Jakarta, CNBC Indonesia – Gelar sarjana yang dulu menjadi tiket menuju pekerjaan layak kini tak lagi menjamin masa depan anak muda China. Setiap tahun jutaan lulusan baru membanjiri pasar kerja, tetapi lowongan justru kian terbatas.
Bagi sebagian generasi muda, ijazah tinggi kini hanya menjadi bekal untuk antre lebih panjang mencari pekerjaan, bahkan hingga berbulan-bulan.
Tahun ini, sebanyak 12,7 juta mahasiswa diperkirakan lulus dari perguruan tinggi di China, hampir 500.000 lebih banyak dibandingkan tahun lalu dan sekitar dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
Di sisi lain, pelemahan sektor properti, konsumsi yang lesu, serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut menekan permintaan tenaga kerja muda.
Pemerintah China terus mengambil berbagai langkah untuk memperbaiki kondisi pasar kerja. Namun, pengangguran kaum muda masih menjadi persoalan yang sulit teratasi.
Jumlah pengangguran muda China Foto: Economist
|
Lulusan Bertambah, Lapangan Kerja Menyempit
Tekanan terhadap pekerja muda China tercermin dari tingginya tingkat pengangguran.
Pada 2023, angka resmi pengangguran kaum muda mencapai sekitar 20%. Pemerintah kemudian menghentikan sementara publikasi data tersebut dan memperkenalkan metodologi baru.
Mengutip Trading Economics, sekitar 12,7 juta mahasiswa diperkirakan lulus pada musim panas tahun ini, mencatat rekor jumlah lulusan baru yang masuk ke pasar kerja.
Kondisi tersebut terjadi ketika pasar tenaga kerja sudah menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi dan pesatnya perkembangan AI, yang turut mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.
Beberapa bulan kemudian, pemerintah kembali merilis data dengan metodologi yang telah diubah. Meski menghasilkan angka yang lebih rendah, tingkat pengangguran kaum muda kembali mendekati 20% pada musim panas tahun ini.
Pemerintah kemudian meminta perusahaan milik negara meningkatkan perekrutan lulusan baru. Langkah tersebut juga diharapkan mendorong perusahaan swasta menahan diri dari pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja muda.
Tekanan pasar kerja terlihat dalam kasus Xingyu Automotive Lighting, produsen komponen otomotif di China timur.
Perusahaan tersebut baru-baru ini memberikan pilihan kepada sekitar 140 lulusan baru yang baru bekerja selama beberapa pekan: mengundurkan diri dengan kompensasi setengah bulan gaji atau pindah ke pekerjaan di lantai pabrik dengan upah lebih rendah.
Lebih dari 100 orang memilih keluar.
Kasus tersebut kemudian memicu kemarahan publik. People’s Daily, media resmi Partai Komunis China, mengecam perusahaan tersebut karena dinilai merusak kepercayaan masyarakat.
Volkswagen, yang membeli pasokan dari Xingyu, mengatakan sedang menyelidiki kasus tersebut.
Setelah tekanan meningkat, Xingyu meminta maaf, memecat kepala sumber daya manusia (HR), serta memangkas gaji sejumlah jajaran eksekutif.
Kasus ini mendapat perhatian luas karena mencerminkan keresahan yang lebih besar di kalangan anak muda China.
Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa melihat kerja keras dan pendidikan tinggi sebagai jalur menuju kehidupan yang lebih baik. Kini, semakin banyak lulusan memasuki pasar kerja ketika kesempatan justru semakin terbatas.
Sektor yang Dulu Menyerap Anak Muda Ikut Tertekan
Sejumlah industri yang sebelumnya menjadi penyerap tenaga kerja muda juga menghadapi tekanan.
Industri bimbingan belajar, misalnya, kehilangan ratusan ribu pekerjaan setelah pemerintah memperketat regulasi sektor tersebut.
Industri hiburan China juga mulai memanfaatkan AI untuk memproduksi berbagai tayangan dengan lebih sedikit aktor dan tenaga produksi.
Perusahaan teknologi pun melakukan pemangkasan tenaga kerja, termasuk terhadap pekerja di bidang teknik.
Sementara itu, ekonomi gig yang sebelumnya menjadi pilihan alternatif bagi pencari kerja kini juga semakin padat. Jumlah pengemudi yang bekerja secara berlebihan meningkat, sementara rata-rata pendapatan mereka menurun.
Kondisi tersebut membuat persoalan pengangguran anak muda tidak lagi sekadar mengenai sulitnya mendapatkan pekerjaan pertama.
Bertahun-tahun menghadapi pasar kerja yang lemah mulai mengubah cara sebagian anak muda China memandang pekerjaan dan persaingan.
Sebagian memilih keluar dari persaingan kerja dan mengikuti fenomena yang dikenal sebagai “lying flat”, yakni mengurangi ambisi mengejar pekerjaan dan karier di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Sebagian lainnya menjadi “full-time children”, yakni tinggal bersama orang tua dan membantu pekerjaan rumah tangga dengan imbalan uang saku.
Ada pula yang memilih tetap menjalani rutinitas seperti orang yang bekerja, meski sebenarnya belum memiliki pekerjaan.
Muncul Bisnis “Pura-Pura Bekerja”
Fenomena tersebut bahkan melahirkan jenis bisnis baru.
Sejak tahun lalu, sejumlah perusahaan di berbagai kota di China mulai menyediakan ruang kantor bagi orang yang ingin “berpura-pura bekerja”.
Salah satunya menggunakan nama “The Pretend to Work Company”.
Dengan membayar sekitar 30 yuan per hari atau sekitar Rp80.000 berdasarkan kurs Rp2.664,29 per yuan, pengunjung dapat duduk di meja kerja, menggunakan fasilitas kantor, berinteraksi dengan orang lain, dan mempertahankan rutinitas layaknya pekerja kantoran.
Sebagian memang menggunakan waktu tersebut untuk mencari pekerjaan, seperti mengirim lamaran. Namun, sebagian lainnya hanya menjalani rutinitas kantor atau menghabiskan waktu dengan ponsel.
Perpustakaan umum juga menjadi tempat bagi kelompok ini.
Di Capital Library di Beijing, salah satu perpustakaan terbesar di kota tersebut, meja-meja dipenuhi anak muda pada suatu Kamis sore. Sebagian memperbaiki CV, sementara yang lain bermain gim komputer.
Salah seorang pengunjung mengatakan dirinya kehilangan pekerjaan dari perusahaan teknologi enam bulan sebelumnya.
Ia memilih mengambil jeda dari pekerjaan penuh waktu sembari mengerjakan proyek perangkat lunaknya sendiri dan membaca lebih banyak buku.
Sarjana menganggur di China duduk di perpusatakaan Foto: Economist
|
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana pengangguran berkepanjangan mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari anak muda China.
Bagi sebagian orang, pekerjaan bukan hanya sumber pendapatan. Pekerjaan juga menjadi rutinitas, status sosial, sekaligus cara untuk tetap merasa menjadi bagian dari kehidupan profesional.
Ketika pekerjaan semakin sulit didapat, sebagian anak muda China akhirnya mencari cara lain untuk mempertahankan rutinitas tersebut-bahkan dengan “berpura-pura bekerja”.
(mae/mae)


Leave a comment