
Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena memilukan tengah melanda China. Jutaan warga yang menganggur ketahuan memilih berpura-pura berangkat kerja setiap hari demi menyembunyikan status mereka dari keluarga.
Mengutip Reuters, Rabu (21/10/2026), fenomena ini menjadi cara bagi para pengangguran untuk menjaga gengsi di tengah memburuknya pasar tenaga kerja, krisis properti, dan gelombang efisiensi akibat kecerdasan buatan (AI). Besarnya fenomena tersebut juga terlihat dari maraknya pembahasan di media sosial.
Di media sosial, unggahan berisi tips menghabiskan waktu di luar rumah, cara menghindari pertanyaan keluarga tentang pekerjaan, hingga catatan harian para “pekerja pura-pura” telah meraup lebih dari 70 juta penayangan di RedNote, 610 juta di Douyin atau TikTok versi China, dan 320 juta di Weibo.
Coco Li (32), mantan karyawan perusahaan properti milik negara, mengaku hampir ketahuan menyembunyikan statusnya setelah mempertimbangkan untuk membagikan foto makan siang buatan sendiri di grup keluarga. Ia mengurungkan niat tersebut karena khawatir ibunya akan bertanya mengapa ia tidak berada di kantor.
Li sendiri telah berhenti bekerja lebih dari enam bulan lalu akibat beban kerja berlebihan dan minimnya apresiasi perusahaan.
“Dia (ibunya) akan jatuh ke dalam siklus kecemasan yang tak berujung dan akhirnya menularkan kecemasan itu kepada saya,” kata Li. “Kekhawatiran ibu tidak bisa benar-benar menyelesaikan masalah saya.”
Para analis menilai fenomena ini mencerminkan tekanan di pasar tenaga kerja China, terutama di tengah persaingan ketat yang dihadapi industri berorientasi ekspor.
Data kuartal ketiga menunjukkan produsen berupaya bertahan dengan memangkas harga dan jumlah karyawan, sementara staf yang tersisa harus menanggung beban kerja lebih besar. Situasi ini diperburuk oleh krisis properti berkepanjangan dan kondisi keuangan pemerintah daerah yang semakin ketat.
Profesor Madya Politik China di Universitas Cornell, Diana Fu, menilai praktik berpura-pura bekerja memungkinkan warga menjaga harga diri sekaligus meredam potensi ketidakpuasan sosial.
“Pekerja pura-pura ini membantu pemerintah China menghindari pilihan sulit antara melompat maju dalam otomatisasi dan melindungi keamanan kerja, yang sangat penting bagi kontrak sosial,” ujarnya.
Di media sosial, para pengangguran berbagi rutinitas untuk mengisi hari, mulai dari berdiam diri di taman dan perpustakaan hingga menghabiskan waktu di kafe serta pusat perbelanjaan. Fenomena ini mengingatkan pada pengalaman pekerja di Korea Selatan dan Jepang yang menyembunyikan status pengangguran mereka selama krisis keuangan Asia pada 1990-an.
Zhang (36), produser efek visual yang kehilangan pekerjaan akibat perampingan berbasis AI pada Agustus lalu, mengaku terkejut melihat ramainya perpustakaan pada hari kerja.
“Saya tidak akan pernah percaya bahwa perpustakaan akan terisi penuh pada hari kerja,” katanya.
Susan Sun (28) juga menyembunyikan status PHK-nya dari sebuah perusahaan internet sejak akhir tahun lalu. Situasi semakin sulit pada Mei, ketika ibu dan ayah tirinya pindah untuk tinggal bersamanya di Chongqing.
Sun terpaksa meninggalkan rumah sebelum pukul 09.00 dan baru kembali setelah pukul 18.00 agar keluarganya tidak mengetahui bahwa ia menganggur. Kini, ia bertahan hidup dengan sisa uang pesangon dan tunjangan pengangguran sebesar 1.864 yuan atau sekitar Rp5.032.800 per bulan.
“Mereka menularkan kecemasan kepada saya melalui ekspresi dan nada suara yang halus, tetapi mendesak,” ujarnya.
Asisten Profesor Sosiologi di Universitas Buffalo, Yige Dong, mengingatkan bahwa jaring pengaman sosial China yang relatif terbatas dibandingkan Jepang dan Korea Selatan dapat membuat para pengangguran kesulitan mempertahankan sandiwara tersebut. Ketika tekanan keuangan meningkat, mereka mungkin harus mencari bantuan dari keluarga dan kerabat.
“Individu mungkin akan lebih peduli dengan mengumpulkan sumber daya dari semua sumber yang tersedia, termasuk meminjam dari anggota keluarga dan kerabat,” kata Dong.
(tfa/tps)
Leave a comment