
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Setiap kali Indonesia membicarakan masa depan energinya, kita hampir selalu memulainya dengan angka. Berapa gigawatt pembangkit yang akan dibangun? Berapa megawatt energi terbarukan yang akan ditambahkan? Berapa kapasitas pembangkit yang diperlukan untuk memenuhi pertumbuhan permintaan listrik?
Berapa besar target kapasitas energi surya, angin, panas bumi atau tenaga air dalam sepuluh tahun ke depan? Angka-angka tersebut penting, karena tanpa kapasitas yang cukup tidak mungkin sebuah negara menjalankan ekonominya.
Namun ada persoalan yang lebih mendasar. Megawatt hanya mengukur kapasitas energi, bukan nilai yang diciptakan oleh energi tersebut. Sebuah negara dapat memiliki kapasitas pembangkit yang besar tetapi tetap memiliki sistem energi yang mahal, tidak andal atau tidak mampu mendukung industrialisasi. Sebaliknya, negara dengan sistem energi yang dirancang dengan tepat dapat menggunakan setiap unit energi untuk menghasilkan produktivitas ekonomi yang jauh lebih besar.
Karena itu, mungkin sudah waktunya Indonesia berhenti melihat energi terutama sebagai persoalan berapa banyak megawatt yang kita miliki, dan mulai bertanya pertanyaan yang jauh lebih penting: berapa banyak kemakmuran, produktivitas dan kekuatan ekonomi yang dapat kita ciptakan dari setiap megawatt tersebut?
Cara berpikir berbasis kapasitas sebenarnya sangat mudah dipahami. Energi adalah sektor yang membutuhkan investasi besar dan hasil pembangunannya dapat diukur dengan jelas. Pemerintah dapat mengatakan bahwa kapasitas pembangkit meningkat sekian gigawatt, jaringan transmisi bertambah sekian kilometer, atau rasio elektrifikasi mencapai tingkat tertentu.
Semua itu merupakan indikator yang penting. Tetapi indikator tersebut hanya menjelaskan sisi input dari sistem energi. Ia belum menjelaskan apakah energi tersebut tersedia pada waktu dan lokasi yang dibutuhkan oleh industri, apakah harganya kompetitif, apakah kualitas listriknya cukup baik untuk manufaktur maju, atau apakah tambahan kapasitas tersebut benar-benar menciptakan kegiatan ekonomi baru. Dalam ekonomi modern, energi bukan tujuan akhir. Energi adalah input bagi sesuatu yang jauh lebih besar.
Sejarah Revolusi Industri memberikan gambaran mengenai perbedaan tersebut. Ketika manusia menemukan cara memanfaatkan batu bara dalam skala besar, perubahan yang terjadi bukan sekadar bertambahnya jumlah energi yang tersedia.
Energi tersebut mengubah kemampuan produksi manusia. Mesin uap memungkinkan pabrik menghasilkan barang dalam jumlah yang sebelumnya tidak mungkin. Kereta api mempercepat mobilitas barang dan manusia. Industri baja berkembang.
Kota tumbuh. Perdagangan meningkat. Energi menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi pertumbuhan ekonomi. Yang membuat batu bara begitu penting bukan hanya kandungan energinya, tetapi kemampuan manusia mengubah energi tersebut menjadi economic output. Dengan kata lain, nilai energi tidak berhenti pada unit energi yang dihasilkan. Nilainya muncul dari apa yang dapat dilakukan manusia dengan energi tersebut.
Prinsip yang sama berlaku bagi Indonesia hari ini. Ketika kita membangun pembangkit listrik, pertanyaan pertama memang harus berapa kapasitas yang dibutuhkan. Tetapi pertanyaan kedua harus lebih penting: kapasitas tersebut akan digunakan untuk apa? Apakah untuk memperkuat industri yang sudah ada? Apakah untuk membuka kawasan industri baru? Apakah untuk menarik data center dan pusat komputasi?
Apakah untuk mengembangkan manufaktur maju? Apakah untuk mendukung elektrifikasi transportasi? Apakah untuk menghasilkan hidrogen atau produk kimia bernilai tambah? Apakah untuk meningkatkan produktivitas usaha kecil dan menengah? Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menjadi bagian dari perencanaan energi, kita berisiko membangun kapasitas listrik tanpa memaksimalkan kapasitas ekonominya.
Di sinilah konsep energy productivity menjadi semakin penting. Dalam ekonomi sederhana, kita cenderung mengukur energi dari sisi konsumsi: berapa banyak listrik yang digunakan, berapa banyak bahan bakar yang dikonsumsi dan berapa banyak energi yang diproduksi.
Namun negara maju semakin perlu melihat hubungan antara energi dan output. Berapa nilai ekonomi yang dihasilkan dari setiap unit energi? Berapa banyak pekerjaan yang tercipta? Berapa banyak investasi yang masuk? Berapa besar ekspor yang dihasilkan? Berapa besar produktivitas industri meningkat? Dengan cara pandang ini, energi tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas pasif, tetapi sebagai productive asset.
Perspektif tersebut menjadi semakin penting karena struktur ekonomi global sedang berubah. Dunia tidak lagi hanya membutuhkan energi untuk menjalankan pabrik konvensional. Artificial intelligence, cloud computing, data center, kendaraan listrik, robotika, manufaktur presisi dan berbagai teknologi baru membutuhkan listrik dalam jumlah besar sekaligus kualitas pasokan yang tinggi.
Data center, misalnya, tidak hanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Mereka membutuhkan listrik yang tersedia secara konsisten, memiliki kualitas yang baik dan dapat diproyeksikan dalam jangka panjang. Industri semikonduktor bahkan lebih sensitif terhadap gangguan listrik. Bagi industri semacam ini, satu gangguan pasokan dapat memiliki biaya ekonomi yang jauh lebih besar daripada nilai listrik yang hilang pada saat gangguan tersebut terjadi.
Karena itu, ketika Indonesia ingin menarik investasi masa depan, kita tidak cukup mengatakan bahwa kita memiliki tambahan kapasitas pembangkit. Investor tidak datang hanya karena sebuah negara memiliki banyak megawatt.
Mereka datang ketika energi tersedia di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan harga yang kompetitif dan tingkat keandalan yang dapat dipercaya. Inilah perbedaan antara installed capacity dan economic capacity. Yang pertama berbicara tentang pembangkit. Yang kedua berbicara tentang kemampuan ekonomi untuk tumbuh.
Masalah lokasi menjadi sangat penting bagi Indonesia. Sumber energi tidak selalu berada di dekat pusat konsumsi atau kawasan industri. Indonesia memiliki potensi tenaga air yang besar di wilayah tertentu, panas bumi di wilayah tertentu, tenaga surya yang tersebar luas dan potensi energi angin di lokasi-lokasi tertentu.
Sementara pusat industri, kota besar dan pusat pertumbuhan ekonomi memiliki kebutuhan listrik yang berbeda. Karena itu, pembangunan energi harus berjalan bersama pembangunan transmisi.
Sebuah pembangkit yang menghasilkan energi dalam jumlah besar tetapi tidak memiliki akses jaringan yang memadai belum tentu memberikan nilai ekonomi yang optimal. Sebaliknya, jaringan yang menghubungkan sumber energi dengan kawasan industri dapat mengubah geografi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Maka, transmisi sebenarnya bukan sekadar proyek kelistrikan. Transmisi adalah infrastruktur ekonomi. Ia menentukan ke mana energi dapat bergerak dan, secara tidak langsung, menentukan di mana industri dapat berkembang. Jika Indonesia mampu membangun jaringan yang menghubungkan sumber energi kompetitif dengan kawasan industri, maka kita dapat menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru.
Wilayah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai penghasil sumber daya dapat berkembang menjadi pusat manufaktur. Energi yang sebelumnya keluar sebagai komoditas dapat digunakan untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Hal yang sama berlaku terhadap penyimpanan energi. Dalam sistem energi modern, kapasitas pembangkitan saja tidak cukup. Kita membutuhkan kemampuan untuk mengatur kapan energi digunakan. Baterai, pumped hydro dan berbagai bentuk penyimpanan lainnya memberikan fleksibilitas bagi sistem. Ini sangat penting ketika semakin banyak energi terbarukan masuk ke jaringan.
Dengan penyimpanan yang memadai, energi yang dihasilkan ketika sumber daya tersedia dapat digunakan ketika permintaan meningkat. Dengan demikian, nilai sebuah sistem energi tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak energi yang dapat diproduksi, tetapi juga seberapa fleksibel energi tersebut dapat digunakan.
Perspektif ini seharusnya juga mengubah cara kita menilai keberhasilan transisi energi. Transisi energi tidak seharusnya hanya menjadi perlombaan menambah kapasitas pembangkit terbarukan. Tujuan akhirnya adalah membangun sistem energi yang semakin kompetitif, andal, fleksibel dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi.
Energi terbarukan yang murah dan dapat diintegrasikan dengan jaringan secara efektif dapat menjadi keunggulan industri. Tetapi energi terbarukan yang tidak memiliki jaringan, penyimpanan atau pasar yang memadai belum tentu memberikan manfaat ekonomi yang maksimal. Karena itu, transisi energi harus dilihat sebagai transformasi sistem, bukan sekadar pergantian jenis pembangkit.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menggunakan pendekatan tersebut dalam agenda industrialisasi. Hilirisasi mineral membutuhkan energi. Industri baterai membutuhkan energi. Smelter membutuhkan energi. Pusat data membutuhkan energi.
Manufaktur modern membutuhkan energi. Bahkan pengembangan industri hijau membutuhkan energi dalam jumlah besar. Jika kita mampu menyediakan energi yang kompetitif dan andal, maka energi tersebut dapat menjadi salah satu keunggulan kompetitif Indonesia dalam menarik investasi. Sebaliknya, jika energi mahal atau tidak dapat diandalkan, maka kekayaan mineral dan pasar domestik kita tidak otomatis cukup untuk memenangkan persaingan.
Karena itu, kita perlu mengubah pertanyaan dalam perencanaan energi nasional. Bukan lagi hanya: berapa megawatt yang harus kita bangun? Tetapi juga: berapa megawatt yang dibutuhkan untuk menciptakan satu juta lapangan kerja baru?
Berapa kapasitas energi yang dibutuhkan untuk mendukung kawasan industri baru? Berapa listrik yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas manufaktur? Berapa energi yang dibutuhkan agar Indonesia menjadi pusat data dan AI di kawasan? Berapa kapasitas yang diperlukan untuk mengolah mineral kita menjadi produk teknologi bernilai tinggi?
Pertanyaan tersebut menghubungkan energi dengan outcome ekonomi. Dengan pendekatan ini, setiap proyek energi seharusnya memiliki hubungan yang lebih jelas dengan agenda pembangunan nasional. Pembangkit listrik tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari ekosistem yang mencakup jaringan, kawasan industri, transportasi, investasi, teknologi dan tenaga kerja.
Pembangunan energi dapat dirancang berdasarkan lokasi dan kebutuhan pertumbuhan ekonomi. Kawasan industri dapat direncanakan berdasarkan ketersediaan energi. Bahkan kebijakan investasi dapat mulai mengidentifikasi industri mana yang paling mampu mengubah keunggulan energi Indonesia menjadi nilai tambah.
Ini juga berarti kita perlu mulai mengukur value per megawatt, bukan hanya megawatt itu sendiri. Sebuah sistem energi yang memasok listrik kepada industri bernilai tinggi dapat menciptakan economic output yang jauh lebih besar dibandingkan sistem yang hanya meningkatkan konsumsi tanpa meningkatkan produktivitas.
Energi yang menggerakkan mesin produksi, pusat data atau industri ekspor memiliki multiplier yang berbeda dengan energi yang hanya memenuhi kebutuhan konsumsi. Karena itu, kualitas permintaan energi sama pentingnya dengan jumlah permintaan energi.
Pada akhirnya, Indonesia tidak boleh terjebak dalam paradigma bahwa semakin banyak energi yang diproduksi otomatis berarti semakin maju negara tersebut. Energi adalah sarana. Yang menentukan kemajuan adalah apa yang dilakukan negara dengan energi tersebut.
Kita membutuhkan lebih banyak pembangkit, tetapi kita juga membutuhkan lebih banyak industri. Kita membutuhkan lebih banyak listrik, tetapi kita juga membutuhkan produktivitas yang lebih tinggi. Kita membutuhkan jaringan yang lebih kuat, tetapi kita juga membutuhkan kawasan ekonomi yang mampu menggunakan jaringan tersebut. Kita membutuhkan energi terbarukan, tetapi kita juga membutuhkan industri masa depan yang tumbuh di atas energi tersebut.
Megawatt adalah angka. Produktivitas adalah tujuan. Karena itu, Indonesia harus mulai berhenti berpikir dalam satuan megawatt semata. Kita harus mulai berpikir dalam satuan nilai tambah, produktivitas, investasi, pekerjaan dan daya saing.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sistem energi Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa besar kapasitas pembangkit yang tercatat di atas kertas. Keberhasilannya akan ditentukanoleh seberapa besar ekonomi Indonesia dapat tumbuh karena energi tersebut.
(miq/miq)
Leave a comment