
Jakarta, CNBC Indonesia – Kebijakan Azerbaijan yang membatasi penggunaan hijab di sekolah memicu gelombang protes. Ini terjadi setelah sejumlah siswa dan guru dilaporkan dilarang mengikuti kegiatan belajar-mengajar karena mengenakan penutup kepala bagi wanita Muslim.
Aturan yang disahkan melalui amandemen bulan lalu itu menjadi sorotan karena dinilai berbenturan dengan kebebasan beragama. Seorang guru bernama Zahra Hasanova mengaku terluka setelah diberi tahu bahwa ia tidak boleh lagi mengenakan hijab di sekolah.
“Hijab adalah pilihan pribadi, dan jika suatu hari nanti saya ingin melepasnya, itu pun seharusnya menjadi pilihan saya sendiri,” ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (13/10/2026).
Amandemen tersebut tidak secara eksplisit melarang hijab, tetapi membatasi pakaian di sekolah yang dinilai bertentangan dengan “prinsip sekularisme”. Kantor berita negara Azerbaijan, APA, menyatakan aturan seragam itu bertujuan menciptakan standar berpakaian yang seragam di lembaga pendidikan umum negeri. Meski demikian, pakaian yang mencerminkan sejarah, budaya, serta nilai nasional dan moral Azerbaijan dapat digunakan dalam acara perayaan dengan persetujuan dewan sekolah.
Kebijakan ini menuai kritik di negara yang sekitar 96% penduduknya beragama Islam. Konstitusi Azerbaijan memang menetapkan negara tersebut sebagai negara sekuler, tetapi juga menjamin kebebasan beragama. Di media sosial, beredar video siswa yang menangis dan memeluk guru mereka setelah sang guru dilarang masuk sekolah karena mengenakan hijab. Media lokal juga melaporkan aksi boikot kelas di sedikitnya dua sekolah.
Penolakan turut disuarakan jurnalis Polad Aslanov yang sedang menjalani hukuman penjara setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi pada 2020. Ia melakukan mogok makan untuk memprotes aturan tersebut.
“Meski berada di penjara, saya menyuarakan penolakan terhadap pelanggaran hak-hak konstitusional kami dengan menggunakan satu-satunya cara perjuangan yang tersedia bagi saya, yaitu mogok makan!” tulis Aslanov dalam pesan yang diunggah istrinya, Gulmira Aslanova, di Facebook.
Gelombang protes juga meluas ke Turki. Sejumlah demonstran berkumpul di depan Konsulat Azerbaijan di Istanbul, menolak pembatasan hijab yang mengingatkan pada kebijakan Turki pada 1997, ketika perempuan berjilbab dilarang kuliah di universitas dan menghadapi pembatasan dalam pekerjaan sebagai pegawai negeri.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menyinggung protes tersebut dalam pidatonya di kongres Partai Azerbaijan Baru. Tanpa menyebut Turki secara langsung, ia memperingatkan pihak lain agar tidak “mencampuri gaya hidup kami”.
Pemerintah Turki belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan itu, meski Presiden Recep Tayyip Erdogan sebelumnya menyinggung meningkatnya diskriminasi terhadap perempuan Muslim dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada 23 September.
Hingga kini, kebijakan tersebut terus menjadi perdebatan antara penerapan prinsip sekularisme dan perlindungan kebebasan beragama. Sementara itu, laporan mengenai pemutusan akses internet di Azerbaijan belum dikonfirmasi oleh lembaga pemantau seperti Open Observatory of Network Interference dan NetBlocks.
(tfa)
Leave a comment