Home Finance Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US$3.600?
Finance

Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US$3.600?

Share
Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US.600?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia terjun ke level terendah dalam setahun pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (30/10/2026).

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 3875,03 per troy ons pada perdagangan Jumat kemarin. Harganya ambruk 3,6%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan jatuh 4,7% dalam dua hari.

Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 2 Oktober 2025 atau lebih dari setahun terakhir (US$ 3.856,01 per troy ons).

Dalam sepekan, harga emas jatuh 3,02% pekan ini. Artinya, emas sudah jatuh selama tiga pekan beruntun.


Secara bulanan, kinerja emas juga buruk dengan melemah 6,76%.


Tekanan terhadap logam mulia datang dari lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang tak kunjung mereda. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kekhawatiran inflasi membuat sejumlah bank sentral tetap mengambil sikap hawkish atau cenderung ketat dalam kebijakan moneter.

“Kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral cenderung mengambil sikap lebih hawkish atau mengetatkan kebijakan moneter,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

 

“Meski bank-bank sentral utama menahan suku bunga pada pekan ini, sinyal yang disampaikan menunjukkan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Kondisi ini menekan harga logam mulia.” Imbuhnya.

Sejumlah bank sentral utama memang menahan kenaikan suku bunga pada pekan ini. Namun, mereka menegaskan bahwa perjuangan melawan inflasi belum berakhir. Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) sama-sama menyoroti risiko inflasi akibat lonjakan biaya energi.

Data yang dirilis Kamis juga menunjukkan inflasi AS meningkat pada September karena konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lainnya. Kondisi ini memperkuat perkiraan ekonom bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

Saham Teknologi Rontok, Emas Ikut Tertekan

Tekanan terhadap emas juga datang dari kejatuhan saham teknologi. Analis Commerzbank menilai penurunan tajam saham teknologi berpotensi memicu aksi jual paksa dan margin call, yakni permintaan tambahan jaminan dari broker ketika nilai aset investor merosot.

Meski demikian, Commerzbank menilai penurunan harga logam mulia sudah berlebihan dan masih memperkirakan adanya pemulihan.

“Kami menilai penurunan harga logam mulia terlalu dalam dan masih memperkirakan harga akan pulih,” ujar Commerzbank.

Permintaan fisik emas di pasar utama Asia juga belum menunjukkan pemulihan berarti. Pembeli di India menunda transaksi karena memperkirakan harga masih bisa turun, sementara permintaan di China sebagai konsumen emas terbesar dunia tetap lesu.

Emas Kehilangan Kenaikan Setahun, Bisa Jatuh ke US$3.600?

Tekanan terhadap emas berpotensi belum berakhir. Harga emas spot kini telah menghapus kenaikan yang dibukukan selama setahun terakhir. Harga logam mulia tersebut diperdagangkan sedikit di bawah US$4.000 per troy ounce, setara dengan level sekitar Halloween tahun lalu dan sekitar 25% di bawah puncaknya pada akhir Februari.

Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics, Kieran Tompkins, memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan lebih lanjut.

Secara historis, harga emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang dilindungi dari inflasi atau Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor 10 tahun. Hubungan tersebut bertahan selama delapan bulan pertama tahun ini, tetapi kembali terputus dalam dua bulan terakhir.

Capital Economics menilai pelemahan dolar AS dalam waktu singkat pada awal September dan pembelian emas oleh bank sentral, khususnya China, sempat menopang harga.

Namun, prospek ke depan dinilai lebih berat. Pertemuan The Fed pekan ini mengindikasikan pergeseran ke arah kebijakan yang lebih hawkish, tercermin dari perubahan bahasa dalam pernyataan kebijakan dan dua pejabat yang berbeda pendapat karena menginginkan kebijakan lebih ketat.

Tim ekonomi AS Capital Economics memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga dua kali lagi, sejalan dengan ekspektasi pasar berjangka. Risiko, menurut mereka, juga cenderung mengarah pada kenaikan suku bunga yang lebih besar.

Ancaman lain datang dari potensi pecahnya gelembung saham AI. Tim pasar Capital Economics memperkirakan risiko tersebut dapat terwujud pada tahun depan. Menariknya, harga emas ikut turun bersama saham teknologi pekan ini, bahkan ketika imbal hasil obligasi justru melemah.

Capital Economics memperkirakan harga emas akan berakhir di level US$3.600 per troy ounce pada akhir 2027, jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan harga sekitar US$4.600 pada kuartal IV-2027.

Jika proyeksi tersebut terwujud, emas masih berpotensi menghadapi tekanan besar setelah kehilangan kenaikan setahun terakhir. Lonjakan energi, inflasi yang membandel, dan prospek suku bunga tinggi kini menjadi kombinasi ancaman bagi logam mulia.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *