Home Finance Ini Sosok di Balik Milisi Sekutu Iran yang Bikin AS-Israel Ketir-Ketir
Finance

Ini Sosok di Balik Milisi Sekutu Iran yang Bikin AS-Israel Ketir-Ketir

Share
Ini Sosok di Balik Milisi Sekutu Iran yang Bikin AS-Israel Ketir-Ketir
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran semakin meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Pertempuran tidak hanya melibatkan militer negara-negara tersebut, tetapi juga kelompok bersenjata yang selama ini memiliki hubungan dekat dengan Teheran.

Salah satu perkembangan terbaru terjadi di Arab Saudi. Serangan kelompok Houthi dari Yaman menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10/2026).

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Ketegangan kemudian berlanjut dengan serangan terhadap fasilitas penting Arab Saudi, termasuk kawasan perusahaan minyak Saudi Aramco.

Rentetan serangan ini kembali memperlihatkan bahwa Iran memiliki jaringan kelompok bersenjata yang tersebar di berbagai wilayah Timur Tengah.

Selama puluhan tahun, Teheran membangun hubungan dengan sejumlah kelompok yang memiliki pasukan, persenjataan, serta wilayah operasi masing-masing.

Jaringan ini dikenal sebagai Axis of Resistance atau Poros Perlawanan, yang memiliki kesamaan sikap dalam menentang Israel dan pengaruh AS di kawasan.

Kelompok-kelompok tersebut tidak hanya berada di Yaman, Lebanon, dan Palestina, tetapi juga tersebar di Irak. Bahkan, sebagian di antaranya memiliki pengaruh politik yang cukup besar di negara masing-masing.

CNBC Indonesia merangkum sedikitnya sembilan kelompok bersenjata yang dikenal memiliki hubungan dengan Iran. 


Houthi, Hizbullah, dan Hamas merupakan tiga kelompok yang paling menonjol dalam konflik Timur Tengah. Ketiganya memiliki hubungan panjang dengan Iran, tetapi kekuatan militer dan kepemimpinannya sangat berbeda.

Lantas, siapa sebenarnya tokoh-tokoh yang memimpin ketiga kelompok tersebut?

Houthi : Abdul-Malik al-Houthi

Di antara pemimpin kelompok bersenjata sekutu Iran, Abdul-Malik al-Houthi merupakan salah satu tokoh yang paling lama bertahan.

Pria berusia 47 tahun ini berasal dari wilayah Saada, Yaman utara. Ia lahir dari keluarga ulama yang memiliki pengaruh dalam komunitas Muslim Syiah Zaidiyah.

Perjalanan Abdul-Malik sebagai pemimpin dimulai pada 2004, ketika kakaknya, Hussein al-Houthi, yang mendirikan gerakan tersebut, tewas dalam pertempuran melawan pemerintah Yaman.

Saat itu, Abdul-Malik masih berusia sekitar 25 tahun. Namun, ia berhasil mengambil alih kepemimpinan dan memperluas pengaruh kelompok tersebut.




Seorang warga Yaman mengangkat poster pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dalam sebuah upacara peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad di Sanaa pada 27 September 2023. (Photo by MOHAMMED HUWAIS / AFP)Seorang warga Yaman mengangkat poster pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dalam sebuah upacara peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad di Sanaa pada 27 September 2023. (Photo by MOHAMMED HUWAIS / AFP) Foto: Seorang warga Yaman mengangkat poster pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dalam sebuah upacara peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad di Sanaa pada 27 September 2023. (AFP/MOHAMMED HUWAIS)

Di bawah kepemimpinannya, Houthi berhasil merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada 2014. Kelompok yang dahulu mengandalkan senjata ringan kemudian berkembang menjadi kekuatan militer dengan rudal balistik, rudal jelajah, hingga drone.

Meski memiliki pengaruh besar, Abdul-Malik dikenal sangat tertutup.

Reuters pada 16 September 2026 melaporkan bahwa pejabat asing yang berhubungan dengannya bahkan tidak diketahui pernah bertemu langsung. Dalam sejumlah pertemuan, ia hanya muncul melalui layar televisi dari lokasi yang dirahasiakan.

Sementara itu, komando militernya dijalankan oleh Mayor Jenderal Yusuf Hassan al-Madani, yang ditunjuk sebagai Kepala Staf pada Oktober 2025 setelah pendahulunya, Muhammad Abdul Karim al-Ghamari, tewas akibat serangan Israel.

Dari sisi kekuatan, laporan Reuters yang mengutip perkiraan panel ahli PBB menyebut Houthi memiliki sekitar 350.000 pasukan berdasarkan penilaian pada 2025, termasuk anggota yang direkrut saat masih di bawah umur.

Hizbullah : Naim Qassem

Berbeda dengan Abdul-Malik yang tumbuh dalam lingkungan keluarga pemimpin gerakan bersenjata, Naim Qassem mempunyai perjalanan panjang melalui organisasi politik dan keagamaan.

Qassem lahir di Beirut, Lebanon, pada 1953. Sebelum menjadi pemimpin Hizbullah, ia pernah berprofesi sebagai guru kimia.

Perjalanan politiknya dimulai ketika bergabung dengan gerakan Syiah Amal. Namun, ia meninggalkan organisasi tersebut pada 1979, setelah Revolusi Islam Iran membawa Ayatollah Ruhollah Khomeini ke tampuk kekuasaan.

Qassem kemudian ikut dalam proses pembentukan Hizbullah pada 1982, dengan dukungan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah pada 1991. Jabatan tersebut dipertahankannya selama lebih dari tiga dekade.

Ia juga berperan mengatur kampanye pemilihan umum Hizbullah sejak 1992, ketika kelompok tersebut mulai terlibat dalam politik Lebanon.




Naim Qassem. (Dok Reuters)Naim Qassem. (Dok Reuters) Foto: Naim Qassem. (Dok Reuters)

Namun, perubahan besar terjadi pada September 2024 ketika Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah selama puluhan tahun, tewas dalam serangan udara Israel.

Tokoh lain yang dipandang sebagai calon pengganti Nasrallah, Hashem Safieddine, juga tewas. Kondisi tersebut membuka jalan bagi Qassem untuk menjadi Sekretaris Jenderal pada 29 Oktober 2024.

Qassem kini memimpin Hizbullah ketika organisasi tersebut kehilangan banyak tokoh militernya.

Salah satunya adalah Haytham Ali Tabatabai, Kepala Staf Militer Hizbullah yang tewas dalam serangan Israel pada November 2025. Nama penggantinya belum dapat dipastikan secara independen.

Sebelum mengalami kerugian besar akibat perang, Hizbullah diperkirakan memiliki 40.000 hingga 50.000 petempur berdasarkan laporan Congressional Research Service pada 2024. Jumlah pasukan aktifnya saat ini belum dapat dipastikan.

Hamas : Khalil al-Hayya

Sementara itu, Hamas kini dipimpin Khalil al-Hayya, tokoh senior yang telah bergabung sejak organisasi tersebut berdiri pada 1987.

Al-Hayya lahir di Jalur Gaza pada 1960. Sebelum bergabung dengan Hamas, ia aktif dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan kemudian menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang studi Islam.

Kariernya berkembang bersama tokoh-tokoh penting Hamas, termasuk Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar. Ia pernah menjadi wakil Sinwar untuk wilayah Gaza.

Pada 2021, al-Hayya meninggalkan Gaza dan menetap di Doha, Qatar, bersama sejumlah pemimpin Hamas lainnya.

Dari sana, ia menjadi salah satu tokoh utama yang berhubungan dengan negara-negara Arab serta memimpin berbagai perundingan gencatan senjata dengan Israel.

Al-Hayya juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan Iran, yang selama bertahun-tahun memberikan dukungan dana dan persenjataan kepada Hamas.

Perjalanan hidupnya tidak terlepas dari serangan Israel. Sejumlah anggota keluarganya, termasuk anak-anaknya, tewas dalam berbagai serangan. Ia sendiri selamat dari serangan Israel di Doha pada September 2025.

Setelah Ismail Haniyeh tewas di Iran dan Yahya Sinwar tewas di Gaza pada 2024, pengaruh al-Hayya dalam organisasi semakin besar.




Hamas menunjuk Khalil Al-Hayya sebagai pemimpin baru. (Tangkapan Layar Video Reuters/)Hamas menunjuk Khalil Al-Hayya sebagai pemimpin baru. (Tangkapan Layar Video Reuters/) Foto: Hamas menunjuk Khalil Al-Hayya sebagai pemimpin baru. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Hingga akhirnya, pada 20 Juli 2026, al-Hayya resmi terpilih sebagai pemimpin tertinggi Hamas melalui pemilihan internal organisasi.

Di sisi militer, Hamas juga kehilangan banyak komandannya, termasuk Mohammed Deif, Mohammed Sinwar, Izz al-Din al-Haddad, dan Mohammed Odeh.

Sebelum perang Gaza pada 2023, Israel memperkirakan Hamas memiliki sekitar 30.000 pasukan. Perkiraan Israel pada Oktober 2025 menyebut sekitar 20.000 pasukan, tetapi jumlah terkini belum dapat dipastikan.

Meski Houthi, Hizbullah, dan Hamas sama-sama memiliki hubungan dengan Iran, ketiganya tidak sepenuhnya berada dalam satu garis komando.

Masing-masing mempunyai pemimpin, kepentingan, dan keputusan militer sendiri.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/luc)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *