Home Finance Harga Perak Berontak, Masih Bisa Terbang?
Finance

Harga Perak Berontak, Masih Bisa Terbang?

Share
Harga Perak Berontak, Masih Bisa Terbang?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia- Harga perak menutup pekan ini dengan penguatan meski sempat berfluktuasi di tengah perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Merujuk data Refinitiv, harga perak di pasar spot pada perdagangan Jumat (14/8/2026) ditutup di US$64,62 per troy ons. Posisi tersebut naik tipis 0,26% dibandingkan sehari sebelumnya di US$64,46 per troy ons.

Secara mingguan, perak masih mencatat kenaikan sekitar 1,7% dari posisi penutupan Jumat pekan sebelumnya di US$63,55 per troy ons. Selama sepekan, harga sempat menyentuh US$65,74 pada 10 Agustus sebelum terkoreksi dan kembali stabil di kisaran US$64-65 per troy ons.



Pergerakan tersebut terjadi setelah pelaku pasar mencerna data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Trading Economics mencatat tekanan inflasi pada Juli mulai mereda seiring menurunnya dampak lonjakan harga energi akibat konflik Iran. Kondisi tersebut mengurangi peluang bank sentral AS mengambil langkah pengetatan yang lebih agresif dalam waktu dekat.

Ekspektasi terhadap suku bunga menjadi faktor utama yang menopang logam mulia. Ketika pasar melihat ruang bagi Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan pada periode berikutnya, imbal hasil obligasi cenderung lebih terkendali dan tekanan terhadap aset tanpa kupon seperti perak ikut berkurang.

Fokus pasar kini bergeser ke data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada akhir bulan. Dua agenda tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter menjelang akhir tahun.

Di luar faktor makroekonomi, fundamental perak masih ditopang oleh permintaan fisik dari sektor industri. Trading Economics melaporkan konsumsi perak untuk panel surya, investasi jaringan listrik, serta pembangunan infrastruktur elektrifikasi masih berada dalam tren meningkat.

China menunjukan kebutuhan bahan baku terus bertambah. Impor bijih yang mengandung perak ke China melonjak 62,5% secara tahunan pada Juni menjadi 219.000 ton. Kenaikan impor ini mencerminkan aktivitas pengolahan logam yang masih kuat di negara konsumen terbesar berbagai komoditas industri tersebut.

Prospek jangka panjang masih memperoleh dukungan dari kombinasi permintaan industri dan ketidakpastian geopolitik. Ketegangan baru di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong harga energi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, volatilitas di pasar logam mulia diperkirakan ikut bertambah.

Kinerja harga dalam beberapa bulan terakhir juga masih tergolong kuat, harga perak telah naik sekitar 12% dalam satu bulan terakhir dan melonjak lebih dari 70% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Walaupun demikian, harga saat ini masih berada jauh di bawah rekor tertinggi US$121,64 per troy ons yang sempat tercapai pada Januari 2026.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *