Jakarta, CNBC Indonesia – Air semakin menjadi salah satu risiko utama dunia. Tekanan datang bukan hanya dari kekeringan, tetapi juga perubahan pola hujan, banjir, pertumbuhan kebutuhan air, hingga pengelolaan sumber daya yang tidak berkelanjutan.
Persoalannya semakin kompleks karena kebutuhan air terus meningkat di sektor rumah tangga, pertanian, industri, dan energi. Di sisi lain, pasokan semakin tidak menentu akibat perubahanfba iklim dan cuaca ekstrem.
Food and Agriculture Organization of the UN (FAO) mencatat pertanian menjadi pengguna air tawar terbesar secara global, dengan porsi sekitar 72% dari total pengambilan air tawar dunia. Kondisi ini membuat pengelolaan air secara berkelanjutan menjadi penting untuk menjaga produksi pangan sekaligus menghindari eksploitasi sumber air berlebihan.
Peta iSciences menunjukkan wilayah yang mengalami defisit dan surplus air berdasarkan data hingga Mei 2026 serta proyeksi hingga Februari 2027. Warna merah-oranye menunjukkan defisit air, sedangkan biru-hijau menunjukkan surplus air, dengan tingkat keparahan berbeda di tiap wilayah. Foto: iSciences
|
El Nino Bisa Memperbesar Tekanan Air
Salah satu faktor yang saat ini menjadi perhatian adalah El Nino.
iSciences dalam Worldwide Water Watch List Juni 2026 mencatat peluang terbentuknya El Nino meningkat hingga 80% untuk musim panas 2026. Perubahan suhu permukaan laut Pasifik ini dapat menggeser pola hujan di berbagai wilayah dunia.
Namun, dampaknya tidak selalu berupa kekeringan.
Sejumlah rumah perahu berada di sebuah teluk yang tenang di Danau Powell—sementara waduk vital tersebut berada pada tingkat permukaan air terendah yang pernah tercatat—di Kawasan Rekreasi Nasional Glen Canyon dekat Page, Arizona, AS, pada 30 Agustus 2026. (REUTERS/Rebecca Noble) Foto: Sejumlah rumah perahu berada di sebuah teluk yang tenang di Danau Powell—sementara waduk vital tersebut berada pada tingkat permukaan air terendah yang pernah tercatat—di Kawasan Rekreasi Nasional Glen Canyon dekat Page, Arizona, AS, pada 30 Agustus 2026. (REUTERS/Rebecca Noble)
|
Di Amerika Serikat bagian barat, Colorado mengalami kondisi kekeringan berat setelah salju musim dingin dan limpasan musim semi berada di bawah normal. Sistem Sungai Colorado sendiri menjadi sumber air bagi lebih dari 40 juta orang dan mengairi sekitar 5,5 juta acre lahan pertanian.
Di Afrika Timur, kekeringan berkepanjangan juga menekan ketahanan pangan. Sekitar 42 juta orang di Ethiopia, Somalia, Kenya, dan Sudan menghadapi kerawanan pangan akut.
Satu Fenomena, Dampaknya Bisa Berlawanan
El Nino tidak memberikan dampak yang sama di setiap wilayah.
Ketika sebagian kawasan menghadapi defisit air, wilayah lain justru dapat mengalami surplus air dan banjir.
iSciences mencatat banjir sejak akhir 2025 telah berdampak terhadap sekitar 1,5 juta orang di Afrika bagian selatan, menewaskan lebih dari 300 orang dan memaksa lebih dari 170.000 orang mengungsi.
Gambaran umum air banjir di Blantyre pada 14 Maret 2023, yang disebabkan oleh hujan lebat setelah pendaratan siklon Freddy. – Topan Freddy, membawa angin kencang dan hujan deras, menewaskan lebih dari 100 orang di Malawi dan Mozambik saat kembali ke daratan Afrika bagian selatan, kata pihak berwenang pada 13 Maret 2023. Freddy, di jalur untuk menjadi badai terlama dalam catatan, meluncur melalui Afrika selatan pada akhir pekan untuk kedua kalinya dalam beberapa minggu, kembali setelah pukulan pertama pada akhir Februari. (JACK MCBRAMS/AFP via Getty Images) Foto: Gambaran umum air banjir di Blantyre pada 14 Maret 2023, yang disebabkan oleh hujan lebat setelah pendaratan siklon Freddy. (AFP via Getty Images/JACK MCBRAMS)
|
Kondisi tersebut menunjukkan krisis air tidak hanya berarti kekurangan air. Terlalu banyak air dalam waktu singkat juga dapat menjadi masalah, terutama ketika kapasitas sungai, drainase, dan infrastruktur tidak mampu menampungnya.
El Nino diproyeksikan akan memperkuat defisit di Tanduk Afrika sepanjang 2026, tetapi pada saat yang sama mempertahankan surplus dan risiko banjir di sejumlah wilayah Afrika bagian selatan.
Artinya, tantangan utama bukan sekadar menyediakan lebih banyak air. Sistem pengelolaan juga harus mampu menghadapi dua ekstrem sekaligus: kekeringan dan banjir.
Perang Juga Bisa Memperburuk Krisis Air
Tekanan air juga dapat diperparah oleh konflik. Perang dapat merusak bendungan, jaringan pipa, instalasi pengolahan, hingga fasilitas desalinasi yang menjadi bagian penting dari pasokan air masyarakat.
Iran menjadi salah satu contoh terbaru. Negara tersebut sudah mengalami kekeringan selama bertahun-tahun sebelum konflik dengan Amerika Serikat dan Israel memperburuk kondisi infrastruktur airnya. Al Jazeera melaporkan sejumlah fasilitas desalinasi, pipa, dan infrastruktur air sipil mengalami kerusakan selama konflik.
Serangan terhadap fasilitas air juga berdampak langsung kepada masyarakat. Pada Juni, fasilitas yang memasok air minum bagi lebih dari 20.000 penduduk di Kouhestak dan 10 desa sekitarnya dilaporkan terkena serangan.
Artinya, perang bukan selalu menjadi penyebab awal krisis air. Namun, konflik dapat memperburuk wilayah yang sebelumnya memang sudah mengalami tekanan akibat kekeringan, keterbatasan pasokan, atau buruknya pengelolaan.
Iran, Ketika Air Digunakan Lebih Cepat dari Kemampuan Alam
Krisis air Iran tidak hanya dipicu perubahan iklim. Negara tersebut juga menghadapi penggunaan air berlebihan, eksploitasi air tanah, serta sistem pengelolaan yang tidak efisien.
World Resources Institute mengategorikan Iran sebagai negara dengan baseline water stress sangat tinggi. Pada 2025, penggunaan air mencapai sekitar 100 miliar meter kubik, sementara sumber air terbarukan hanya sekitar 87 miliar meter kubik.
Dampaknya terlihat dari Danau Urmia. Luas danau yang pada 1990-an hampir 6.000 km² kini menyusut menjadi sekitar 581 km², atau kurang dari 10% luas awalnya.
Kapal terlihat terdampar di kawasan Danau Urmia yang mengering. Penyusutan danau menjadi salah satu gambaran krisis air Iran akibat kekeringan berkepanjangan, penggunaan air berlebihan, dan tekanan terhadap sumber daya air. Foto: Getty Images
|
Pertanian menjadi pengguna air terbesar, menyerap sekitar 91% pengambilan air Iran, jauh di atas rumah tangga sebesar 7% dan industri 2%.
Kasus Iran menunjukkan bahwa krisis air bukan hanya soal berkurangnya hujan. Cara air digunakan dan dikelola juga sangat menentukan ketahanan air suatu negara.
Konsumsi air Iran mencapai 100 miliar m³ per tahun, melampaui kapasitas terbarukan sebesar 87,7 miliar m³. Penggunaan terbesar berasal dari sektor pertanian yang mencapai 91 miliar m³, jauh di atas kapasitas ideal 61,7 miliar m³. Foto: Al Jazeera, Fanack Water
|
Indonesia Juga Perlu Waspada
Indonesia memang memiliki curah hujan tinggi, tetapi tetap menghadapi risiko kekurangan air.
iSciences mencatat defisit air moderat hingga berat terlihat di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Jawa pada pertengahan 2026. El Nino juga diperkirakan memperluas defisit air di Indonesia sepanjang paruh kedua tahun ini.
Sungai Barito mengering akibat kemarau panjang. (Tangkapan Layar Instagram/Borneosocial) Foto: Sungai Barito mengering akibat kemarau panjang. (Tangkapan Layar Instagram/Borneosocial)
|
Proyeksi BMKG juga menunjukkan 56,18% wilayah daratan Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal pada 2026. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekurangan air baku, gangguan pertanian, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Air juga menopang pertanian, industri, energi, dan ekosistem, sehingga pengelolaannya perlu semakin efisien dan terukur.
Lalu Bagaimana Air Harus Dikelola?
Pengelolaan air berkelanjutan perlu dilakukan secara terintegrasi, bukan hanya dengan mencari sumber air baru. Salah satu pendekatannya adalah Integrated Water Resources Management (IWRM), yang mengatur kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, dan ekosistem dalam satu kerangka.
Efisiensi juga menjadi kunci, terutama melalui irigasi yang lebih hemat air, pemanfaatan kembali air limbah, pemanenan air hujan, serta pemantauan berbasis teknologi. Kota juga dapat memanfaatkan solusi berbasis alam seperti ruang hijau, lahan basah, dan konsep sponge city untuk membantu menyerap air sekaligus mengurangi risiko banjir.
Pada akhirnya, ketahanan air tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber air yang dimiliki, tetapi juga seberapa efisien air digunakan, seberapa baik kualitasnya dijaga, dan seberapa kuat tata kelolanya.
(slm/slm)






Leave a comment