
Jakarta, CNBC Indonesia – Jaksa Amerika Serikat (AS) menyebut Huawei sebagai organisasi kriminal yang mencuri teknologi perusahaan AS untuk memperkuat bisnis telekomunikasinya. Tuduhan itu disampaikan saat persidangan raksasa teknologi China tersebut dimulai di pengadilan federal Brooklyn.
Jaksa Departemen Kehakiman AS Taylor Stout menuduh Huawei selama sekitar 20 tahun menggunakan pencurian, kebohongan, dan upaya menutupi perbuatannya untuk mendominasi industri telekomunikasi global.
“Pencurian, kebohongan, penutupan-nutupi. Selama 20 tahun, itulah cara Huawei, perusahaan telekomunikasi besar asal China, menjadi korban bagi perusahaan-perusahaan AS dan menyalahgunakan sistem keuangan Amerika, semuanya dalam upaya untuk mendominasi industri telekomunikasi di seluruh dunia,” kata Stout dalam pernyataan pembuka pemerintah, dikutip dari Reuters, Jumat (11/9/2026).
Huawei dituduh berkonspirasi mencuri rahasia dagang dari lima perusahaan AS, termasuk kode sumber router milik Cisco Systems dan lengan robotik untuk menguji ponsel milik T-Mobile. Jaksa mengatakan terdapat bukti video seorang karyawan Huawei mencuri perangkat tersebut.
Namun, pengacara Huawei Brian Heberlig membantah tuduhan itu. Ia mengatakan kasus tersebut merupakan persaingan bisnis dan inovasi, bukan konspirasi kriminal.
“Ini tentang persaingan, bukan konspirasi. Inovasi, bukan pencurian. Urusan bisnis biasa, bukan tindakan kriminal,” ujar Heberlig.
Kasus Huawei bermula pada 2018 dengan tuduhan penipuan bank dan pelanggaran sanksi AS terkait aktivitas bisnis perusahaan di Iran. Dakwaan kemudian berkembang hingga mencakup tuduhan racketeering, yakni pola aktivitas ilegal untuk menghasilkan keuntungan.
Kasus ini juga menyeret Meng Wanzhou, CFO Huawei saat itu, yang ditangkap di Kanada pada 2018 berdasarkan surat perintah AS. Ia kemudian kembali ke China pada 2021 melalui kesepakatan diplomatik, sementara dakwaannya dibatalkan pada 2022.
Persidangan Huawei diperkirakan berlangsung sekitar tiga bulan. Kasus tersebut sebagian didasarkan pada laporan Reuters pada 2012 dan 2013 mengenai hubungan Huawei dengan Skycom, perusahaan yang beroperasi di Iran.
Pemerintah China turut membela Huawei. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pemerintahnya dengan tegas menentang penindasan dan pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan China oleh AS.
China, lanjutnya, dengan tegas mendukung perusahaan-perusahaan China dalam melindungi hak dan kepentingan mereka yang sah.
(dem/dem)
Leave a comment