Jakarta, CNBC Indonesia – Akhir pekan lalu, erupsi Anak Gunung Krakatau terjadi. Abu vulkaniknya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk Lampung hingga Jakarta.
Kejadian lebih dahsyat pernah terjadi 143 tahun lalu. Pada 1883, Gunung Krakatau meletus. Dampaknya tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan banyak negara di dunia.
Letusan Gunung Krakatau terjadi 27 Agustus 1883, diperkirakan sama dengan bom berkekuatan 200 megaton. Abu yang berada di langit menyebabkan warna langit yang berubah.
Biasanya saat Matahari terbenam, langit akan berubah menjadi merah. Namun saat udara penuh gas dan abu, gelombang cahaya merah terpendar dan menyisakan gelombang cahaya hijau giok.
Warna langit yang berubah itu disebut juga menjadi inspirasi lukisan The Scream karya Edvard Munch serta kemunculan gaya lukisan dengan warna yang tajam hasil karya Monet, Manet, Van Gogh, hingga Renoir.
Efek serupa juga membuat warna Bulan yang biasanya perak menjadi biru. Ini terjadi selama berbulan-bulan setelah letusan terjadi.
“Setelah jam 5 pagi, cakrawala di barat seperti terbakar warna merah menyala. Orang-orang di jalan tertegun melihat pemandangan tidak biasa. Awan yang berwarna gelap makin lama berubah menjadi warna merah darah, begitu juga laut,” tulis artikel The New York Times yang terbit November 1883.
A drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG). Foto: via REUTERS/PVMBG
|
Semburannya juga menghancurkan 165 desa dan menewaskan 36 ribu orang. Tsunami juga terjadi, dan ribuan orang di Sumatra tewas akibat awan panas serta material vulkanik.
Selain itu, letusan Gunung Krakatau terdengar hingga 310 desibel. Kabarnya sangat keras hingga membuat orang sejauh 64 kilometer menjadi tuli.
Tak hanya itu, suhu rata-rata global turun 0,6 derajat Celcius selama beberapa bulan setelah kejadian. Karena abu dan gas menghalangi cahaya Matahari masuk.
(dem/dem)

Leave a comment