Home Finance IHSG Sesi 1 Naik 0,61%, Nilai Transaksi Tembus Rp 10 Triliun
Finance

IHSG Sesi 1 Naik 0,61%, Nilai Transaksi Tembus Rp 10 Triliun

Share
IHSG Sesi 1 Naik 0,61%, Nilai Transaksi Tembus Rp 10 Triliun
Share




Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi 1 di zona hijau hari ini, Selasa (14/7/2026). IHSG parkir di level 6.074,61, naik 36,77 poin atau 0,61%.

IHSG naik ditopang oleh mayoritas emiten. Sebanyak 444 emiten di zona hijau, 191 di zona merah, dan 330 stagnan. 

Volume dan transaksi bisa dibilang kembali ramai. Nilai transaksi tembus Rp 10,14 triliun pada akhir sesi 1 dengan melibatkan 18,33 miliar saham dalam 1,75 juta kali transaksi. 

Sebagai perbandingan sepanjang perdagangan kemarin nilai transaksi hanya mencapai Rp 12,14 triliun dengan volume 25,07 miliar saham.

Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor jadi penopang IHGS. Hanya finansial yang mengalami koreksi dengan penurunan 0,75%.

Seiring dengan hal tersebut, IHSG siang ini ditopang oleh pergerakan saham konglomerat. Barito Renewables Energy (BREN) yang naik 6,19% menyumbang 7,74 poin terhadap kenaikan IHSG. 

Kemudian emiten Bakrie, Bumi Resources Minerals (BRMS) yang melesat 9,43% berkontribusi 7,44 poin dan VKTR 5,54 poin. 

Sementara itu, bank jumbo justru menjadi pemberat utama. Bank Central Asia (BBCA) yang turun 1,2% menyumbang -6,62 poin. Lalu Bank Mandiri (BMRI) -4,9 poin dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -4,38 poin. 

Kendati pasar terbilang ramai, IHSG masih terbilang bergerak dengan volatilitas tinggi. Pagi tadi IHSG dibuka naik 0,33% dan sempat merosot hingga menyentuh level terendah 6.002,9. 

Adapun IHSG masih diselimuti kabar positif setelah lembaga rating Standar & Poor’s (S&P) mempertahankan rating investment grade dan outlook stabil mereka. Keputusan ini menjadi kabar baik setelah sebelumnya lembaga rating tersebut dikabarkan akan menurunkan outlook Indonesia.

S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stabil.

Keputusan tersebut menjadi angin segar bagi pasar dan pemerintah. Pasalnya, sejak awal 2026 Indonesia beberapa kali mendapat tekanan dari lembaga pemeringkat global, setelah Moody’s dan Fitch Ratings lebih dulu menurunkan prospek (outlook) Indonesia. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, keputusan S&P menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih tetap terjaga.

Dalam laporannya, S&P menyatakan outlook stabil mencerminkan keyakinan bahwa penerimaan pemerintah akan terus pulih, ekspor membaik berkat kenaikan harga komoditas, serta disiplin menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB tetap menjadi jangkar kebijakan.

(mkh/mkh)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *