Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara Newcastle kembali menguat sepanjang pekan ini. Kontrak NCFMc2 mengakhiri perdagangan Jumat (17/7/2026) pada US$133,35 per ton, naik 3,57% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya sebesar US$128,75 per ton.
Harga sempat bergerak terbatas di sekitar US$130-US$131 pada awal pekan. Namun, pembelian kembali meningkat dalam dua hari terakhir, membawa batu bara mencatatkan posisi penutupan tertinggi pekan ini.
China Menyedot Pasokan Global
Penguatan batu bara terutama ditopang perkembangan di China. Gelombang panas membawa kebutuhan listrik negara tersebut mencapai rekor sekitar 1,55 miliar kilowatt pada pertengahan Juli.
Kebutuhan batu bara pembangkit meningkat ketika produksi domestik China masih dibayangi inspeksi keselamatan tambang setelah kecelakaan besar di Shanxi. Kondisi tersebut membuat China meningkatkan pembelian dari pasar internasional.
Impor batu bara China pada Juni mencapai 42,78 juta ton, melonjak 28,6% dibandingkan Mei dan 29,5% secara tahunan. Sebagai konsumen batu bara terbesar dunia, peningkatan pembelian China berpengaruh besar terhadap ketersediaan kargo di pasar Asia.
Permintaan dari Jepang dan Korea Selatan turut menopang batu bara berkalori tinggi seperti Newcastle. Harga LNG Asia yang masih mahal membuat negara-negara tersebut mempertahankan batu bara sebagai pengaman pasokan listrik.
India Menahan Laju Kenaikan
Gambaran dari India sedikit berbeda. Gelombang panas dan lemahnya curah hujan meningkatkan penggunaan pembangkit batu bara. Konsumsi batu bara untuk pembangkit pada Juni bahkan mencapai level tertinggi sejak 2023.
Namun, India sedang berupaya memenuhi kebutuhan tersebut melalui produksi domestik. Impor batu bara India pada April turun hampir 13% secara tahunan, sedangkan impor batu bara termal sepanjang Januari-Mei berada pada level terendah dalam empat tahun.
Artinya, China sedang menarik lebih banyak batu bara dari pasar global, sementara India belum agresif bersaing mendapatkan pasokan impor. Kondisi ini membuat harga naik, tetapi belum cukup untuk menciptakan lonjakan seperti yang terjadi pada pertengahan Juni.
Dari sisi pasokan, kebijakan perdagangan Indonesia sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia tetap perlu diperhatikan. Perubahan tata kelola ekspor dapat menambah ketidakpastian, meskipun sejauh ini belum muncul pembatasan ekspor tambahan.
Dengan kombinasi permintaan listrik China yang tinggi, gangguan produksi domestik, dan mahalnya LNG Asia, harga Newcastle berpeluang melanjutkan kenaikan menuju US$135-US$137 per ton dalam waktu dekat.
Jika China terus meningkatkan impor dan cuaca panas bertahan, harga berpotensi menguji US$140 per ton. Namun, stok pelabuhan China yang masih tinggi serta lemahnya permintaan impor India kemungkinan membuat penguatan berlangsung bertahap. Gambaran utamanya masih positif, tetapi lebih menyerupai pemulihan menuju US$137 daripada awal lonjakan harga baru.
(gls/gls)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment