
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Setiap musim kemarau, Indonesia kembali menghadapi masalah kebakaran hutan dan lahan. Saat api muncul, perhatian semua orang tertuju pada jumlah titik panas, luas lahan yang terbakar, kualitas udara, dan kapasitas pemerintah dan perusahaan untuk memadamkan api.
Tetapi apa yang terjadi dengan tanah setelah kebakaran? Ini adalah pertanyaan yang jauh lebih penting yang sering kali diabaikan: apa yang terjadi dengan tanah setelah kebakaran?
Ketika ungkapan populer, “Habis kebakaran, terbitlah sawit,” muncul di masyarakat, pertanyaan ini menjadi penting. Kebakaran hutan dan lahan memiliki penyebab yang kompleks. Dengan cara yang sama, tidak semua perkebunan sawit dibangun di atas lahan yang telah terbakar sebelumnya. Namun demikian, frasa tersebut harus diinterpretasikan sebagai sebuah peringatan untuk sistem manajemen pembangunan berbasis lahan. Permasalahan utama bukan hanya apakah kebakaran terjadi untuk membuka lahan; masalah yang lebih mendasar adalah apakah sistem ekonomi, investasi, dan tata kelola lahan kita memungkinkan kerusakan lingkungan mengubah alam menjadi lebih menarik untuk pengembangan. Jika jawabannya masih dapat diterima, maka Indonesia memiliki masalah struktural yang perlu ditangani segera.
Paradoks Investasi Lahan
Paradigma investasi konvensional melihat kelapa sawit sebagai instrumen investasi yang sangat jelas. Investor menghitung nilai tanah, biaya pengembangan, produktivitas, harga CPO, arus kas, tingkat pengembalian internal (IRR), nilai aktual (NPV), dan waktu pengembalian.
Pertanyaan dasar adalah berapa banyak investasi yang harus dilakukan dan berapa banyak keuntungan yang akan dihasilkan?
Industri sawit Indonesia telah berkembang secara signifikan sebagai hasil dari model tersebut, yang juga berkontribusi besar pada ekonomi negara. Tetapi dunia telah berubah. Jika seseorang ingin melakukan investasi di sektor sawit, mereka tidak lagi hanya menghadapi masalah harga dan produksi. Mereka sekarang harus mempertimbangkan hal-hal seperti kebakaran, deforestasi, emisi karbon, biodiversitas, konflik sosial, akses pasar, reputasi, pembiayaan, dan regulasi.
Apabila perkebunan dibangun di lingkungan alam yang memiliki nilai ekologis tinggi atau menghadapi tekanan pasar dan pembiayaan akibat risiko keberlanjutan, itu dapat menjadi investasi yang berisiko. Akibatnya, ukuran keberhasilan investasi berbasis lahan tidak lagi terbatas pada pengembalian finansial. Investasi sekarang harus beralih ke Integrated Value Return, yang mempertimbangkan nilai finansial, nilai alam, nilai sosial, dan ketahanan investasi jangka panjang.
Api Tidak Boleh Menjadi Instrumen Ekonomi. Di sinilah isu kebakaran menjadi sangat penting.
Hutan atau bentang alam yang tetap utuh memiliki nilai ekologis yang tinggi. Namun, harga pasar tidak selalu menunjukkan nilai dalam banyak model ekonomi konvensional. Hutan menyediakan air, menyimpan karbon, melindungi tanah, menjaga iklim mikro, menyediakan habitat satwa, dan menjadi sumber kehidupan manusia. Namun, banyak keuntungan tidak menghasilkan uang langsung, sehingga nilai hutan seringkali tidak dicatat dengan baik dalam neraca investasi.
Sebaliknya, ketika suatu wilayah mengalami degradasi, ia dapat kehilangan sebagian nilai ekologisnya, tetapi tetap dianggap sebagai wilayah yang memiliki potensi ekonomi yang besar. Ini adalah paradoks yang perlu diselesaikan. Kita tidak boleh membangun sistem pembangunan yang secara tidak langsung menciptakan gagasan bahwa hutan utuh menghalangi investasi sementara lahan yang rusak menawarkan peluang investasi.
Tidak ada stimulus ekonomi dari kerusakan lingkungan harus diterapkan. Kerusakan lingkungan yang menghasilkan keuntungan ekonomi tidak boleh terjadi. Api tidak boleh digunakan untuk mengurangi nilai ekologis sebuah wilayah dan kemudian menjadikannya lebih menarik secara ekonomi.
Setelah kebakaran, kawasan tidak boleh otomatis diperlakukan sebagai lahan kosong. Yang harus dilakukan adalah: Assess – Protect – Recover – Restore – Monitor. Bukan: Burn – Degrade – Convert.
Sawit Tidak Harus Dikaitkan dengan Perluasan
Selain itu, kita harus bersikap objektif terhadap industri kelapa sawit. Salah satu sektor strategis Indonesia adalah sawit. Industri ini mendorong pertumbuhan wilayah, mendorong ekonomi lokal, dan memberikan pendapatan kepada jutaan masyarakat. Oleh karena itu, diskusi tentang sawit tidak boleh berhenti pada perdebatan hitam-putih tentang “sawit atau hutan”.
Di mana sawit dibuat adalah pertanyaan yang lebih penting. Bagaimana sawit diproduksi? Bagaimana nilai alam dapat dipertahankan? Masa depan sawit tidak akan ditentukan oleh jumlah lahan yang dibuka. Sebaliknya, masa depan sawit akan ditentukan oleh peningkatan dalam hal produktivitas, efisiensi, teknologi, ekonomi sirkular, kolaborasi dengan petani, pengurangan emisi, dan perlindungan biodiversitas.
Paradigma baru harus berubah dari gagasan bahwa lebih banyak tanah menghasilkan lebih banyak biji palm menjadi gagasan bahwa manajemen yang lebih baik menghasilkan nilai yang lebih berkelanjutan. Konsep “tanah yang tepat” dapat dimulai dengan gagasan bahwa nilai alam adalah dasar dari keputusan investasi.
Apakah lahan ini tepat untuk dikembangkan? Ini adalah pertanyaan pertama yang harus dijawab sebelum berbicara tentang investasi, pembangunan kebun, atau produksi. Bukan hanya itu, apakah lahan ini dapat diakses? Tidak ada bukti bahwa lahan yang tersedia layak dikembangkan.
Setiap investasi berbasis lahan harus mempertimbangkan status dan kepastian hukum, nilai karbon, biodiversitas, integritas ekosistem, fungsi tata air, risiko kebakaran, risiko gambut, konektivitas habitat, nilai sosial masyarakat, risiko konflik, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Suatu bentang alam dapat dikategorikan menjadi satu dari tiga kategori berdasarkan penilaian ini: Bentang Alam Perlindungan-bentang alam yang memiliki nilai alam yang harus dilindungi; Bentang Alam Kondisional-bentang alam yang membutuhkan penelitian dan persyaratan pengelolaan yang ketat; atau Bentang Alam Pengembangan dan Optimasi-bentang alam yang secara hukum sesuai dan berdasarkan penelitian memiliki risiko ekologis yang relatif rendah untuk pengembangan atau optimalisasi.
Oleh karena itu, prinsip investasi harus diubah menjadi: Land yang Benar Sebelum Investasi dengan menggunakan metode Natural Positive Index: New Instrument for Land Evaluation.
NATURAL POSITIVE INDEX (NPI)
Indonesia membutuhkan alat yang dapat memasukkan nilai alam ke dalam proses kebijakan dan pengambilan keputusan investasi. Salah satu ide yang dapat dibuat Adalah Natural Positive Index. Ketika menggunakan Natural Positive Index, Anda dapat mengetahui seberapa besar nilai dan kontribusi positif bentang alam terhadap keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan kehidupan. Banyak aspek penting dapat digabungkan ke dalam indeks ini. Pertama adalah Nilai Karbon, yang menunjukkan kemampuan kawasan untuk menyimpan dan menyerap karbon. Kedua adalah Nilai Biodiversitas, yang menunjukkan kekayaan spesies, kualitas habitat, dan keberadaan spesies dan ekosistem penting di kawasan tersebut. Ketiga adalah Nilai Air dan Jasa Ekosistem, yang menunjukkan kemampuan kawasan untuk menjaga tata air dan menyediakan jasa ekosistem. Keempat adalah Integritas Ekosistem, yang menunjukkan tingkat kesehatan, keutuhan, dan ketahanan ekosistem. Kelima, ketahanan terhadap iklim dan kebakaran. Keenam, nilai masyarakat, yang mencakup manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat. Ketujuh, Koneksi Alam: Peran kawasan dalam menjaga konektivitas antara ekosistem dan habitat Setiap kawasan dapat memperoleh NATURAL POSITIVE INDEX (NPI) berdasarkan berbagai parameter tersebut. Skor yang lebih tinggi menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai strategis yang lebih besar sebagai modal alam.
