Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Warga tengah dihebohkan kemunculan sinar api atau blue fire di Gunung Papandayan, Jawa Barat. Fenomena alam ini terjadi saat sejumlah gunung api di Indonesia mengalami peningkatan aktivitas vulkanik-erupsi.
Di Indonesia, fenomena serupa yang terkenal terjadi di Kawah Ijen, Jawa Timur.
Lantas, apakah kemunculan blue fire yang mendadak di Gunung Papandayan adalah pertanda bakal terjadinya erupsi?
Sebagai informasi, Gunung Papandayan adalah salah satu gunung api strato tipe A berbentuk kerucut. Menurut Badan Geologi, akibat pusat erupsi yang sering berpindah, bentuk kerucut menjadi tidak teratur dan menyebabkan terbentuknya kawah-kawah. Saat ini, Gunung Papandayan masih aktif dengan status Level 1 atau Normal.
Badan Geologi menjelaskan, fenomena blue fire ini ternyata bukan kali pertama ini terjadi. Tapi tercatat pernah terjadi pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025. Keduanya teramati di dinding Kawah baru.
Lalu, pada tanggal 24 September 2026, blue fire kembali teramati di Gunung Papandayan, namun di lokasi berbeda. Yakni di area Kawah Manuk yang masih termasuk dalam kawasan kawah-kawah aktif kompleks Gunung Papandayan.
Jangan Kejar Blue Fire, Bahaya!
Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia mengingatkan, fenomena blue fire tersebut harus dipahami sebagai pesan keselamatan. Sebab, imbuh dia, kemunculannya menunjukkan Indonesia berada di lingkungan vulkanik aktif dengan gas panas yang dapat berbahaya.
“Secara ilmiah, blue fire bukan lava berwarna biru. Nyala biru terjadi ketika gas atau material kaya sulfur yang keluar dari rekahan dan fumarola pada temperatur tinggi mengalami pembakaran ketika berinteraksi dgn oksigen. Karena cahayanya relatif lemah, nyala ini biasanya lebih jelas terlihat pada malam hari,” kata Daryono, dikutip Senin (28/9/2026).
“Kemunculan blue fire tidak otomatis berarti gunung akan segera meletus. Fenomena ini lebih menunjukkan adanya pelepasan gas panas (degassing) dan aktivitas fumarola atau sistem hidrotermal,” tegas Daryono.
Kata dia, penentuan peningkatan aktivitas gunung api tetap harus didasarkan pada berbagai parameter. Seperti kegempaan, deformasi, temperatur, serta perubahan komposisi dan fluks gas.
“Justru yang harus diwaspadai adalah lingkungan tempat blue fire terbentuk,” tegas Daryono.
Dia mengingatkan, di sekitar fumarola dapat terdapat gas SO₂ dan H₂S yang beracun serta CO₂ yang pada konsentrasi tinggi dapat mengurangi ketersediaan oksigen.
“Paparan gas dapat menyebabkan mata dan tenggorokan perih, batuk, sesak, pusing, mual, hingga kehilangan kesadaran. Arah angin juga dapat berubah cepat sehingga gas yang semula menjauh tiba-tiba bergerak menuju pendaki,” paparnya.
“Karena itu, jangan menjadikan blue fire sebagai alasan untuk mendekati kawah demi foto atau video,” tukasnya.
Ploting titik lokasi Manifestasi Panas Baru di kompleks Kawah Manuk G. Papandayan. (Dok. ESDM) Foto: Ploting titik lokasi Manifestasi Panas Baru di kompleks Kawah Manuk G. Papandayan. (Dok. ESDM)
|
Lantas, apa yang harus dilakukan?
Berikut imbauan Daryono:
– jangan mendekati lubang fumarola atau rekahan yang mengeluarkan gas
– jangan memasuki area yang telah dibatasi petugas
– hindari berlama-lama di cekungan atau tempat rendah karena gas tertentu dapat terakumulasi di sana
– masker biasa tidak dapat dianggap sebagai perlindungan memadai terhadap konsentrasi gas vulkanik yang tinggi.
“Ketika mendaki tiba-tiba mencium bau belerang yang sangat menyengat, merasakan mata atau tenggorokan perih, pusing, sesak, atau melihat kepulan gas bergerak ke arah kita, segera menjauh dari sumber gas menuju area terbuka dengan udara lebih bersih dan ikuti arahan petugas. Jangan menunggu sampai gejala menjadi berat,” tegasnya.
“Blue fire memang indah, tetapi jangan mengejarnya. Dalam mitigasi gunung api, keselamatan lebih penting daripada mendapatkan foto terbaik. Patuhi zona aman dan rekomendasi resmi PVMBG serta pengelola kawasan,” ucap Daryono.
Penyebab Munculnya Blue Fire
Badan Geologi menjelaskan, kemunculan sinar api/ blue fire di lokasi Manifestasi Panas Baru di kompleks Kawah Manuk menunjukkan adanya pelepasan panas yang cukup tinggi hingga mampu menyebabkan pembakaran material permukaan. Serbuk berwarna menyerupai abu sisa pembakaran ditemukan di sekitar lokasi, yang kemungkinan berkaitan dengan proses pemanasan atau pembakaran material permukaan akibat paparan panas.
“Kawah Mas yang berada berdekatan dengan lokasi Manifestasi Panas Baru tidak menunjukkan perubahan rasio gas yang berarti. Dengan demikian, berdasarkan data rasio
gas, tidak terdapat indikasi perubahan sistem hidrotermal yang signifikan dibawah Gunung Papandayan yang dapat dikaitkan dengan kemunculan Manifestasi Panas Baru di kompleks
Kawah Manuk,” jelas Badan Geologi pada 26 September 2026.
Disebutkan, aktivitas termal di lokasi manifestasi cenderung mengalami penurunan. Hanya saja, meski aktivitas termal menurun, kondisi gas di sekitar lokasi masih menunjukkan pelepasan gas vulkanik yang signifikan.
Apalagi, tambah Badan Geologi, blue fire muncul di area Kawah Manuk dekat dengan jalur pendakian utama atau ke arah area perkemahan yang menjadi salah satu tujuan wisata menarik lainnya di dalam kompleks Gunung Papandayan, sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.
“Bau sulfur yang menyengat masih tercium pada arah angin dari lokasi manifestasi, sehingga keberadaan gas di sekitar lokasi masih berpotensi berdampak pada kesehatan apabila terpapar secara langsung, khususnya pada area arah angin,” ungkap Badan Geologi.
Rekomendasi Badan Geologi
Badan Geologi mengingatkan, potensi bahaya yang dapat terjadi dengan kemunculan sinar api/blue fire ini adalah semburan dan paparan gas vulkanik beracun/di atas ambang batas.
Badan Geologi mengingatkan masyarakat di sekitar Gunung Papandayan, baik wisatawan/pendaki agar:
1. tidak beraktivitas dan menginap dalam kawasan bukaan kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Papandayan, yaitu: Kawah Baru, Kawah Emas, Kawah Nangklak, Kawah
Manuk/Balagadama dalam radius 500 meter, juga ketika cuaca mendung dan hujan
2. Mewaspadai gas beracun yang konsentrasinya dapat meningkat secara tiba-tiba
3. Mewaspadai terjadinya letusan yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas
4. Mewaspadai potensi longsor di dinding kawah kompleks Gunung Papandayan.
Pengamatan pada Manifestasi Panas Baru di kompleks Kawah Manuk dari tanggal 23 – 25 September 2026. (Dok. ESDM) Foto: Pengamatan pada Manifestasi Panas Baru di kompleks Kawah Manuk dari tanggal 23 – 25 September 2026. (Dok. ESDM)
|
(dce/dce)


Leave a comment