
Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar komputer pribadi (personal computer/PC) global mengalami tekanan berat pada kuartal III-2026. Kondisi ini dipicu oleh krisis pasokan komponen serta lonjakan harga memori (random access memory/RAM) yang kian membebani industri.
Fenomena yang dikenal dengan istilah “RAMmageddon” tersebut berdampak signifikan terhadap penjualan komputer di seluruh dunia. Kelangkaan komponen dan kenaikan harga yang tajam membuat pasar PC semakin tertekan, terutama di tengah melemahnya daya beli konsumen global.
Berdasarkan laporan terbaru International Data Corporation (IDC), pengiriman PC global pada kuartal III-2026 tercatat hanya mencapai 62,7 juta unit. Angka tersebut menyusut 9,1% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter).
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, penurunan pengiriman PC bahkan menembus 20,1% secara tahunan (year-on-year).
IDC menyebut krisis rantai pasok dan melambungnya harga jual sebagai faktor utama yang mengikis minat beli masyarakat. Kondisi ini memperpanjang periode tekanan di industri PC akibat melambungnya harga komponen memori secara global.
Sebelumnya pada Juli 2026, IDC melaporkan penurunan pengiriman PC untuk pertama kalinya setelah sempat tumbuh selama sembilan kuartal berturut-turut. Laporan tersebut muncul selang beberapa bulan setelah lembaga riset tersebut memangkas proyeksi pasar PC sepanjang tahun 2026.
Distributor Khawatir Penumpukan Stok
Research Director IDC for Consumer Devices, Jitesh Ubrani, mengungkapkan bahwa para distributor kini ragu menumpuk pasokan barang karena dibayang-bayangi kelesuan pasar.
“Saluran distribusi kini sangat khawatir menahan terlalu banyak persediaan ketika harga tinggi terus menekan permintaan konsumen,” ujar Ubrani, dikutip dari Engadget, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Ubrani, kekhawatiran distributor ini berpotensi memicu maraknya program diskon dan promo dalam jangka pendek. Meski demikian, IDC menegaskan harga PC tidak akan kembali ke level normal seperti tahun lalu dalam waktu dekat.
“Harga akan tetap tinggi. Dengan kondisi makroekonomi yang memburuk, risikonya adalah prospek beberapa kuartal ke depan akan memburuk sebelum akhirnya membaik,” jelasnya.
Situasi ini menjadi ujian berat bagi konsumen yang berencana membeli laptop, komputer meja (desktop), maupun komponen PC ritel. Kenaikan harga yang persisten dipastikan bakal membatasi daya beli, sementara ketidakpastian ekonomi global terus membayangi pemulihan pasar dalam beberapa kuartal mendatang.
Bagi konsumen, disarankan untuk memanfaatkan promo potongan harga jika memiliki kebutuhan mendesak untuk membeli perangkat baru. Namun bagi yang tidak mendesak, menunda pembelian hingga harga komponen kembali stabil bisa menjadi pilihan yang lebih bijak.
(fab/fab)
Leave a comment