Karena itu, wilayah dengan indeks positif alam tinggi tidak boleh dianggap sebagai bank tanah atau cadangan pembangunan; sebaliknya, mereka harus dianggap sebagai kekayaan alam yang harus dilestarikan.
Dari Land Bank Menuju Natural Capital Bank
Selama ini, perusahaan berbasis lahan memiliki banyak land bank yang dimiliki, yang merupakan bukti kekuatan mereka. Ke depan, perusahaan seharusnya mulai membangun konsep yang disebut Natural Capital Bank.
Perusahaan memiliki pemahaman tentang nilai alam di dalam dan sekitar wilayah operasinya, serta jumlah tanah yang dikuasai. Namun, apakah penting untuk mengetahui berapa nilai karbonnya? Seberapa penting biodiversitas? Berapa luas wilayah yang perlu dilindungi? Berapa fungsi tata air yang perlu dipertahankan? Berapa nilai yang diperlukan untuk restorasi? Bagaimana pengaruh seluruh nilai tersebut terhadap risiko dan ketahanan investasi?
Dengan metode ini, portofolio bisnis tidak lagi terdiri dari tanah + perkebunan + pabrik + infrastruktur, tetapi berubah menjadi tanah + produksi + modal alam + nilai masyarakat. Ini adalah perubahan besar dalam cara kita melihat investasi.
Right Nature: Alam sebagai Bagian dari Investasi
Jika Right Land memastikan investasi dilakukan pada lokasi yang tepat, Right Palm memastikan praktik perkebunan yang tepat menghasilkan nilai ekonomi.
Ekspansi tidak lagi menjadi penggerak pertumbuhan. Peningkatan produktivitas, pemupukan ulang, penggunaan teknologi, pertanian yang tepat, efisiensi pupuk dan air, efisiensi energi, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, pengurangan emisi, dan kolaborasi petani adalah semua cara yang dapat menghasilkan nilai ekonomi. Oleh karena itu, meningkatkan produksi tidak selalu berarti membangun lahan baru. Ini adalah jenis investasi sawit masa depan yang lebih hemat biaya dan tahan terhadap risiko.
Right Nature: Alam sebagai Bagian dari Investasi
Selama ini, alam sering dianggap sebagai penghalang investasi; namun, di masa mendatang, alam harus dimasukkan sebagai bagian dari nilai investasi. Keberlanjutan ekonomi bergantung pada layanan yang ditawarkan oleh hutan dan ekosistem yang sehat, seperti air, iklim, perlindungan tanah, dan ketahanan terhadap bencana. Akibatnya, menjaga wilayah dengan Natural Positive Index tinggi bukan hanya tanggung jawab lingkungan. Perlindungan ini mencakup manajemen risiko investasi dan penciptaan nilai jangka panjang. Ketika bisnis mempertahankan sumber daya alamnya, mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk membangun ketahanan bisnis, kepercayaan investor, akses ke pembiayaan yang berkelanjutan, dan legitimasi sosial.
HABIS KEBAKARAN, TERBITLAH SAWIT menjadi HABIS KEBAKARAN, TERBITLAH PEMULIHAN. Karena pada akhirnya, investasi terbaik bukanlah investasi yang menghasilkan keuntungan paling cepat. Investasi terbaik adalah investasi yang mampu menghasilkan nilai ekonomi tanpa mengurangi kemampuan alam untuk menopang kehidupan dan pertumbuhan di masa depan.
RIGHT LAND. RIGHT PALM. RIGHT NATURE. Invest in the Right Land. Grow the Right Palm. Protect the Right Nature.
(hoi/hoi)
Leave a comment