Home Finance HP Xiaomi Tidak Laku, Produk Pengganti HP Laku Keras
Finance

HP Xiaomi Tidak Laku, Produk Pengganti HP Laku Keras

Share
HP Xiaomi Tidak Laku, Produk Pengganti HP Laku Keras
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Kinerja bisnis smartphone Xiaomi kembali mengalami tekanan. Raksasa teknologi asal China itu mencatat penurunan laba untuk kuartal ketiga berturut-turut, setelah krisis chip memori global yang berkepanjangan.

Laba bersih Xiaomi yang telah disesuaikan anjlok 43% menjadi 6,22 miliar yuan (sekitar Rp 16 triliun) pada kuartal II 2026. Penurunan tersebut lebih dalam dari perkiraan pasar. Pada periode yang sama, pendapatan Xiaomi turun 6,1%.

Bisnis smartphone menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Pendapatan dari segmen tersebut turun 7,5% setelah Xiaomi mengurangi pengiriman ponsel kelas menengah hingga bawah. Kenaikan harga jual rata-rata hanya mampu menahan sebagian penurunan pendapatan.

Krisis chip memori global menjadi salah satu penyebab utama. Xiaomi termasuk perusahaan yang paling terdampak karena pemasok chip besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix lebih memprioritaskan produksi chip canggih untuk kebutuhan pusat data dan kecerdasan buatan (AI).

Peralihan kapasitas produksi tersebut memicu kelangkaan chip memori konvensional dan membuat harganya melonjak. Kondisi ini kemudian menekan biaya material yang harus ditanggung produsen smartphone.

Presiden Xiaomi Lu Weibing mengakui kuartal II menjadi periode yang berat bagi perusahaan.

“Kuartal kedua tetap menantang secara keseluruhan dengan harga memori berada di level tertinggi dalam sejarah, persaingan yang ketat dan permintaan yang lesu,” kata Lu.

Menurut dia, harga memori masih terus naik. Namun, laju kenaikannya diperkirakan lebih moderat pada paruh kedua tahun ini.

Tekanan terhadap Xiaomi juga terlihat dari kinerja pengiriman smartphone. Berdasarkan data perusahaan riset Counterpoint, Xiaomi mencatat penurunan pengiriman terbesar di antara lima merek smartphone terbesar dunia pada kuartal yang berakhir Juni.

Strategi Xiaomi yang menyasar hampir seluruh segmen pasar membuat perusahaan semakin rentan terhadap krisis memori. Xiaomi menjual perangkat premium, termasuk ponsel layar lipat, hingga perangkat murah dengan harga di bawah US$100.

Di tengah tekanan bisnis smartphone, Xiaomi kini mengandalkan dua sumber pertumbuhan baru, yakni ponsel generasi terbaru dan kendaraan listrik (EV).

Namun, ekspansi ke industri otomotif justru ikut menekan laba perusahaan. Pendiri Xiaomi Lei Jun membawa perusahaan masuk ke pasar kendaraan listrik China yang sangat kompetitif.

Dalam beberapa pekan terakhir, investor juga mulai mengkhawatirkan peluncuran dua kendaraan hybrid bensin-listrik baru yang dibanderol di bawah ekspektasi pasar.

Xiaomi berharap kendaraan SUV SkyNomad dapat kembali meningkatkan minat konsumen. Harapan tersebut muncul ketika sebagian besar produsen mobil di China menghadapi penurunan penjualan.

Xiaomi juga berencana mulai menjual kendaraan listriknya di pasar luar negeri pada tahun depan. Ekspansi ini berpotensi menjadikan bisnis EV sebagai sumber pertumbuhan yang lebih kuat sekaligus menjadi ancaman bagi merek-merek otomotif Barat, terutama di pasar Eropa.

Meski demikian, Xiaomi harus menghadapi sejumlah tantangan dalam ekspansi tersebut, mulai dari tarif, pengawasan regulator hingga standar keselamatan kendaraan yang lebih ketat.

Bloomberg Intelligence memperkirakan penjualan Xiaomi pada kuartal II turun sekitar 5% secara tahunan. Pelemahan bisnis smartphone dan Internet of Things (IoT) diperkirakan mengimbangi pertumbuhan bisnis kendaraan listrik.

Penjualan smartphone diperkirakan turun sekitar 9%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penurunan pengiriman sebesar 26% karena kenaikan harga jual rata-rata membantu memperbaiki komposisi produk.

Sementara itu, bisnis IoT diperkirakan masih lemah akibat berkurangnya subsidi dan lesunya permintaan konsumen.

Sebaliknya, bisnis kendaraan listrik pintar dan inisiatif baru Xiaomi diperkirakan tumbuh sekitar 20% setelah pengiriman model SU7 meningkat usai proses transisi model pada kuartal sebelumnya.

Namun, margin kotor Xiaomi diperkirakan tetap tertekan. Biaya memori yang tinggi di bisnis smartphone serta persaingan harga yang semakin ketat di pasar kendaraan listrik menjadi beban utama terhadap profitabilitas perusahaan.

Meski kinerja laba dan smartphone tertekan, investor masih memberikan respons relatif positif terhadap prospek Xiaomi. Saham perusahaan di Hong Kong telah naik hampir 20% sejak akhir Juni, menunjukkan sebagian investor masih menaruh kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan Xiaomi.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *