Home Finance Ini Ramalan Terbaru Harga Perak, Bikin Cuan atau Cemas?
Finance

Ini Ramalan Terbaru Harga Perak, Bikin Cuan atau Cemas?

Share
Ini Ramalan Terbaru Harga Perak, Bikin Cuan atau Cemas?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga perak dunia berhasil bangkit sepanjang perdagangan 2-6 November 2026 setelah mengalami tekanan dalam beberapa pekan sebelumnya. Meski bergerak fluktuatif, logam mulia ini akhirnya menutup pekan dengan penguatan lebih dari 5%.

Berdasarkan data Refinitiv, harga perak dunia (XAG/USD) ditutup di level US$51,87 per troy ons pada Jumat (6/11/2026), menguat US$2,77 atau 5,64% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$49,10.


Perak mengawali pekan dengan kenaikan 3,10% menjadi US$50,63 pada Senin (2/11/2026). Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah harga terkoreksi 1,69% menjadi US$49,77 pada Selasa.

Harga kemudian melonjak 4,90% menjadi US$52,21 pada Rabu, mencatatkan kenaikan harian terbesar sepanjang pekan. Perak kembali terkoreksi 0,88% menjadi US$51,75 pada Kamis sebelum naik tipis 0,23% ke US$51,87 pada Jumat.

Meski berhasil menguat dalam sepekan, pergerakan harga menunjukkan bahwa pemulihan perak masih menghadapi tekanan. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor yang membayangi pasar logam mulia.

Data Tenaga Kerja AS Tekan Prospek Perak

Sentimen utama menjelang akhir pekan datang dari laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih lebih kuat dibandingkan perkiraan.

Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (6/11/2026), jumlah pekerjaan nonpertanian atau non-farm payrolls (NFP) AS meningkat sebanyak 165.000 pada Oktober, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 65.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran AS juga turun menjadi 4,1% dari 4,2% pada September. Sementara itu, rata-rata upah per jam meningkat 0,4% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada bulan sebelumnya.

Data tersebut memperlihatkan ketahanan pasar tenaga kerja AS di tengah tekanan inflasi, sekaligus memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Desember pun meningkat. Berdasarkan CME FedWatch yang dikutip Reuters, probabilitas kenaikan suku bunga mencapai 81%, dibandingkan 72,8% sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.

Penguatan ekspektasi tersebut turut mendorong dolar AS naik 0,7% ke posisi tertinggi sejak 29 Oktober, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut meningkat.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi perak karena kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Dolar yang lebih kuat juga membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Meski demikian, perak masih mampu mencatatkan kenaikan tipis pada perdagangan Jumat, menunjukkan bahwa tekanan dari penguatan dolar dan imbal hasil obligasi belum sepenuhnya menghapus pemulihan harga sepanjang pekan.

Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Jadi Perhatian

Selain kebijakan moneter, pergerakan perak juga dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan harga energi global.

Harga minyak mentah Brent mengalami tekanan sepanjang pekan seiring meningkatnya harapan deeskalasi konflik AS-Iran setelah hasil pemilu sela AS. Namun, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah masih membayangi pasar.

Pergerakan minyak menjadi penting karena kenaikan biaya energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Jika inflasi bertahan tinggi, The Fed dapat memiliki alasan lebih kuat untuk melanjutkan kenaikan suku bunga.

Sebaliknya, penurunan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi meredakan tekanan inflasi dan mengurangi kebutuhan pengetatan moneter lebih lanjut.

Dari sisi permintaan, perak juga memiliki karakteristik berbeda dibandingkan emas. Selain digunakan sebagai aset investasi, perak merupakan bahan baku penting dalam industri elektronik, panel surya, dan berbagai aktivitas manufaktur.

Oleh karena itu, prospek perak tidak hanya bergantung pada pergerakan dolar dan suku bunga, tetapi juga pada ekspektasi pertumbuhan ekonomi serta permintaan industri global.

Menanti Arah Inflasi dan Kebijakan The Fed

Memasuki perdagangan 9-13 November 2026, perhatian pasar akan kembali tertuju pada perkembangan inflasi AS dan sinyal kebijakan moneter The Fed.

Penguatan pasar tenaga kerja pada Oktober memberikan indikasi bahwa ekonomi AS masih memiliki ketahanan, sehingga bank sentral tidak harus terburu-buru melonggarkan kebijakan moneter.

Dua pejabat The Fed pada Kamis (5/11/2026) juga mendukung kenaikan suku bunga secara bertahap untuk mengendalikan inflasi yang masih berada di atas target.

Bagi pasar perak, data inflasi yang lebih tinggi dibandingkan ekspektasi berpotensi memperkuat dolar AS dan imbal hasil obligasi, sehingga membatasi ruang penguatan harga.

Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mulai menunjukkan perlambatan, ekspektasi pengetatan moneter dapat mereda dan memberikan dukungan bagi logam mulia.

Perkembangan konflik Timur Tengah dan pergerakan harga minyak juga perlu diperhatikan karena keduanya dapat memengaruhi ekspektasi inflasi serta arah kebijakan bank sentral AS.

Perak Mulai Pulih, tetapi Tren Turun Masih Membayangi

Secara teknikal, penguatan harga perak dalam sepekan menunjukkan adanya upaya pemulihan setelah tekanan jual yang cukup dalam sepanjang Oktober.

Penutupan Jumat di US$51,87 telah berada di atas rata-rata harga lima hari perdagangan sebesar US$51,25. Namun, posisi tersebut masih berada di bawah rata-rata 10 hari sebesar US$52,00 dan rata-rata 20 hari sebesar US$54,56.

Kondisi ini menunjukkan momentum jangka pendek mulai membaik, tetapi tren penurunan dalam periode yang lebih panjang belum sepenuhnya berakhir.

Untuk perdagangan 9-13 November 2026, perak berpeluang melanjutkan pemulihan apabila mampu bertahan di atas area US$51,75.

Area US$52,21 menjadi resistance awal yang perlu ditembus, disusul US$52,39. Jika kedua level tersebut berhasil dilewati, peluang penguatan dapat terbuka menuju US$53,98.

Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat, area US$50,63 menjadi support awal yang perlu diperhatikan, kemudian US$49,77. Penurunan lebih lanjut dapat membawa harga kembali menguji area US$49,10, yang merupakan penutupan pekan sebelumnya.

Dengan demikian, bias perak untuk pekan depan cenderung rebound secara jangka pendek, tetapi masih rentan terhadap koreksi. Kemampuan harga mempertahankan penguatan akan sangat bergantung pada arah dolar AS, imbal hasil obligasi, serta perubahan ekspektasi suku bunga The Fed.

(slm/wur)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *