.

Peta Risiko untuk Melindungi Pertanian

Salah satu kunci menghadapi El Niño adalah mengetahui risiko sebelum kerugian terjadi.

FAO menggunakan data satelit selama 41 tahun melalui Agricultural Stress Index System (ASIS) untuk memetakan wilayah pertanian dan padang penggembalaan yang paling rentan terhadap kekeringan terkait El Niño.

Di sejumlah lokasi, analisis tersebut dapat mempersempit risiko hingga skala sekitar satu kilometer persegi.

Informasi tersebut memungkinkan petani mengambil keputusan lebih awal, mulai dari menunda waktu tanam, memilih varietas tahan kekeringan, menyediakan pakan ternak, hingga menambah cadangan air. Pemerintah juga dapat memusatkan bantuan seperti irigasi, benih, pakan ternak, maupun bantuan tunai ke wilayah yang paling berisiko.

Pendekatan tersebut terbukti dapat mengurangi dampak. Menjelang El Niño 2023-2024, hampir US$31 juta atau sekitar Rp549,23 miliar dialokasikan kepada lebih dari dua juta orang di tujuh negara Afrika bagian selatan untuk penyediaan benih, dukungan ternak, serta penguatan sistem peringatan dini.

Indonesia Sudah Menghadapi Tekanan El Niño

Risiko tersebut semakin relevan bagi Indonesia. Indonesia sudah menghadapi tekanan El Niño yang semakin kuat pada Agustus 2026. BMKG mencatat El Niño telah mencapai kategori sangat kuat, sementara 76,5% wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau dan curah hujan rendah mendominasi 90,79% wilayah. 


Bagi sektor pertanian, kondisi ini meningkatkan risiko kekurangan air, pergeseran musim tanam, serta tekanan terhadap produktivitas tanaman yang bergantung pada curah hujan.

Karena itu, kesiapan irigasi, cadangan air, penyesuaian waktu tanam, serta penyampaian informasi iklim kepada petani menjadi penting untuk menekan potensi gangguan produksi pangan.

El Nino Mengganggu Pasar Komoditas

Fenomena El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari satu abad mulai menimbulkan kekhawatiran di pasar komoditas. Cuaca ekstrem yang menyertainya berisiko mengganggu produksi sejumlah komoditas pangan utama, mulai dari gula, kakao, hingga kopi.

Kantor Meteorologi Inggris (Met Office) memperkirakan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik dapat meningkat hingga 3 derajat Celsius, jauh di atas kenaikan yang umumnya terjadi saat El Nino, yakni lebih dari 1 derajat Celsius.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, fenomena ini berpotensi menjadi El Nino terkuat sejak abad ke-19 atau satu abad lebih dan meningkatkan risiko gangguan pasokan di pasar komoditas global. Dalam catatan sejarah, El Niño 1877-1878 merupakan salah satu episode yang sangat kuat dan kerap dijadikan pembanding.

Fenomena El Nino juga diperkirakan ikut mengganggu hasil panen komoditas pertanian.

Untuk gula, kekhawatiran pasokan datang dari sejumlah produsen utama. Produksi gula Brasil musim 2026/2027 diperkirakan turun 2,9% menjadi 42,9 juta ton, sementara India mengizinkan impor bebas bea hingga 1 juta ton sampai 31 Oktober untuk menekan harga domestik.

Di kopi, perhatian pasar tertuju pada Vietnam sebagai salah satu produsen utama robusta. Broker Marex memperkirakan produksi kopi Vietnam musim mendatang mencapai 31,3 juta kantong, turun dari 32,1 juta kantong pada musim sebelumnya.

(slm/slm)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *