
Jakarta, CNBC Indonesia – Serangan besar-besaran kelompok Houthi Yaman ke Arab Saudi kini menjadi ujian berdarah pertama bagi Perjanjian Pertahanan Gabungan Makkah, sebuah pakta pertahanan militer antara Riyadh, Ankara, dan Islamabad yang baru saja dibentuk sebulan lalu.
Mengutip Russia Today, Kamis (10/9/2026), Pengamat Politik dan Ekonomi Universitas RUDN Farhad Ibragimov menyoroti bahwa eskalasi ini memunculkan pertanyaan konkret mengenai tindakan nyata apa yang seharusnya diambil oleh sekutu Arab Saudi. Menurut koalisi pimpinan Saudi, rudal dan pesawat tak berawak Houthi telah menghantam target sipil serta ekonomi di empat kota selatan, melukai setidaknya 73 orang, dan membakar fasilitas energi krusial.
Houthi secara terang-terangan mengeklaim telah menyerang fasilitas Saudi Aramco di Abha, Jizan, dan Najran, serta Pangkalan Udara Raja Khalid di Khamis Mushait. Serangan terdistribusi ini, terutama di Jizan yang memiliki kilang berkapasitas 400.000 barel per hari, membuktikan kemampuan Houthi untuk melumpuhkan infrastruktur energi dan meragukan keandalan Arab Saudi sebagai pemasok minyak global.
Houthi berdalih bahwa operasi besar ini adalah balasan atas 121 serangan udara Saudi di Yaman selama tiga hari sebelumnya.
Krisis ini secara langsung menekan kredibilitas Perjanjian Mekkah yang ditandatangani pada 7 Agustus 2026. Formula pakta tersebut secara terbuka menyiratkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara dianggap sebagai serangan terhadap semuanya, sebuah konsep yang bahkan disamakan dengan Pasal 5 NATO oleh Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.
“Namun, formula pertahanan kolektif yang terdengar mengesankan tidak secara otomatis menyiratkan mekanisme militer yang berfungsi,” paparnya.
Reaksi para sekutu sejauh ini tampaknya mengonfirmasi kelemahan tersebut. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif hanya mengutuk keras dan menyebut serangan Houthi sebagai tindakan pengecut, sementara Kementerian Luar Negeri Turki menuntut penghentian serangan. Tidak ada satu pun dari kedua negara tersebut yang mengumumkan pengerahan bantuan militer atau mengaktifkan komite darurat untuk membantu Riyadh.
Secara geopolitik, Ankara dan Islamabad dinilai sengaja menghindari keterlibatan langsung di Yaman demi menjaga hubungan dengan Iran dan mencegah terbentuknya blok militer anti-Iran.
“Jika tanggapan praktis terbatas pada retorika tentang serangan pengecut, keuntungan reputasi yang diperoleh dari pertemuan puncak Agustus akan menguap dengan cepat,” tegasnya.
Di tengah ketidakpastian dukungan militer aliansi ini, pasar energi global mulai memanas. Harga minyak mentah Brent merangkak naik mendekati US$99 (Rp1.752.300) per barel. Kepanikan pasar ini didorong oleh ancaman ganda pada rute pelayaran energi utama, mengingat AS dan Iran juga baru saja saling serang kapal tanker di Selat Hormuz pada 4 September lalu.
“Bagi para penandatangan Perjanjian Mekkah, serangan itu tidak berfungsi sebagai pemicu untuk secara otomatis memasuki perang, melainkan ujian atas kemampuan mereka untuk merancang tindakan terpadu,” pungkasnya.
(tps/luc)
Leave a comment