Home Finance Ladang Minyak Tua Menipis, PHR Andalkan Teknologi Kejar Produksi
Finance

Ladang Minyak Tua Menipis, PHR Andalkan Teknologi Kejar Produksi

Share
Ladang Minyak Tua Menipis, PHR Andalkan Teknologi Kejar Produksi
Share


Jakarta, CNBC Indonesia- Lapangan minyak tua menjadi tantangan utama industri hulu migas Indonesia. Produksi dari reservoir yang telah beroperasi puluhan tahun akan mengalami penurunan secara alami (natural decline), sementara target peningkatan lifting nasional tetap dikejar.

Kondisi tersebut mendorong operator mengandalkan teknologi untuk mempertahankan produksi sekaligus membuka sumber pasokan baru.

Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjadi salah satu perusahaan yang menempuh pendekatan tersebut. Perusahaan mempercepat penerapan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), mengembangkan migas non-konvensional (MNK), serta memperluas digitalisasi operasi di Wilayah Kerja Rokan.

Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Direktur Utama PHR Muhamad Arifin menjelaskan upaya tersebut difokuskan untuk menjaga produksi Lapangan Rokan yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung produksi minyak nasional.




Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan, Muhamad Arifin. (CNBC Indonesia TV)Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan, Muhamad Arifin. (CNBC Indonesia TV) Foto: (CNBC Indonesia TV)

Menurut Arifin, arah pengembangan PHR bertumpu pada tiga fokus utama, yakni menjaga baseline production dari lapangan eksisting, meningkatkan perolehan minyak melalui teknologi CEOR, serta menyiapkan sumber pertumbuhan baru lewat pengembangan migas nonkonvensional.

Arifin mengatakan, strategi itu menjadi fondasi PHR dalam mendukung target ketahanan hingga swasembada energi nasional.

Fokus terbesar tetap berada di Lapangan Rokan yang sudah berproduksi puluhan tahun. Karakter lapangan tua secara alami akan mengalami penurunan laju alir minyak apabila tidak diimbangi teknologi pemulihan produksi yang lebih maju.

Karena itu, PHR mulai masuk ke fase tertiary recovery melalui penerapan CEOR.

Berbeda dengan metode produksi primer maupun sekunder seperti natural flow, pompa, atau water injection, CEOR menggunakan bahan kimia khusus untuk melepaskan minyak yang masih menempel di pori-pori batuan reservoir sehingga dapat ikut mengalir ke sumur produksi.




Pertamina Hulu RokanPertamina Hulu Rokan Foto: PHR telah melakukan injeksi Pertamina di lapangan Minas area A sejak tahun 2025 serta bertahap mengembangkan area B. Harapannya, pada 2028 – 2029, area iini dapat meningkatkan produksi minyak, khususnya melalui metode Chemical – Enhanced Oil Recovery (C-EOR).

Yang menarik, bahan kimia tersebut dikembangkan peneliti Pertamina Hulu Rokan dan telah memperoleh paten.

Teknologi tersebut mampu meningkatkan produksi minyak hingga sekitar 20% dibandingkan metode sebelumnya.

Implementasi skala industri pertama dilakukan di Area A Lapangan Minas melalui first injection pada Desember 2025.

Respons awal mulai terlihat sekitar enam bulan kemudian.

“Setelah kita injeksi pada Desember, alhamdulillah reaksi pertama dari sumur-sumur produksi mulai kita rasakan pada Juni 2026,” PHR menargetkan tambahan produksi 2.800 barel minyak per hari (BOPD) dari Area A pada akhir 2026.

Tahap berikutnya adalah pengembangan Area B. Jika berjalan sesuai rencana, injeksi pertama dari pengembangan CEOR area B akan mulai pada 2028. Peningkatan produksi CEOR diproyeksikan mampu mencapai sekitar 70.000 barel per hari pada 2030.




Peta Pembagian Wilayah Operasi PT. Pertamina Hulu RokanPeta Pembagian Wilayah Operasi PT. Pertamina Hulu Rokan Foto: PHR

 

Menyiapkan Mesin Produksi Baru

Di saat yang sama, PHR mulai membangun fondasi produksi jangka panjang melalui pengembangan migas nonkonvensional.

Arifin menjelaskan bahwa dua sumur eksplorasi pertama, yakni Gulamo dan Kelok, berhasil mencatatkan penemuan sumber daya sekitar 740 juta barel setara minyak (barrel of oil equivalent/BOE). Temuan tersebut menjadi salah satu penemuan migas nonkonvensional terbesar di Indonesia dalam sekitar satu dekade terakhir.

Tahapan berikutnya adalah pengeboran appraisal well untuk memastikan ukuran dan karakter reservoir.

PHR menargetkan pengeboran sumur appraisal pertama dapat dilakukan pada Desember 2026, setelah memperoleh persetujuan pemerintah.

Apabila hasilnya sesuai harapan, perusahaan akan melanjutkan pengeboran sekitar delapan sumur demonstrasi pada 2027.

 

Sumur demonstrasi menjadi tahap penting karena akan membuktikan efektivitas teknologi sebelum pengembangan dilakukan secara penuh.

Arifin memperkirakan lapangan MNK Rokan berpotensi menghasilkan sekitar 40.000-50.000 barel minyak per hari saat mencapai puncak produksi. Namun, tantangannya jauh lebih kompleks dibanding lapangan konvensional.

Pada reservoir konvensional, minyak relatif mudah mengalir setelah sumur dibor.

Sebaliknya, migas nonkonvensional berada di batuan berpermeabilitas sangat rendah sehingga membutuhkan pengeboran horizontal (directional drilling) dan teknologi multistage hydraulic fracturing untuk membuka jalur aliran minyak.

Menurut Arifin, Indonesia juga masih menghadapi tantangan lain berupa belum terbentuknya ekosistem industri migas nonkonvensional.

Sebagian besar teknologi, peralatan, hingga tenaga ahli masih berasal dari luar negeri. PHR saat ini bekerja sama dan mempelajari praktik dari negara yang lebih matang seperti Amerika Serikat, Kanada, dan China.

Meski demikian, tingkat TKDN operasi PHR saat ini sudah mencapai sekitar 65%. Perusahaan berharap pengembangan MNK pada akhirnya juga mampu membentuk rantai pasok nasional sehingga nilai tambah ekonomi semakin besar.




PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)  terus berupaya dalam meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) di Blok Rokan, Riau. (Dok. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR))PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus berupaya dalam meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) di Blok Rokan, Riau. (Dok. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)) Foto: PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus berupaya dalam meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) di Blok Rokan, Riau. (Dok. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR))

 

Digitalisasi Mempercepat Respons Lapangan

Transformasi lain yang dilakukan PHR berada pada sisi operasional. Sejak 2021, fasilitas WAR Room telah berkembang menjadi Digital Innovation Center (DICE). Arifin menggambarkan DICE sebagai ruang kendali yang berfungsi layaknya kokpit pesawat. Seluruh aktivitas operasi di wilayah kerja Rokan dapat dipantau dari satu lokasi, mulai dari pengeboran, produksi, distribusi, aktivitas flaring, CCTV lapangan, hingga sistem kontrol.

Digitalisasi tersebut mendukung pengawasan terhadap sekitar 44.000 pekerja yang beroperasi di wilayah kerja Rokan yang tersebar di tujuh kabupaten di Provinsi Riau.

Kecepatan respons menjadi nilai utama. Saat terjadi gangguan produksi gas, sistem DICE memungkinkan tim incident management mengambil keputusan secara real time, sehingga risiko minyak mengeras dan menyumbat jaringan pipa dapat ditekan.

Produksi dan Emisi Dikejar Bersamaan

Di luar target produksi, PHR juga memasukkan pengurangan emisi sebagai bagian dari strategi operasional. Salah satu teknologi yang digunakan adalah Vapor Recovery Unit (VRU) atau Gas Recovery Compression System.

Gas yang sebelumnya dibakar melalui proses flaring kini dikompresi kembali ke dalam sistem produksi. Gas tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai fuel gas untuk menghasilkan listrik yang digunakan dalam kegiatan operasional.

Langkah ini menjadi bagian dari target penurunan emisi karbon dioksida (CO₂) yang dijalankan Pertamina melalui implementasi aspek ESG.

 

Bagi PHR, peningkatan produksi migas, efisiensi operasi, digitalisasi, hingga pengurangan emisi bergerak dalam satu arah yang sama, yakni menjaga Lapangan Rokan tetap menjadi tulang punggung produksi minyak nasional sambil membuka ruang pertumbuhan baru melalui migas nonkonvensional.

CNBC Indonesia Research

 

(emb/emb)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *