
Jakarta, CNBC Indonesia – FIFA sedang menghadapi badai krisis terbesar di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Menanggapi gelombang kritik keras atas rencana penjualan saham entitas komersial Piala Dunia kepada investor swasta, FIFA menegaskan bahwa “tidak ada yang menjual sepak bola.”
Meski menuai kecaman masif, FIFA menolak menarik rencana kontroversial itu dan bersikeras melanjutkan periode konsultasi. Menurut laporan Sky Sports, krisis ini bermula ketika media Inggris, The Times dan Financial Times, membocorkan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas baru ini dirancang untuk mengelola peluang komersial Piala Dunia dengan melibatkan investor swasta.
Reaksi keras langsung datang dari benua biru. Kurang dari 48 jam setelah berita tersebut mencuat, 55 asosiasi anggota UEFA menyatakan boikot total. Mereka menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam turnamen FIFA apa pun sampai rencana tersebut dibatalkan secara permanen.
Langkah UEFA ini didukung penuh oleh CONCACAF, konfederasi yang mewakili 41 negara Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, yang menyatakan menolak keras proposal tersebut. Tanpa keterlibatan negara-negara Eropa dan Amerika Utara, janji keuntungan besar yang ditawarkan FFE dipastikan menjadi mustahil terwujud.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat pagi (31/7/2026) waktu setempat, FIFA mencoba meredakan situasi namun tetap menyalahkan pemberitaan media.
“Proses konsultasi yang telah kami rencanakan terganggu oleh pemberitaan media yang tidak akurat. Kami akan melanjutkan proses konsultasi ini untuk memastikan bahwa setiap Asosiasi Anggota (MA) memiliki kemampuan untuk menyampaikan pendapatnya berdasarkan fakta,” tulis pernyataan resmi FIFA.
FIFA berdalih bahwa FFE dibentuk semata-mata agar seluruh 211 asosiasi anggota dapat memiliki kepemilikan yang berarti atas peluang komersial sepak bola di negara masing-masing, tanpa mengorbankan semangat atau tata kelola sepak bola.
“Tidak ada yang menjual sepak bola. Ini bukanlah sesuatu yang akan pernah dipertimbangkan FIFA,” tegas lembaga yang berbasis di Zurich tersebut.
Sementara itu, Presiden FIFA Gianni Infantino dilaporkan menjadi penyokong utama rencana ini. Kelompok investor swasta yang dipimpin oleh Thrive Eternal-perusahaan yang didirikan oleh Joshua Kushner, saudara dari menantu mantan Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner-disebut-sebut bersiap mengamankan saham minoritas di entitas baru tersebut.
Selain penolakan dari federasi, penentangan juga datang dari liga-liga domestik di seluruh dunia. Mereka khawatir keterlibatan investor swasta akan mendesak FIFA menciptakan turnamen yang lebih besar dan lebih sering demi mengejar keuntungan komersial, yang pada akhirnya merusak kalender kompetisi domestik.
UEFA sendiri menyatakan sikap mereka sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
“Tidak ada tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selama proposal ini masih berlaku, kecuali proposal ini telah ditinggalkan sepenuhnya dan jaminan yang mengikat telah diberikan bahwa FIFA tidak akan pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya kepada kepemilikan swasta,” bunyi pernyataan tegas UEFA.
Pakar sepak bola dari Sky Sports News, Kaveh Solhekol, menilai pernyataan terbaru FIFA sebagai bentuk keputusasaan Infantino yang posisinya kian terpojok.
“Ini adalah pernyataan yang putus asa yang dikeluarkan di tengah malam dari markas FIFA. Menariknya, tidak ada nama Gianni Infantino di dalamnya, meski ini jelas adalah suara dari dirinya, bukan seluruh elemen FIFA,” ujar Solhekol.
Solhekol juga mengkritik hobi Infantino yang kerap menyerang media ketika kebijakannya mendapat sorotan tajam. “Dia berada dalam masalah besar dan dia harus berhenti menggali lubangnya sendiri. Laporan dari The Times dan Financial Times sangat akurat. Jika bukan karena laporan itu, publik tidak akan pernah tahu rencana ini.”
Menurutnya, ini adalah krisis terbesar yang diciptakan Infantino sendiri selama menjabat. Upaya bertahan dengan narasi “proses demokrasi dan konsultasi” dinilai tidak akan berhasil meredakan situasi.
“Satu-satunya cara dia bisa menyelamatkan dirinya adalah dengan bangun, melihat kenyataan bahwa kekuasaannya mulai melemah, dan meminta maaf secara terbuka kepada dunia sepak bola, para penggemar, serta 211 asosiasi anggota,” tutup Solhekol.
(miq/miq)
Leave a comment