
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) membalikkan kinerja labanya menjadi rugi pada semester I-2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026, perusahaan induk raksasa media dan teknologi milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja ini mencatatkan rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp320,6 miliar, berbanding terbalik dari laba Rp4,23 triliun yang dibukukan pada semester I-2025.
Rugi per saham (loss per share) EMTK pada periode ini tercatat Rp5,25, dibandingkan laba per saham Rp69,26 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi topline, pendapatan neto EMTK justru tumbuh 22,7% menjadi Rp10,81 triliun, dari Rp8,81 triliun pada semester I-2025. Kenaikan pendapatan turut mengangkat laba kotor perusahaan menjadi Rp2,82 triliun, dari sebelumnya Rp2,40 triliun. Laba usaha (operating profit) EMTK bahkan melonjak signifikan menjadi Rp1,83 triliun, dari Rp345,66 miliar pada periode sebelumnya, seiring dengan turunnya beban umum dan administrasi serta adanya laba selisih kurs neto sebesar Rp982,9 miliar.
Namun, kinerja operasional yang solid tersebut tergerus habis oleh kerugian dari investasi. Perseroan mencatatkan rugi atas investasi neto sebesar Rp2,29 triliun pada semester I-2026, berbanding terbalik dari keuntungan investasi Rp1,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, pada semester I-2025 EMTK sempat mencatatkan pos nonrecurring berupa laba atas akuisisi entitas anak sebesar Rp2,86 triliun, yang tidak terulang pada tahun ini.
Kombinasi faktor tersebut membuat perseroan yang sebelumnya mencetak laba sebelum pajak Rp5,01 triliun pada semester I-2025, kini justru membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp124,4 miliar pada semester I-2026. Setelah dikurangi beban pajak Rp172,5 miliar, EMTK mencatatkan rugi periode berjalan Rp296,8 miliar secara konsolidasian.
Dari sisi neraca, total aset EMTK per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp59,88 triliun, sedikit menyusut dari Rp60,77 triliun pada akhir Desember 2025. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya kas dan setara kas menjadi Rp19,85 triliun, dari Rp22,42 triliun di akhir tahun lalu.
Di sisi lain, total liabilitas perseroan justru meningkat menjadi Rp7,90 triliun, dari Rp7,38 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, total ekuitas EMTK tercatat sebesar Rp51,98 triliun, turun dari Rp53,39 triliun pada akhir Desember 2025 seiring dengan kerugian yang dibukukan sepanjang paruh pertama tahun ini.
Adapun investasi jangka panjang perseroan tercatat naik menjadi Rp11,53 triliun, dari Rp10,25 triliun pada akhir 2025, sementara investasi pada entitas asosiasi juga tumbuh menjadi Rp3,89 triliun, dari Rp3,75 triliun.
(fsd/fsd)
Leave a comment