Jakarta, CNBC Indonesia – Gelombang demonstrasi besar-besaran tengah melanda sejumlah negara di Eropa. Aksi yang awalnya berlangsung damai di beberapa wilayah berubah menjadi bentrokan dengan aparat keamanan, bahkan berujung kerusuhan dan perusakan fasilitas umum di berbagai kota.
Di antara negara-negara yang dilanda demonstrasi, Prancis menjadi salah satu yang mengalami kerusuhan paling besar. Puncaknya terjadi pada akhir pekan lalu, Sabtu (17/10/2026), ketika lebih dari setengah juta orang turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai tuntutan, mulai dari perbaikan layanan pendidikan hingga mahalnya biaya hidup.
Namun, situasi di sejumlah wilayah berubah menjadi ricuh. Sejumlah toko, baik besar maupun kecil, menjadi sasaran penjarahan. Fasilitas umum dan gedung pemerintahan juga dirusak, sementara bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan tidak dapat dihindari.
French students demonstrate on the street in Paris as part of nationwide protests to demand better school conditions in France, October 8, 2026. REUTERS/Abdul Saboor Foto: REUTERS/Abdul Saboor
|
Kerusuhan serupa juga terjadi di Italia dan Belgia. Di Italia, demonstrasi berlangsung di sejumlah kota, termasuk Milan, Turin, dan Bologna. Sebagian aksi berujung bentrokan dengan polisi, pembakaran barikade di jalanan, hingga penjarahan toko.
Sementara itu, di Belgia, demonstrasi yang berlangsung di Brussels dan Liège juga berakhir ricuh. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa setelah terjadi bentrokan dan perusakan fasilitas.
Di sisi lain, masyarakat Spanyol, Portugal, dan Yunani juga turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai tuntutan, terutama terkait mahalnya biaya tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari. Namun, sebagian besar demonstrasi di ketiga negara tersebut berlangsung damai, meskipun terdapat laporan bentrokan dalam beberapa aksi.
Situasi tidak kalah panas terjadi di Albania. Demonstrasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan semakin meluas, dengan massa menuntut Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri. Aksi tersebut dipicu dugaan korupsi, ketidakpuasan terhadap pemerintah, serta kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Di ibu kota Tirana, sejumlah demonstrasi bahkan berujung bentrokan dengan aparat keamanan, disertai serangan terhadap gedung pemerintahan, bank, dan sejumlah tempat usaha.
Jika melihat gelombang demonstrasi yang tengah melanda berbagai negara Eropa, ada sejumlah persoalan yang membuat masyarakat akhirnya memilih turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka.
Setidaknya, ada empat persoalan utama yang menjadi pemicu demonstrasi di Eropa.
-
Tingginya biaya hidup
-
Mahalnya harga rumah dan biaya sewa
-
Persoalan biaya dan kualitas pendidikan
-
Ketidakpuasan terhadap pemerintah
Meski demikian, setiap negara memiliki masalah dan tuntutannya masing-masing. Ada yang memprotes mahalnya kebutuhan sehari-hari, ada pula yang menuntut perbaikan pendidikan hingga perubahan kebijakan pemerintah.
Namun, keempat persoalan tersebut bisa memberikan gambaran mengenai berbagai tekanan yang tengah dihadapi masyarakat Eropa.
Lantas, seberapa berat sebenarnya kondisi yang dihadapi masyarakat di negara-negara tersebut hingga mendorong mereka turun ke jalan?
Biaya Hidup Makin Berat
Salah satu persoalan yang banyak dikeluhkan masyarakat Eropa adalah semakin mahalnya biaya hidup.
Kondisi ini tidak lepas dari kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari, terutama energi, makanan, dan transportasi. Masyarakat pun harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan yang sama.
Salah satu kenaikan harga yang paling terasa terjadi pada bahan bakar kendaraan, baik bensin maupun solar.
Berdasarkan data Weekly Oil Bulletin Komisi Eropa, harga rata-rata bensin Euro 95 di Uni Eropa mencapai €2,010 per liter pada 12 Oktober 2026. Harga tersebut melonjak 24,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih sebesar €1,616 per liter.
Kenaikan lebih tajam terjadi pada harga solar atau diesel. Dalam setahun, harganya melonjak 39,7%, dari €1,529 menjadi €2,136 per liter.
Mahalnya harga bahan bakar tentu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi. Kenaikan tersebut juga berpotensi membuat biaya transportasi dan pengiriman barang semakin mahal, yang pada akhirnya bisa ikut mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tekanan harga juga terlihat dari inflasi di zona euro yang kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data Eurostat, inflasi zona euro mencapai 3,8% secara tahunan pada September 2026, meningkat dibandingkan Agustus yang sebesar 3,2%. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian masyarakat Eropa sebenarnya sudah kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sejak beberapa tahun terakhir.
Eurostat mencatat sebanyak 17,4% rumah tangga di Uni Eropa pada 2024 mengaku kesulitan atau sangat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa persoalan biaya hidup ikut disuarakan dalam demonstrasi di sejumlah negara.
Di Prancis, misalnya, aksi protes yang awalnya digerakkan para pelajar karena buruknya fasilitas pendidikan kemudian mendapat dukungan dari serikat pekerja dan kelompok masyarakat yang mengeluhkan mahalnya biaya hidup.
Sementara itu, di Portugal, para pekerja turun ke jalan untuk menuntut kenaikan gaji dan pensiun. Mereka berharap pendapatan yang diterima bisa lebih mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Biaya Rumah Makin Mahal
Selain mahalnya kebutuhan sehari-hari, masyarakat Eropa juga menghadapi persoalan lain yang tidak kalah berat, yakni semakin sulitnya mendapatkan tempat tinggal dengan harga terjangkau.
Harga rumah yang terus meningkat membuat masyarakat harus menyiapkan uang lebih banyak untuk membeli rumah. Sementara bagi mereka yang belum memiliki rumah, biaya sewa juga menjadi beban tersendiri.
Portugal menjadi salah satu negara yang menghadapi persoalan tersebut.
Berdasarkan data Eurostat, harga rumah di Portugal melonjak 16,5% secara tahunan pada kuartal II-2026. Kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Uni Eropa yang sebesar 4,7% pada periode yang sama.
Mahalnya tempat tinggal pun menjadi salah satu alasan masyarakat Portugal turun ke jalan. Di Lisbon, sejumlah aktivis perumahan bahkan mendirikan tenda sebagai bentuk protes sekaligus menuntut pemerintah menyediakan tempat tinggal yang lebih terjangkau.
Persoalan serupa juga terjadi di Spanyol. Para demonstran mendirikan tenda di kawasan Puerta del Sol, Madrid, untuk menuntut penurunan biaya sewa dan perlindungan bagi masyarakat yang terancam kehilangan tempat tinggal.
Sementara itu, di Yunani, persoalannya bukan hanya harga rumah yang mahal, tetapi juga besarnya pengeluaran untuk tempat tinggal dibandingkan pendapatan masyarakat.
Eurostat mencatat pada 2025 sekitar 26,4% penduduk Yunani tinggal dalam rumah tangga yang harus mengeluarkan sedikitnya 40% dari pendapatannya untuk biaya perumahan.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Uni Eropa yang hanya sebesar 7,7%.
Artinya, lebih dari seperempat penduduk Yunani menghadapi beban biaya perumahan yang cukup besar dibandingkan pendapatan rumah tangganya.
Kondisi tersebut juga dirasakan para mahasiswa. Di Athena, sejumlah mahasiswa sampai mendirikan tenda di Syntagma Square untuk memprotes mahalnya biaya sewa tempat tinggal dan kurangnya fasilitas asrama.
Namun, masalah yang dihadapi generasi muda Eropa tidak berhenti pada urusan tempat tinggal.
Biaya pendidikan yang semakin mahal hingga buruknya fasilitas sekolah juga menjadi alasan para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan.
Di Belgia, misalnya, kenaikan biaya kuliah menjadi salah satu pemicu demonstrasi. Mulai tahun akademik 2026/2027, biaya kuliah penuh di wilayah pendidikan berbahasa Prancis naik dari €835 menjadi €1.194 per tahun, meskipun pemerintah masih memberikan keringanan bagi kelompok tertentu.
Sementara di Prancis, para pelajar memprotes kekurangan tenaga pengajar, ruang kelas yang terlalu penuh, hingga kondisi gedung sekolah yang semakin memburuk.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi masyarakat Eropa tidak hanya berkaitan dengan mahalnya harga barang, tetapi juga menyangkut kebutuhan penting lainnya, seperti tempat tinggal dan pendidikan.
Hal ini sekaligus membantu menjelaskan mengapa kalangan muda menjadi salah satu kelompok yang aktif dalam gelombang demonstrasi di berbagai negara Eropa.
Mengapa Asia Belum Ada Pergerakan Seperti di Eropa?
Lantas, mengapa gelombang demonstrasi yang terjadi di berbagai negara Eropa belum terlihat dalam pola serupa di sebagian besar Asia?
Salah satu hal yang membedakan kedua kawasan tersebut adalah kondisi ekonomi dan cara pemerintah menghadapi kenaikan harga kebutuhan masyarakat.
Setidaknya ada tiga hal yang bisa membantu menjelaskan perbedaan tersebut.
1. Pertumbuhan ekonomi Asia lebih tinggi
2. Subsidi pemerintah masih bisa membantu menahan kenaikan harga
3. Penyebab demonstrasi di Asia lebih beragam
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Oktober 2026 memperkirakan ekonomi zona euro hanya tumbuh 1,1% pada tahun ini. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia dan Pasifik diproyeksikan mencapai 4,7%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Asia dan Pasifik masih mampu tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan zona euro, meskipun kedua kawasan sama-sama menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global.
Dalam laporan Regional Economic Outlook Oktober 2026, IMF menjelaskan bahwa ekonomi Asia dan Pasifik masih cukup kuat menghadapi berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut antara lain didukung oleh meningkatnya permintaan produk teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta kemampuan sejumlah negara menyesuaikan kegiatan perdagangan dan ekonominya.
Selain itu, Asian Development Bank (ADB) mencatat bahwa subsidi energi di sejumlah negara Asia turut membantu menahan kenaikan harga minyak dan gas agar tidak seluruhnya langsung dibebankan kepada masyarakat.
Bantuan tersebut dapat meringankan pengeluaran rumah tangga, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan tekanan akibat mahalnya kebutuhan sehari-hari.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)

Leave a comment