
Jakarta, CNBC Indonesia – Ancaman kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu menggandakan diri dan menyebar secara mandiri di internet kian menjadi sorotan serius para pakar keamanan siber. Perusahaan pengembang AI, Anthropic, memperingatkan bahwa model AI berpotensi mengembangkan kemampuan tersebut sebelum akhir tahun 2026 ini.
Dalam laporannya, Anthropic mengungkapkan kemungkinan AI berbahaya dalam membangun jaringan botnet, menyebar dengan kecepatan tinggi, melawan berbagai upaya pemadaman (shut down), hingga membobol data center demi memperkuat kapasitas komputasinya.
Anthropic menyebutkan, hasil eksperimen menunjukkan bahwa model AI berukuran menengah dengan kapasitas 30 miliar parameter atau kurang, sudah mampu menjalankan sebagian tugas yang diperlukan untuk menggandakan diri. Kendati demikian, model tersebut saat ini masih kesulitan untuk merampungkan seluruh rangkaian prosesnya secara konsisten.
Lebih lanjut, Anthropic menjelaskan bahwa model AI ke depannya dapat menggabungkan sumber daya komputasi dengan cara membajak perangkat murah yang terhubung ke internet. Dalam simulasi pengujian pada jaringan sederhana, model tersebut terbukti mampu mereplikasi dirinya sendiri.
“Replikator seperti ini akan sangat sulit dihentikan karena tidak ada satu titik pusat yang bisa dimatikan untuk melumpuhkannya,” tulis Anthropic, dikutip dari Reuters, Rabu (14/10/2026).
Perusahaan tersebut memperkirakan, apabila peningkatan kemampuan model AI berukuran kecil ini terus melaju sesuai tren historis, teknologi tersebut sudah dapat mencapai level kemampuan mereplikasi diri secara mandiri pada penghujung 2026. Tidak hanya itu, AI juga berpotensi mengincar sumber daya komputasi yang jauh lebih tangguh, termasuk jajaran prosesor canggih di data center.
Risiko memperjelas peringatan yang disampaikan bulan lalu oleh CEO Anthropic, Dario Amodei, yang sempat melontarkan gagasan bahwa dalam kurun waktu satu tahun ke depan atau bahkan lebih cepat, AI berpotensi membajak ‘seluruh internet’ menggunakan ‘jaringan botnet yang persisten’. Bisa dibilang, dalam skenario terburuk, internet bisa tumbang dan lumpuh total karena diambil alih botnet berbahaya.
Pakar Berbeda Pendapat
Meski demikian, ancaman ini memicu perdebatan di kalangan para pakar keamanan siber yang memiliki pandangan beragam mengenai tingkat bahayanya.
Ciaran Martin, mantan Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (National Cyber Security Centre), menilai bahwa laporan yang dirilis Anthropic cenderung mengandung unsur kekhawatiran yang berlebihan.
“‘Kami berhasil menjalankan model kecil di televisi murah’ bukan berarti krisis keamanan global telah terjadi,” ujar Martin.
Sebaliknya, pandangan berbeda disampaikan oleh Zhengxiong Li, Asisten Profesor Ilmu Komputer dan Teknik di University of Colorado Denver. Ia menilai potensi AI untuk bertransformasi menjadi program otonom yang mampu menggandakan diri serta membajak perangkat secara mandiri tetap merupakan ancaman yang mengkhawatirkan.
“Jika program itu berjalan di banyak perangkat tanpa bergantung pada layanan pusat, kemungkinan besar tidak ada satu titik tumpu pun untuk menghentikannya,” tegas Li.
Sementara itu, Jessica Ji, Analis Riset Senior di Center for Security and Emerging Technology (CSET) Georgetown, berpendapat bahwa kemungkinan AI menyebar secara mandiri tetap layak untuk diwaspadai dan dipertimbangkan, terutama setelah rentetan pengungkapan aktivitas AI berbahaya dalam tiga bulan terakhir.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa probabilitas ancaman tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya. “Kita belum tahu secara pasti seberapa besar kemungkinan hal itu benar-benar terjadi. Kemungkinannya memang bukan nol, tetapi juga bukan sesuatu yang dijamin pasti terjadi,” pungkasnya.
(fab/fab)
Leave a comment