Home Finance Harga Batu Bara Diramal Bisa Tembus US$ 200, Kuncinya Ada di RI
Finance

Harga Batu Bara Diramal Bisa Tembus US$ 200, Kuncinya Ada di RI

Share
Harga Batu Bara Diramal Bisa Tembus US$ 200, Kuncinya Ada di RI
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar batu bara global menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Di satu sisi, harga batu bara di China mulai bergerak beragam. Di sisi lain, risiko gangguan pasokan global justru membuka peluang lonjakan harga yang signifikan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (30/9/2026) ditutup di US$ 147,2 per ton. Harganya naik 0,55%.

Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya melemah pada Selasa.

Dalam sebulan, harga batu bara menguat 2,22%. Artinya, harga batu bara sudah menguat tiga bulan beruntun.



Di China, harga batu bara termal di mulut tambang mulai tertekan karena restocking menjelang libur Mid-Autumn Festival dan National Day mulai selesai. Pada 28 September 2026, dari 117 tambang yang disurvei Sxcoal, sebanyak 19 tambang memangkas harga, sembilan menaikkan harga, dan 89 mempertahankannya.

Penurunan harga berada di kisaran CNY10-30 per ton.

Namun, pelemahan tersebut belum menunjukkan tekanan besar di seluruh pasar. Harga batu bara di pelabuhan utara China relatif stabil, sementara stok di Qinhuangdao pada 28 September mencapai 6,25 juta ton, naik 2,46% dari pekan sebelumnya.

 

Pasar impor juga masih mendapat dukungan. Batu bara Indonesia berkalori 3.800 kcal/kg NAR berada di sekitar US$76/ton FOB, relatif stabil, meski pasokan yang terbatas mulai menopang harga.

Harga Batu Bara bisa Tembus US$ 200?

Kondisi China tersebut berbanding terbalik dengan risiko yang dipetakan CRU Group. Harga batu bara termal benchmark Newcastle 6.000 kcal/kg berpotensi menembus jauh di atas US$200/ton pada akhir 2026 jika sejumlah risiko terjadi bersamaan.

Namun, CRU menekankan ini adalah skenario risiko kenaikan (upside scenario), bukan proyeksi dasar. Perusahaan juga melihat risiko penurunan harga, salah satunya jika fenomena Super El Niño menekan permintaan batu bara.

Dalam skenario konflik berkepanjangan, CRU memperkirakan harga LNG dapat mencapai sekitar US$40/MMBtu pada Desember 2026, atau sekitar €120/MWh. Harga LNG yang semakin mahal akan meningkatkan daya tarik batu bara sebagai bahan bakar pembangkit.

CRU menggunakan hubungan historis harga LNG dan batu bara. Pada periode 2021-2023, setiap kenaikan US$1/MMBtu pada harga LNG Asia Timur dan Eropa berkorelasi dengan kenaikan sekitar US$6-US$20/ton pada harga batu bara Newcastle 6.000 kcal/kg.

Dengan asumsi rasio sensitivitas 5:1, CRU memperkirakan harga batu bara dapat menembus US$200/ton.

Dalam proyeksi CRU, Indonesia menjadi kunci. CRU memperingatkan pasokan ekspor Indonesia bisa turun drastis pada kuartal IV 2026 jika pemerintah benar-benar mempertahankan target produksi 600 juta ton dan menerapkannya secara ketat. Target tersebut jauh di bawah target 2025 sebesar 740 juta ton.

 

Jika ekspor Indonesia hampir hilang dari pasar pada kuartal IV, pasar batu bara global akan mengalami pengetatan pasokan yang tajam. CRU menilai risiko tersebut sendiri sudah cukup untuk mendorong harga Newcastle 6.000 kcal/kg jauh di atas US$200/ton.

Kombinasi LNG mahal dan pasokan batu bara Indonesia yang mengetat menjadi ancaman besar bagi harga batu bara global.

Dengan demikian, pasar batu bara saat ini menghadapi tarik-menarik. Permintaan China yang mulai melambat dan meningkatnya ekspektasi produksi menekan harga, tetapi pasokan spot yang terbatas serta risiko geopolitik dan pembatasan produksi Indonesia menjadi penahan penurunan.

Jika tekanan pasokan global benar-benar terjadi, pelemahan harga di China bisa saja hanya menjadi fenomena sementara. Pasar batu bara global masih menyimpan potensi lonjakan harga jika dua risiko besar tersebut muncul bersamaan.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *