
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara akhirnya turun setelah terbang tiga hari.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (20/10/2026) ditutup di posisi US$ 153,55 per ton. Harganya ambruk 1,6%.
Pelemahan ini memutus reli tiga hari beruntun sebelumnya dengan penguatan 2,8%.
Kendati melemah, harga batu termal di Asia diperkirakan bertahan tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Pasalnya, permintaan menguat di tengah peralihan penggunaan gas ke batu bara, sementara pasokan dari China dan Indonesia mengalami tekanan.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyebut kombinasi penurunan produksi batu bara China, ketidakpastian ekspor Indonesia, serta meningkatnya kebutuhan batu bara di Jepang dan Korea Selatan akan menopang harga dalam waktu dekat.
Harga batu bara di China bahkan telah mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini terjadi ketika pasokan dari Indonesia, salah satu eksportir utama dunia, masih terbatas akibat kebijakan pemerintah dan gangguan logistik.
Ekspor batu bara Indonesia tertekan oleh pemangkasan kuota produksi bagi perusahaan tambang serta ketidakpastian kebijakan di sektor pertambangan dan ekspor.
Selain itu, fenomena El Niño yang kuat menyebabkan curah hujan berkurang dan permukaan air sungai menyusut. Kondisi tersebut menghambat pergerakan tongkang pengangkut batu bara menuju pelabuhan ekspor, terutama di Kalimantan.
“Permintaan akibat peralihan dari gas ke batu bara di Jepang dan Korea diperkirakan tetap kuat, didorong konflik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong harga regional, terutama untuk batu bara berkalori tinggi,” kata Fitch Ratings dalam laporannya.
Sebagai gambaran, harga batu bara acuan global Newcastle berjangka telah melonjak sekitar 30% dibandingkan level sebelum perang.
Produksi China Turun, Pasokan Ikut Tertekan
Tekanan pasokan juga terjadi di China. Produksi batu bara domestik negara tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada Mei 2026, kecelakaan tambang mematikan yang menjadi yang terburuk dalam 16 tahun mendorong pemerintah China memperketat pemeriksaan keselamatan dan memerintahkan penghentian aktivitas di sejumlah tambang, khususnya di Provinsi Shanxi yang merupakan salah satu pusat produksi batu bara utama.
Data pemerintah China menunjukkan produksi batu bara mentah pada September naik 6,4% dibandingkan Agustus, mencapai level tertinggi sejak Mei. Namun, produksinya masih 6,8% lebih rendah dibandingkan September tahun lalu.
Kondisi ini memperketat keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar batu bara Asia, terutama ketika kebutuhan pembangkit listrik kembali meningkat akibat peralihan dari gas ke batu bara.
Impor Batu Bara China dari Australia Melonjak
Di tengah keterbatasan pasokan, China meningkatkan pembelian batu bara dari Australia. Data bea cukai yang dilaporkan Reuters pada Selasa kemarin menunjukkan impor batu bara Australia mencapai 9,81 juta ton pada September, melonjak 56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2020, sebelum ketegangan politik antara Beijing dan Canberra mengganggu perdagangan batu bara kedua negara pada 2021-2022.
Impor batu bara kokas dari Australia untuk kebutuhan industri baja bahkan meningkat lebih dari empat kali lipat menjadi 2,43 juta ton pada September.
Kenaikan ini terjadi ketika pasokan domestik China masih terhambat setelah kecelakaan tambang batu bara kokas di Shanxi pada Mei.
Sebaliknya, impor batu bara dari Indonesia turun 32% secara tahunan menjadi 14,62 juta ton.
China juga meningkatkan pembelian dari Rusia, dengan impor naik 39% menjadi 9,43 juta ton, tertinggi sejak Juni 2024. Sementara itu, pengiriman dari Mongolia turun 8% menjadi 8,56 juta ton pada September, meski secara kumulatif sejak awal tahun masih meningkat 40% menjadi 86,93 juta ton.
China dan Amerika Serikat juga menyepakati rencana impor batu bara sebesar 10 juta ton per tahun pada 2027 dan 2028 dalam pertemuan tingkat tinggi kedua negara bulan lalu. Volume tersebut setara dengan sekitar 2% dari total impor batu bara China setiap tahun.
Sebelumnya, impor batu bara AS oleh China hampir terhenti setelah Beijing memberlakukan tarif balasan sebesar 15% pada Februari 2025. Pada Januari-September 2026, impor dari AS hanya mencapai 29.663 ton, jauh di bawah hampir 12 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
(mae/mae)
Leave a comment