Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar minyak global kembali masuk ke fase yang sulit diprediksi.
Sebelum konflik Amerika Serikat (AS)-Iran memanas lagi, pasar sebenarnya mulai percaya tekanan harga akan mereda pada paruh kedua tahun ini. Produksi diperkirakan meningkat, arus ekspor Teluk Persia kembali terbuka, sementara pasokan dunia perlahan bergerak menuju surplus. Skenario itu kini goyah.
Ketegangan yang kembali pecah sejak awal Juli mengubah variabel paling penting dalam pasar minyak, keamanan distribusi.
Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian. Jalur laut selebar sekitar 33 kilometer tersebut menjadi pintu keluar utama minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar hingga Iran. Hampir seperempat perdagangan minyak dunia bergantung pada koridor ini. Gangguan kecil saja langsung memengaruhi harga karena pasar menghitung ulang risiko pasokan.
Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan Selasa (14/7/2026).
Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), harga minak brent melonjak 1,72% ke US$ 84,73 per barel sementara WTI menguat 1,5% ke US$ 79,34 per barel. Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya. Harga minyak brent dan WTI udah melesat 11% dalam dua hari terakhir.
Pada Rabu (15/7/2026) pukul 11.14 WIB, harga minyak brent menguat 1,2% ke US$ 85,74 per barel sedangkan WTI naik 0,9% ke US$ 80,06 per barel.
Kenaikan ini bukan dipicu berkurangnya produksi minyak secara langsung, melainkan meningkatnya premi risiko (risk premium). Pasar bersedia membayar lebih mahal karena ketidakpastian distribusi semakin besar. Dalam perdagangan komoditas, ancaman terhadap jalur pengiriman sering kali memiliki pengaruh yang sama besarnya dengan gangguan produksi.
Kondisi di lapangan mulai menguatkan kekhawatiran tersebut. Data MarineTraffic mencatat hanya 57 kapal yang melintasi Selat Hormuz sepanjang Jumat hingga Minggu lalu.
Angka ini turun lebih dari separuh dibanding pekan sebelumnya. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, rata-rata sekitar 130 kapal melewati jalur tersebut setiap hari.
Serangan terhadap dua kapal tanker di kawasan itu membuat perusahaan pelayaran kembali menaikkan kewaspadaan. Sebagian operator memilih menunda pelayaran, sementara kapal lain menunggu kepastian keamanan sebelum memasuki Teluk Persia. Waktu tunggu yang lebih panjang berarti pasokan minyak membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai konsumen.
Update kapal VLCC Pertamina Pride per Rabu, 8 Juli 2026. (Dok. Ship Finder) Foto: Update kapal VLCC Pertamina Pride per Rabu, 8 Juli 2026. (Dok. Ship Finder)
|
Padahal beberapa pekan sebelumnya kondisi justru bergerak ke arah sebaliknya. Melansir dari Oil Market Report Juli 2026 dari International Energy Agency (IEA) menjelaskan produksi minyak global sempat pulih cukup kuat pada Juni. Pasokan dunia naik 4,1 juta barel per hari menjadi 98,8 juta barel per hari setelah kapal tanker yang sebelumnya tertahan mulai meninggalkan Selat Hormuz.
Ekspor minyak kawasan Teluk melonjak 6,5 juta barel per hari menjadi 16,1 juta barel per hari. Lonjakan tersebut sebagian berasal dari pelepasan minyak yang selama konflik disimpan di tangki darat maupun kapal penyimpanan terapung (floating storage). Artinya, pasar sempat memperoleh tambahan pasokan tanpa harus menunggu produksi baru.
Namun angka itu masih jauh dari kondisi normal. Sebelum perang dimulai, ekspor kawasan Teluk rata-rata mencapai sekitar 24 juta barel per hari. Produksi regional juga masih sekitar 11 juta barel per hari lebih rendah dibanding level pra-konflik. Dengan kata lain, kapasitas penuh belum pernah benar-benar kembali.
IEA juga mencatat pemulihan lebih banyak terjadi pada minyak mentah, bukan produk jadi. Kilang ekspor utama di Timur Tengah masih belum seluruhnya beroperasi. Di saat bersamaan, serangan terhadap infrastruktur kilang Rusia membuat pasokan solar dan bensin global tetap terbatas. Dampaknya terlihat pada margin pengolahan yang melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun pada awal Juli.
Di sisi permintaan, IEA memperkirakan konsumsi minyak dunia mulai pulih setelah mencapai titik terendah pada Mei 2026.
Musim liburan musim panas di belahan bumi utara mendorong penggunaan bahan bakar transportasi. Permintaan yang sempat tertahan juga mulai dilepas ke pasar. Meski demikian, lembaga tersebut masih memperkirakan konsumsi minyak sepanjang 2026 turun sekitar 1 juta barel per hari dibanding tahun lalu.
Arah harga minyak saat ini tidak lagi ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan produksi. Faktor yang paling menentukan adalah seberapa lancar kapal tanker dapat melewati Selat Hormuz.
Selama jalur tersebut masih dibayangi konflik dan ancaman terhadap pelayaran komersial, asumsi pasar mengenai surplus pasokan akan terus berubah.
Proyeksi Harga Minyak, Makin Labil?
Proyeksi harga minyak dunia semakin sulit ditebak di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Di satu sisi, sejumlah bank investasi memperingatkan pelemahan permintaan dari China dan Eropa dapat menekan harga. Di sisi lain, ancaman gangguan pasokan akibat konflik Iran membuat risiko lonjakan harga masih sangat besar.
Goldman Sachs menjadi salah satu lembaga yang mulai lebih berhati-hati. Bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu menilai lemahnya permintaan minyak di China dan Eropa menjadi risiko terbesar bagi proyeksi harga minyak pada akhir tahun.
Data penjualan ritel terbaru menunjukkan konsumsi energi di kedua kawasan tersebut lebih lemah dari perkiraan.
Goldman memperkirakan kondisi itu dapat memangkas permintaan minyak hingga sekitar 2 juta barel per hari (bpd) dibanding estimasi sebelumnya.
Jika terjadi, harga minyak Brent berpotensi turun sekitar US$10 per barel dari target akhir tahun sebesar US$90, sementara target minyak WTI di US$83 per barel juga terancam.
Permintaan bahan baku petrokimia di Asia juga masih lesu. Hal itu tercermin dari rendahnya tingkat utilisasi pabrik etilena, melemahnya produksi industri kimia di China dan Jepang, hingga turunnya konsumsi nafta dan LPG di India. Meski demikian, konsumsi bahan bakar kendaraan di Amerika Serikat dan India dinilai masih cukup kuat.
Berbeda dengan Goldman Sachs, Barclays justru mempertahankan proyeksi rata-rata harga Brent sebesar US$100 per barel pada 2026. Menurut Barclays, risiko justru lebih condong ke arah kenaikan harga.
Bank tersebut menilai penutupan Selat Hormuz telah menghilangkan sekitar 14 juta barel per hari, atau sekitar 14% pasokan minyak global, dari pasar. Di saat yang sama, persediaan minyak dunia terus menurun sehingga ruang untuk meredam lonjakan harga semakin terbatas.
Bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat, Barclays memperkirakan level persediaan minyak global masih akan berada sekitar 20 juta barel di bawah titik terendah historis. Dengan permintaan yang tetap relatif kuat, pasar dinilai masih akan menghadapi kondisi pasokan yang ketat.
Sementara itu, perusahaan energi raksasa BP memperkirakan produksi minyaknya pada kuartal II-2026 turun menjadi 2,17-2,22 juta barel setara minyak per hari, dari 2,34 juta barel pada kuartal sebelumnya.
Penurunan tersebut dipicu gangguan operasional akibat situasi Timur Tengah serta pemeliharaan fasilitas produksi, terutama di Teluk Meksiko.
Meski produksi turun, BP memperkirakan pendapatan dari aktivitas perdagangan minyak tetap meningkat berkat membaiknya margin pengolahan (refining margin), yang diperkirakan memberikan kontribusi hingga US$1,2-1,4 miliar.
Di sisi lain, Citigroup (Citi) bahkan menaikkan proyeksi harga minyak karena menilai risiko geopolitik masih sangat tinggi. Citi memperkirakan rata-rata harga Brent mencapai US$110 per barel pada kuartal II, US$95 pada kuartal III, dan US$80 pada kuartal IV 2026.
Dalam skenario dasar tersebut, Citi memberikan probabilitas sekitar 50%. Namun jika gangguan pasokan melalui Selat Hormuz terus berlanjut hingga akhir Juni, Brent diperkirakan dapat melonjak hingga US$150 per barel.
Bahkan dalam skenario yang lebih ekstrem, apabila Selat Hormuz tetap ditutup setelah Juni, Citi memperkirakan harga Brent berpotensi menembus kisaran US$160-180 per barel, level yang dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap perekonomian global.
OPEC Pangkas Proyeksi Permintaan
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan permintaan minyak global diperkirakan hanya akan tumbuh 800.000 barel per hari (bpd) pada 2026.
Sementara untuk 2027, OPEC kini memperkirakan permintaan minyak global naik 1,9 juta bpd, atau direvisi naik 200.000 bpd dibandingkan proyeksi Juni.
Dari total pertumbuhan pada tahun ini, sekitar 740.000 bpd diperkirakan berasal dari negara-negara non-OECD (di luar anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi), sehingga menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan konsumsi minyak dunia.
Dari sisi pasokan, OPEC melaporkan bahwa pada Juni, produksi minyak mentah negara-negara OPEC+ meningkat sekitar 3 juta bpd dibandingkan bulan sebelumnya menjadi rata-rata 36,28 juta bpd.
Meski demikian, Arab Saudi, produsen minyak terbesar di kelompok tersebut, melaporkan produksi minyak pada Juni justru lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Add
as a preferred
source on Google

Leave a comment