Home Finance Fundamental Kinclong, Saham Bank Kok Dibuang Investor?
Finance

Fundamental Kinclong, Saham Bank Kok Dibuang Investor?

Share
Fundamental Kinclong, Saham Bank Kok Dibuang Investor?
Share




Jakarta, CNBC Indonesia — Kinerja bank-bank jumbo terlihat kuat hingga paruh pertama tahun ini. Pun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyampaikan bahwa revisi rencana bisnis bank (RBB) untuk sisa paruh kedua tahun ini tidak signifikan.

Sebagai informasi sudah ada dua bank besar yang melaporkan kinerja paruh pertama tahun ini. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) membukukan laba Rp 2,4 triliun, naik 40,8% secara tahunan (yoy) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang mengantongi Rp 30,4 triliun, tumbuh 24,4% yoy. 

Pun laba bank besar lain diproyeksi tumbuh kuat. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melaporkan laba secara individu per Mei 2026 sebesar Rp 20,42 triliun, naik 9,52% yoy. Lalu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) pada periode yang sama naik 7,06% yoy menjadi Rp 9,05 triliun.

Akan tetapi nyatanya fundamental ciamik bank-bank besar tersebut tidak tercermin dalam kinerja saham hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk seiring dengan emiten perbankan yang terkikis cukup dalam. 

Mengutip Refinitiv, BMRI menjadi pemberat utama IHSG dengan bobot -22,11 poin, BBCA 12,45 poin, dan BBNI -3,72 poin. Sementara itu, IHSG turun lebih dari 100 poin. 

Analis membeberkan sejumlah penyebab utama harga saham perbankan belum bangkit. Di antaranya adalah arus keluar dana asing dan kebijakan suku bunga acuan.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan pergerakan saham perbankan yang belum kuat saat ini bukan disebabkan oleh memburuknya fundamental. Namun, tekanan utama masih berasal dari arus dana asing yang belum sepenuhnya kembali ke pasar saham Indonesia.

Ia menyebut saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI merupakan salah satu proxy utama investor asing di IHSG karena memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, serta bobot yang signifikan dalam indeks.

“Jadi, ketika investor asing masih melakukan penjualan, tekanan biasanya paling cepat terlihat pada saham-saham bank tersebut,” jelas Ekky kepada CNBC Indonesia, Jumat (24/7/2026).

Ia memaparkan bahwa secara kumulatif, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia sekitar US$3,9 miliar hingga Juni 2026. Pada pertengahan Juli, tekanan jual asing juga masih terlihat pada sejumlah big banks, termasuk BBCA dan BBRI.

Selain itu, Ekky menyorot penguatan saham bank sebelumnya sudah cukup tinggi dari area terendah dan lebih banyak bersifat technical rebound.

“Ketika laporan keuangan dirilis sesuai ekspektasi dan belum memberikan kejutan yang jauh lebih positif, investor cenderung melakukan profit taking,” tuturnya.

Ia menyebut pasar juga masih mencermati kualitas pertumbuhan laba, terutama perkembangan margin bunga bersih (NIM), biaya pendanaan (cost of fund), dan biaya kredit (cost of credit), bukan hanya pertumbuhan laba bersih.

Pekan ini, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Sepanjang tahun ini, suku bunga acuan bank sentral RI itu sudah naik 100 basis poin (bps).

Ekky menilai keputusan menahan suku bunga memang cukup positif karena mengurangi risiko tambahan kenaikan biaya dana dan perlambatan kredit. Namun, menurutnya, BI masih perlu menjaga stabilitas Rupiah dan menarik kembali aliran modal asing di tengah tingginya harga minyak serta ketidakpastian global. Dengan kata lain, sentimen makro terhadap saham bank belum sepenuhnya kondusif.

“Jadi, selama arus dana asing belum berbalik menjadi net buy secara konsisten, pergerakan saham perbankan kemungkinan masih cenderung fluktuatif dan sulit mengalami penguatan yang merata,” kata Ekky.

Ia melanjutkan, fundamental sektor perbankan masih cukup kuat, tetapi kenaikan harga saham membutuhkan konfirmasi berupa stabilitas rupiah, perbaikan margin, kualitas aset yang tetap terjaga, serta kembalinya dana asing secara berkelanjutan.

Sementara itu, Managing Director Solstice Indonesia, Handiman menyebut prospek kinerja perbankan di semester II 2026 masih cukup menantang. Hal ini tidak terlepas dari tingginya suku bunga acuan yang mengerek beban pendanaan.

Selain itu, Handiman mengatakan likuiditas perbankan juga makin ketat, yang ditunjukkan oleh spread Indonia yang melebar di atas BI Rate. Kemudian, rasio perbandingan pinjaman dengan simpanan alias loan to deposit ratio (LDR), serta terus meningkat dan besarnya dana yang terserap ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Handiman menambahkan, naiknya inflasi akibat kenaikan BBM non-subsidi, pelemahan kurs, dan gangguan rantai pasok global juga berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit dan mengakibatkan perburukan aset kredit yang tercermin dari rasio nonperforming loan (NPL).

“Beberapa bank tetap memasang target pertumbuhan kredit yang konservatif meskipun kredit semester 1 2026 jauh di atas target tahunan,” tutur Handiman.

(mkh/mkh)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *