
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua Mahkamah Agung Bolivia, Romer Saucedo, melarikan diri ke luar negeri bersama keluarganya setelah menuding pemerintahan Presiden Rodrigo Paz melakukan intimidasi dan persekusi terhadap dirinya. Kepergiannya terjadi di tengah penyelidikan terhadap sejumlah pejabat tinggi lembaga peradilan Bolivia yang didukung oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Saucedo mengumumkan kepergiannya pada Rabu (4/11/2026) melalui platform X. Ia menuding pemerintahan Paz yang berhaluan kanan-tengah berupaya menekan dirinya, meskipun belum diketahui adanya penyelidikan resmi yang secara khusus menargetkan ketua pengadilan tertinggi Bolivia tersebut.
“Saya berada di pengasingan bersama seluruh keluarga saya,” tulis Saucedo, sebagaimana dikutip AFP. “Saya tahu mereka akan merekayasa bukti untuk mendiskreditkan saya,” tambahnya.
Namun, Saucedo tidak menjelaskan tuduhan apa yang mungkin diarahkan kepadanya maupun negara tempat dirinya kini berada. Sebagai ketua Mahkamah Agung, ia juga memiliki kekebalan hukum tertentu terkait jabatannya.
Kepergian Saucedo menambah ketegangan antara pemerintah Bolivia dan lembaga peradilan, menyusul serangkaian penangkapan pejabat tinggi kehakiman atas dugaan keterlibatan dalam jaringan perdagangan narkoba.
Pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan dukungan terhadap sejumlah penangkapan pejabat peradilan Bolivia yang diduga memiliki hubungan dengan aktivitas perdagangan narkotika.
Pada Oktober lalu, mantan Jaksa Agung Bolivia Roger Mariaca ditahan hanya dua hari setelah pemerintah AS memasukkan namanya ke dalam daftar hitam. Washington menuduh Mariaca menerima suap untuk memfasilitasi perdagangan narkoba.
Setelah penangkapan tersebut, Kongres Bolivia menunjuk Jose Armando Urioste sebagai jaksa agung sementara.
Urioste pada Rabu malam mengungkapkan bahwa kantornya telah menerbitkan surat perintah penangkapan sehari sebelumnya terkait dugaan perdagangan zat terlarang dan keterlibatan dalam organisasi kriminal.
Namun, ia tidak menyebutkan apakah Saucedo termasuk pihak yang terlibat dalam perkara tersebut.
Presiden Buka Suara
Presiden Rodrigo Paz turut menanggapi kabar kepergian Saucedo ketika menghadiri pertemuan bisnis di Spanyol.
Menurut Paz, keputusan ketua Mahkamah Agung meninggalkan Bolivia merupakan perkembangan yang menyedihkan, tetapi sekaligus memberikan harapan bagi masa depan sistem peradilan negara tersebut.
“Ini adalah kabar yang menyakitkan, tetapi menggembirakan bagi masa depan,” ujar Paz.
Ia juga mengaitkan kepergian Saucedo dengan sejumlah tuduhan dan penyelidikan mengenai sistem peradilan Bolivia.
“Dia meninggalkan negara ini karena terdapat sejumlah tuduhan atau penyelidikan terkait model sistem peradilan kita,” kata Paz, tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai perkara yang dimaksud.
Sementara itu, para hakim Mahkamah Agung telah menunjuk Rosmery Ruiz, anggota paling senior di lembaga tersebut, sebagai ketua sementara untuk menggantikan Saucedo selama ketidakhadirannya.
Meski telah meninggalkan Bolivia, Saucedo menyatakan tidak berniat mengundurkan diri dari jabatannya.
Namun, posisinya terancam apabila ia tidak kembali menjalankan tugas di Mahkamah Agung dalam enam hari ke depan. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, ketidakhadiran tersebut dapat menyebabkan dirinya kehilangan jabatan.
Adapun polemik di lembaga peradilan Bolivia berlangsung ketika pemerintahan Paz tengah mempererat hubungan dengan Washington, terutama dalam kerja sama pemberantasan perdagangan narkoba.
Bolivia menjadi salah satu negara Amerika Latin yang berupaya membangun hubungan lebih dekat dengan pemerintahan Trump.
Pada Maret lalu, Bolivia bergabung dengan aliansi Shield of the Americas yang digagas Trump.
Kemitraan regional tersebut bertujuan memperkuat upaya pemberantasan perdagangan narkoba di kawasan Amerika Latin, meskipun kerangka dan mekanisme kerja samanya belum dijabarkan secara terperinci.
(luc/luc)
Leave a comment