
Jakarta, CNBC Indonesia – Pancatera menjadi sorotan warganet setelah sejumlah personelnya menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan di Istana Merdeka pada 17 Agustus lalu. Foto kehadiran mereka dalam acara tersebut memicu kritik hingga perdebatan mengenai konsistensi nilai yang selama ini dibawa Pancatera dan program In Her View.
Polemik bermula setelah foto para pembawa acara In Her View dalam perayaan Hari Kemerdekaan di Istana Merdeka beredar di media sosial. Dalam sejumlah foto yang menjadi sorotan, mereka terlihat menghadiri acara dan berpose bersama.
Unggahan tersebut kemudian menuai reaksi dari warganet. Kritik terutama diarahkan pada apa yang dinilai sebagai ketidaksesuaian antara kehadiran mereka di acara tersebut dengan citra Pancatera dan In Her View yang selama ini membawa narasi pemberdayaan serta menyediakan ruang bagi suara perempuan Indonesia.
Kritik Warganet Bermunculan
Salah satu pengguna Threads, @trivena****, menyoroti apa yang dinilainya sebagai kesenjangan antara citra yang dibangun Pancatera dengan realitas kehidupan sebagian besar perempuan Indonesia. Setelah melihat foto-foto tersebut, ia mengaku semakin menyadari bahwa figur-figur Pancatera tidak serta-merta dapat dianggap mewakili suara seluruh perempuan Indonesia.
Sementara itu, akun @amil*** menilai polemik ini bukan sekadar mengenai foto yang diunggah ke media sosial. Menurut ia, kehadiran dalam acara tersebut merupakan keputusan yang dibuat secara sadar.
“Karena mereka dalam kesadaran penuh berdandan, menyetujui hadir di sana, berfoto tersenyum, wow itu bukan kesalahan ga perlu minta maaf dan klarifikasi Pancatera. Itu pilihan atas nilai dan keberpihakan yang kalian yakini,” tulis akun tersebut.
“Yang mereka pilih dalam kesadaran penuh itu sudah sangat kalkulatif,” lanjutnya.
Gelombang kritik kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas. Sejumlah warganet mempertanyakan konsistensi antara nilai yang dikampanyekan Pancatera melalui ruang publiknya dan keputusan para personelnya menghadiri acara di Istana.
Kritik lainnya menyoroti identitas yang selama ini dibangun Pancatera di hadapan audiensnya. Seorang warganet menilai Pancatera telah membangun citra yang erat dengan pemberdayaan, perempuan berpendidikan, percakapan kritis, keberanian menyuarakan pendapat, serta ketegasan dalam menentukan sikap.
Menurut warganet tersebut, sebagian besar audiens Pancatera justru berasal dari kelompok perempuan kelas menengah terdidik yang mengikuti perkembangan situasi di Indonesia dan kritis terhadap pemerintah.
Kelompok tersebut, lanjutnya, merupakan perempuan yang memiliki pekerjaan, posisi, dan kesadaran sosial, tetapi tidak memiliki kekayaan yang membuat mereka terbebas dari dampak kebijakan atau tata kelola pemerintahan yang buruk.
“Masih menangis kalau ingat bayar pajak yang banyak itu,” tulis warganet tersebut di akun Threads @geha*****.
Komentar itu turut memperkuat kritik mengenai ekspektasi audiens terhadap konsistensi Pancatera. Kehadiran mereka di acara Istana dinilai sebagian warganet bukan sekadar persoalan menghadiri sebuah acara, melainkan berkaitan dengan identitas dan nilai yang selama ini dibangun di hadapan publik.
Namun, tidak semua warganet berpandangan serupa. Salah satu pengguna Threads, @ruther**, menilai kritik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin melihat perbedaan pandangan secara hitam-putih. Menurutnya, orang dengan pandangan politik berbeda tetap dapat berkolaborasi.
“Menurutku, politik yang sehat adalah politik yang sportif. Tetap bisa duduk bareng di luar diskusi, namun bisa saling tajam saat berdiskusi,” tulisnya.
Ia menilai perbedaan pandangan politik seharusnya tidak otomatis membuat seseorang tidak dapat berteman atau bekerja sama. Menurutnya, pengambilan keputusan yang menyeluruh justru membutuhkan akses dan komunikasi dengan berbagai pihak.
Pancatera Minta Maaf
Setelah polemik semakin ramai, Pancatera akhirnya buka suara. Melalui akun media sosialnya, termasuk Threads @Pancatera, kelompok tersebut menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas ViewHers dan masyarakat.
“Kami minta maaf atas tindakan kami yang keliru,” tulis Pancatera dalam pernyataannya dikutip pada Rabu (19/8/2026).
Pancatera mengakui bahwa kehadiran dan unggahan foto pembawa acara In Her View dalam perayaan Hari Kemerdekaan di Istana Merdeka telah memicu kekecewaan dan pertanyaan, baik di kalangan komunitas mereka maupun masyarakat.
Mereka bilang, telah mendengar berbagai kritik yang muncul dan menerimanya sebagai koreksi.
“Kami menerimanya sebagai koreksi dan pengingat bahwa sebagai orang-orang yang memiliki ruang publik, kami memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan dengan lebih matang setiap keputusan yang kami ambil,” tulis Pancatera.
Dalam pernyataan tersebut, Pancatera juga menegaskan In Her View dan Pancatera beroperasi secara independen serta didanai secara mandiri.
Mereka menyatakan tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah maupun lembaga politik mana pun dan menyebut independensi tetap menjadi salah satu prinsip penting mereka.
Pancatera juga menyinggung kondisi pemerintahan saat ini. Mereka mengakui masih terdapat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kami mengakui jalannya pemerintahan selama ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak saudara-saudara kita yang menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan berbagai persoalan yang tidak boleh luput dari perhatian kita bersama,” demikian pernyataan Pancatera.
Mereka kemudian berjanji menjadikan kritik yang muncul sebagai bahan evaluasi dalam menggunakan platform mereka ke depan.
“Kami belajar dari kesalahan ini dan berkomitmen untuk menggunakan platform kami dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab,” tutup Pancatera.
(hsy/hsy)
Leave a comment