Home Finance Lautan Jadi Medan Perang Minyak, Tanker Diburu dari Hormuz-Laut Hitam
Finance

Lautan Jadi Medan Perang Minyak, Tanker Diburu dari Hormuz-Laut Hitam

Share
Lautan Jadi Medan Perang Minyak, Tanker Diburu dari Hormuz-Laut Hitam
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia berbalik melemah setelah muncul harapan baru bagi upaya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Penurunan terjadi di tengah konflik Timur Tengah yang masih memanas dan ancaman terhadap jalur pengiriman minyak global. Namun, harga minyak masih dalam ancaman besar ke depan.

Merujuk Refinitiv, harga minyak brent ditutup di posisi US$ 96,78 per barel atau jatuh 3,88%. Pelemahan ini mengakhiri reli lima hari beruntun dengan kenaikan mencapai 19,5%.

Sementara itu, harga minyak WTI melemah 3,12% ke US$ 89,31 per barel. Pelemahan mengakhiri reli lima hari dengan lonjakan harga menembus 16,8%.


Dalam sepekan, harga minyak brent melonjak 9,9%. Artinya, harga harganya sudah naik empat pekan beruntun dengan besaran 31,3%.

Harga minyak WTI menguat 8,3% dalam sepekan. Kenaikan ini memperpanjang rekor penguatan harga dalam tiga pekan beruntun.




Pakistan dilaporkan tengah mengupayakan pembukaan kembali perundingan antara AS dan Iran. Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut inisiatif Islamabad mendapat dukungan dari China.

“China tidak senang karena serangan Iran terhadap negara-negara Teluk serta penutupan Selat Hormuz telah mengganggu kepentingannya,” ujar seorang pejabat pemerintah Pakistan kepada Reuters.

Serangan AS ke Iran Berlanjut

Meski harga minyak melemah tetapi ancaman kenaikan masih di depan mata.

Ketegangan di kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyelesaikan malam ke-13 berturut-turut operasi serangan terhadap Iran.

Serangan tersebut menyasar pusat komando militer, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, lokasi pengawasan pantai, hingga kemampuan maritim Iran.

CENTCOM menyatakan operasi itu bertujuan mengurangi ancaman Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Militer AS juga mengungkapkan lebih dari 50.000 personel kini dikerahkan di kawasan Timur Tengah.

Trump Ancam Serangan Lebih Besar

Di tengah meningkatnya konflik, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan tengah mempertimbangkan serangan militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan opsi tersebut akan menjadi serangan terbesar sejak perang pecah.

“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan dan semuanya sudah siap,” ujar Trump.

Pernyataan itu muncul setelah Trump menegaskan akan meminta Iran bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah.

Menurut Trump, Houthi merupakan kelompok proksi Iran sehingga setiap aksi mereka akan dibalas dengan hukuman militer besar terhadap Teheran maupun Houthi.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di sebuah pangkalan Amerika di Yordania.

Risiko Geopolitik Masih Tinggi

Analis Senior Capital.com Daniela Hathorn menilai gangguan yang terus terjadi di jalur pelayaran utama dunia telah kembali memunculkan premi risiko geopolitik di pasar minyak.

“Serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah memperburuk kekhawatiran terhadap perdagangan global dan keamanan energi. Ditambah ketegangan di Selat Hormuz, pasar kini meyakini risiko geopolitik belum akan mereda dalam waktu dekat, sehingga pasokan energi tetap ketat dan risiko inflasi masih tinggi,” ujarnya.

Senada, Strategis UBS Global Wealth Management Giovanni Staunovo menilai pasar terlalu optimistis terhadap pemulihan produksi minyak di Timur Tengah.

Menurutnya, proses normalisasi produksi akan berlangsung lebih lambat karena membutuhkan peningkatan arus kapal yang masuk ke kawasan.

“Dengan konflik yang kembali memanas, arus kapal masih sangat terbatas. Kondisi ini akan membuat pasar minyak tetap ketat dan menopang harga,” katanya.

Kapal Minyak Terus Diserang

Kapal-kapal tanker minyak kini semakin sering menjadi sasaran serangan di berbagai kawasan. Perang ekonomi digunakan sebagai senjata dalam konflik yang terus meningkat di Timur Tengah dan Eropa.




Serangan kapal tanker  di Selat HormuzSerangan kapal tanker di Selat Hormuz Foto: CNBC

Iran meningkatkan serangannya terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz sepanjang bulan ini sebagai upaya memperkuat kendalinya atas jalur utama pengiriman minyak dunia tersebut.

Di saat yang sama, sekutu Iran di Yaman, kelompok Houthi, membuka front baru dengan menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah setelah mengumumkan embargo maritim terhadap Riyadh.

Sementara itu, Ukraina mengklaim telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan kapal lain yang terkait dengan armada bayangan (shadow fleet) Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam, menurut laporan Kyiv Post.

Pasar minyak kini harus menghadapi perang di berbagai front sekaligus.

Lalu Lintas Kapal di Hormuz Anjlok

Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali merosot setelah sempat pulih usai penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni untuk membuka kembali selat tersebut.

“Setelah MoU itu runtuh, kita kini memasuki fase terburuk konflik ini bagi pelayaran niaga,” kata Dimitris Maniatis, CEO perusahaan jasa risiko maritim Marisks yang berbasis di Athena, Yunani, dikutip dari CNBC International.

Menurutnya, Iran ingin menunjukkan otoritas dan kendali yang lebih besar atas aktivitas di Selat Hormuz.




Jumlah kapal tanker lewati Selat HormuzJumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC

Sejak 1 Maret, sebanyak 61 kapal niaga telah diserang di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman, mengakibatkan sedikitnya 17 awak kapal tewas dan puluhan lainnya luka-luka, berdasarkan data International Maritime Organization (IMO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Khusus bulan ini, sedikitnya 12 kapal tanker terkena serangan di sekitar Selat Hormuz, menewaskan sedikitnya dua pelaut, seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Laut Merah Kini Jadi Ancaman Baru

Serangan Houthi di Laut Merah kini mengancam jutaan barel minyak per hari yang sebelumnya dialihkan Arab Saudi melalui jaringan pipa menuju pantai baratnya sebagai alternatif dari Selat Hormuz.

Ekspor minyak Saudi tersebut tetap harus melewati Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

“Iran dan Houthi kini bersama-sama memberikan pukulan besar terhadap kepentingan nasional Amerika Serikat, perusahaan minyak AS, dan tentu saja Arab Saudi. Namun mereka belum berhasil sepenuhnya menghentikan ekspor minyak,” ujar Maniatis.




Lalu lintas kapal melalui Selat Bab el-MandebLalu lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb Foto: CNBC

Serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah selama periode 2023-2025, sebagai respons atas perang Israel-Hamas di Gaza, telah memangkas drastis lalu lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb. Hingga kini, aktivitas pelayaran di jalur tersebut belum sepenuhnya pulih.

Jalur Alternatif Arab Saudi Tidak Mudah

Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, mengatakan Arab Saudi memang dapat mengalihkan sebagian ekspor minyak melalui jaringan pipa yang menghubungkan pelabuhan di Laut Merah menuju Mesir dan Laut Mediterania. Namun, proses logistiknya sangat rumit.

Menurut Smith, kapal tanker raksasa (supertanker) tidak dapat melintasi Terusan Suez dalam kondisi bermuatan penuh karena kedalaman kanal yang terbatas.

Sebagai solusi, Saudi harus membongkar sekitar setengah muatan di Pelabuhan Ain Sokhna, mengalirkannya melalui pipa ke Pelabuhan Sidi Kerir, kemudian kapal melintasi Terusan Suez dan mengambil kembali muatan minyak di sisi lainnya.

Setelah itu, kapal masih harus memutar jauh melewati Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika untuk menuju Asia, dan kembali melalui rute yang sama karena ancaman Houthi di Selat Bab el-Mandeb. Perjalanan pulang-pergi diperkirakan memakan waktu sekitar delapan minggu.

Laut Hitam Ikut Memanas

Di Laut Hitam, Caspian Pipeline Consortium (CPC) menghentikan pemuatan minyak di pelabuhan Rusia Novorossiysk setelah adanya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.




CPCCPC Foto: CNBC

Kazakhstan mengekspor sekitar 80% minyak mentahnya melalui jaringan pipa CPC. Menurut Croft, negara itu memiliki sedikit pilihan alternatif sehingga produksi sekitar 1,7 juta barel per hari pada Juni berpotensi terganggu.

Selain itu, Ukraina juga terus menggempur kilang-kilang minyak Rusia. Akibatnya, lebih dari 50% kapasitas pengolahan minyak Rusia dilaporkan tidak beroperasi.

“Rusia kini memberlakukan larangan ekspor produk minyak, sementara kilang-kilangnya mengalami kerusakan besar akibat serangan Ukraina. Padahal Rusia merupakan salah satu eksportir terbesar produk minyak, termasuk diesel. Hal ini memperketat pasokan, bukan hanya di pasar minyak mentah tetapi juga produk olahan,” kata Croft kepada CNBC

Harga Minyak Bisa Tembus Rekor Baru

Croft memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak Brent melampaui rekor pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang mencapai US$128 per barel.

Bahkan, dalam skenario terburuk apabila kawasan Timur Tengah benar-benar terjerumus ke perang skala penuh, harga Brent diperkirakan dapat melampaui rekor tertinggi sepanjang masa pada 2008, yakni US$148 per barel.

(mae/mae)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *