
Jakarta, CNBC Indonesia – Industri smartphone global kembali dihantam badai besar. Pengiriman ponsel pintar secara global merosot tajam hingga 20% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026, mencatatkan level terendah untuk periode kuartal ketiga sejak tahun 2012.
Di tengah krisis ini, produsen smartphone asal China menjadi korban yang terkena dampak paling parah. Laporan terbaru dari Counterpoint Research mengungkapkan bahwa merek-merek papan atas China mengalami penurunan pengiriman yang sangat drastis akibat lonjakan biaya chip memori (DRAM dan NAND) serta kelangkaan pasokan komponen global.
Lonjakan biaya chip memori dipicu oleh masifnya aksi borong pasokan dari proyek-proyek infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kondisi tersebut membengkakkan biaya komponen (Bill of Materials) dan memaksa produsen menaikkan harga eceran ponsel hingga rata-rata 20% sepanjang 2026.
“Kuartal ketiga menjadi periode kedua berturut-turut yang merasakan dampak penuh dari krisis memori. Kelangkaan ekstrem ini mendorong pasar ke fase yang lebih selektif,” ujar Analis Senior Counterpoint, Shilpi Jain, dikutip dari laman resmi Counterpoint.
Penjualan Xiaomi Terjun Bebas 30%
Dampak krisis komponen menghantam keras strategi vendor-vendor China yang selama ini mengandalkan volume penjualan di segmen entry-level hingga mid-range. Dari seluruh pemain utama, Xiaomi mencatatkan rekor penurunan paling mengenaskan.
Pengiriman smartphone Xiaomi terjun bebas lebih dari 30% YoY pada kuartal III-2026. Akibat penurunan signifikan tersebut, porsi pangsa pasar (market share) Xiaomi langsung tergerus hingga menyisa 10%.
Demi mengamankan marjin keuntungan agar tidak mengalami kerugian operasional, perusahaan terpaksa mengambil langkah drastis dengan memangkas porsi produksi pada segmen harga murah serta mengeram ekspansi di pasar luar negeri.
Nasib serupa juga dialami produsen China lainnya. OPPO (termasuk OnePlus dan realme) serta vivo turut babak belur. Pengiriman kedua produsen ini anjlok lebih dari 20% YoY, yang membuat pangsa pasar mereka masing-masing merosot menjadi 9% dan 8%.
Demi bertahan hidup, OPPO terpaksa mengonsolidasikan lini produk dan operasional lintas merek untuk efisiensi biaya. Sementara itu, vivo harus menelan pil pahit karena kenaikan harga terpaksa menggeser model-model murah seri Y keluar dari rentang harga terjangkau yang diminati konsumen.
Mesin Uang Baru Xiaomi
Di tengah tekanan di pasar smartphone, Xiaomi agaknya sudah menyiapkan ‘pelampung’ untuk menggenjot bisnisnya. Raksasa China tersebut mengumumkan keberhasilannya mengukir rekor pengiriman kendaraan listrik (electric vehicle/EV) tertinggi sepanjang tahun ini pada bulan Oktober.
Dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026), Xiaomi mencatatkan pengiriman lebih dari 50.000 unit mobil listrik hanya dalam kurun waktu satu bulan. Lonjakan ini diraih seiring dengan langkah agresif perusahaan dalam menggenjot kapasitas produksi demi mengamankan target tahunan 2026.
Dengan capaian di bulan Oktober tersebut, total akumulasi pengiriman kendaraan listrik Xiaomi sepanjang 10 bulan pertama (Januari-Oktober 2026) telah menembus sekitar 336.000 unit. Tren pertumbuhan pengiriman tercatat terus meningkat secara konsisten, setelah sebelumnya menembus angka 30.000 unit pada Agustus dan melampaui 40.000 unit pada September.
Manajemen Xiaomi menetapkan target ambisius untuk dapat merilis total 550.000 unit kendaraan listrik sepanjang tahun 2026. Dengan realisasi pengiriman Januari hingga Oktober yang mencapai 336.000 unit, Xiaomi berarti telah mengamankan sekitar 61% dari total target tahunan yang dipatok perusahaan.
(fab/fab)
Leave a comment