Home Finance Hewan Punah Hidup Lagi, Berikutnya Umur Manusia Makin Panjang
Finance

Hewan Punah Hidup Lagi, Berikutnya Umur Manusia Makin Panjang

Share
Hewan Punah Hidup Lagi, Berikutnya Umur Manusia Makin Panjang
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Bayangkan serigala purba yang telah punah lebih dari 12.500 tahun lalu kembali berjalan di Bumi. Atau mamut berbulu yang melintasi dataran beku Kutub Utara. Bukan lagi fiksi ilmiah, hal itu kini nyata dilakukan. Ternyata, tujuannya bukan sekadar mengembalikan keanekaragaman hayati. teknologi yang sama juga dapat memperpanjang umur manusia, dikutip Senin (12/10/2026).

Colossal Biosciences, perusahaan yang didirikan Ben Lamm, telah berhasil melahirkan tiga ekor anak serigala purba yang diberi nama Romulus, Remus, dan Khaleesi. Mereka diciptakan dengan menyusun kembali genom dari DNA fosil yang berusia ribuan tahun, lalu disesuaikan dengan serigala abu-abu yang masih hidup. Induk kandungnya adalah anjing peliharaan biasa.

“Jika terlihat seperti bebek, bersuara seperti bebek, dan menjalankan fungsi ekologis seperti bebek, maka ia adalah bebek,” ujar Lamm menjelaskan hasil karyanya.

Selain serigala purba, perusahaan ini juga sedang mengerjakan proyek menghidupkan kembali mamut berbulu, burung dodo, harimau Tasmania, serta burung raksasa moa. Jika berjalan sesuai rencana, mamut berbulu dapat lahir pada tahun 2030-an.

Teknologi yang dikembangkan untuk menghidupkan kembali hewan punah ternyata memiliki dampak jauh lebih besar bagi manusia. Penelitian alasan gajah hampir tidak pernah terserang kanker dapat diterapkan untuk pencegahan dan pengobatan kanker pada manusia. Selain itu, teknik penyuntingan DNA yang dikembangkan dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit keturunan dan kelainan genetik.

Keberhasilan “menghidupkan kembali” mamut berbulu akan berdampak ke kepadatan tanah di Kutub Utara sehingga mengurangi pelepasan karbon serta mengubah hutan penyerap panas menjadi padang rumput.

Teknik yang sama bisa membangkitkan kembali varietas tanaman pangan yang tumbuh lebih cepat dan tahan iklim ekstrem lewat sintetis DNA. Terakhir, pengetahuan soal genetika dan kekebalan alami berbagai spesies membantu manusia agar mampu merespons cepat saat pandemi muncul.

Banyak yang membandingkan proyek ini dengan film Jurassic Park. Lamm mengakui hal itu menarik, tetapi menegaskan perbedaannya sangat mendasar.

“Film itu tidak memiliki model pelestarian alam maupun manfaat bagi manusia. Kami melakukannya karena dunia sedang kehilangan keanekaragaman hayati secara masif – diperkirakan setengah spesies akan hilang dalam 25 tahun ke depan. Kita butuh alat untuk menyelamatkan apa yang tersisa dan memulihkan apa yang hilang,” jelasnya.

Potensi besar ini membuat Colossal sangat diminati investor. Perusahaan telah mengumpulkan dana lebih dari US$ 435 juta (sekitar Rp 6,5 triliun) dan valuasinya mencapai US$ 10,2 miliar (sekitar Rp 154 triliun).

Menariknya, 30% investor menyatakan ikut berpartisipasi karena didorong oleh anak-anak mereka yang tertarik pada sains. Artinya, menghidupkan kembali masa lalu bukan sekadar mengulang sejarah, melainkan menciptakan teknologi yang dapat menyelamatkan masa depan.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *