Home Finance Jurus Baru Pemerintah Ibu Kota Atasi Polusi Udara: Tarif Parkir Naik
Finance

Jurus Baru Pemerintah Ibu Kota Atasi Polusi Udara: Tarif Parkir Naik

Share
Jurus Baru Pemerintah Ibu Kota Atasi Polusi Udara: Tarif Parkir Naik
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah New Delhi memperketat upaya pengendalian polusi udara mulai Minggu (1/11/2026). Sejumlah kebijakan baru diberlakukan, mulai dari menaikkan tarif parkir kendaraan hingga meminta pegawai bekerja dari rumah (work from home/WFH) demi menekan tingkat polusi di ibu kota India tersebut.

Mengutip Reuters, aturan yang mulai berlaku pada Minggu itu mencakup kenaikan tarif parkir kendaraan hingga dua kali lipat. Pemerintah juga menerapkan pengaturan WFH bagi pegawai kantor pemerintahan maupun sektor swasta untuk mengurangi emisi dari aktivitas transportasi.

Selain itu, kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi yang telah ditetapkan akan dilarang memasuki wilayah ibu kota. Pemerintah juga langsung memberlakukan larangan terhadap seluruh aktivitas pembongkaran yang menghasilkan debu serta pekerjaan konstruksi di luar ruangan.

Kantor Kepala Menteri Delhi, Rekha Gupta, menyatakan bahwa mulai 1 November, Rencana Aksi Musim Dingin Delhi akan diterapkan dengan pengawasan polusi yang lebih ketat, penegakan aturan yang diperkuat, serta pemantauan selama 24 jam setiap hari.

“Kami dengan rendah hati meminta seluruh warga Delhi untuk mematuhi pedoman ini dan ikut berkontribusi dalam mewujudkan udara Delhi yang lebih bersih dan sehat,” demikian pernyataan kantor Gupta.

Dalam sebulan terakhir, pemerintah Delhi sebenarnya telah lebih dulu menjalankan sejumlah kebijakan untuk menekan pencemaran udara. Di antaranya melarang pembakaran sampah serta membatasi penggunaan batu bara dan kayu bakar oleh pedagang makanan.

Namun, berbagai upaya serupa pada tahun-tahun sebelumnya belum mampu mengatasi persoalan kabut asap yang rutin menyelimuti kota tersebut setiap November hingga Januari. Pada periode itu, suhu yang lebih rendah membuat polutan terperangkap di dekat permukaan tanah sehingga kualitas udara semakin memburuk.

Pencemaran udara di Delhi berasal dari berbagai sumber, antara lain emisi kendaraan, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, kegiatan industri, debu konstruksi, serta pembakaran sisa tanaman di negara bagian sekitar.

Kementerian Lingkungan Hidup India mencatat, kendaraan menyumbang sekitar 23% polusi udara Delhi selama musim dingin. Sementara itu, pembakaran biomassa, termasuk sisa tanaman di lahan pertanian, berkontribusi sekitar 20%. Adapun sektor industri, termasuk pembangkit listrik tenaga batu bara, menyumbang sekitar 9%.

Kondisi tersebut membuat konsentrasi PM2.5 di Delhi kerap melonjak tajam saat puncak musim dingin. Partikel polutan berukuran sangat kecil ini berbahaya karena dapat masuk jauh ke dalam paru-paru hingga aliran darah dan dikaitkan dengan risiko kanker.

Kadar PM2.5 di kota itu sering kali melampaui 300 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut sekitar 20 kali lebih tinggi dibandingkan ambang batas harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada tahun lalu, tingkat PM2.5 bahkan sempat mencapai 846 mikrogram per meter kubik atau sekitar 56 kali lipat dari pedoman WHO.

Sementara itu, pemantauan pada Minggu menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada di level 201 mikrogram per meter kubik, lebih dari 13 kali lipat batas aman. Angka tersebut kemungkinan sedikit terbantu oleh hujan yang turun secara berkala dalam beberapa hari terakhir.

Dampak polusi udara di India juga tercermin dalam sebuah studi yang diterbitkan jurnal The Lancet Planetary Health pada 2024. Penelitian tersebut memperkirakan sekitar 3,8 juta kematian di India sepanjang 2009 hingga 2019 berkaitan dengan pencemaran udara.

 

(luc/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *